oleh

Kemenangan Diplomasi Iran Menggelisahkan Israel

20130218Menlu-Israel-001Satu Islam, Tel Aviv – Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman menilai, Kesepakatan nuklir yang dicapai di Jenewa antara kelompok G5+1 dengan Iran merupakan “kemenangan diplomasi terbesar” bagi Teheran. Mengutip kantor berita Antara, Minggu, 24 November 2013.

Selanjutnya menurut Antara mengutip laporan AFP “Kesepakatan ini adalah kemenangan diplomasi terbesar bagi Iran, yang saat ini telah meraih pengakuan hak yang sah untuk mengayakan uranium,” kata Lieberman dalam wawancara di sebuah stasiun radio lokal.

Pernyataan sebelumnya muncul dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menganggap pencapaian diplomasi Iran tersebut sebagai “kesepakatan buruk.”

Sebagaimana kantor Netanyahu, Menteri Ekonomi Israel Naftali Bennett mengkomentari bahwa  Israel tidak ikut serta kesepakatan nuklir di Jenewa dan menganggap hasil kesepakatan Jenewa tersebut masih menyimpan potensi ancaman bagi negaranya.

Menyikapi rekasi Israel, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mencoba meyakinkan sekutu dekatnya, bahwa tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran malah membuat posisi Israel aman dari kemungkinan potensi ancaman Iran.

“Ini adalah langkah awal yang akan membuat negara sahabat kami di Timur Tengah menjadi lebih aman. Ini akan membuat sekutu kami, Israel, lebih aman,” kata Kerry kepada para wartawan.

“Saya secara rutin berbicara dengan Netanyahu beberapa kali dalam sepekan. Saya mengabari dia mengenai persoalan ini kemarin,” kata Kerry yang menyebut Netanyahu sebagai seorang “sahabat.”

Masih menurut Kerry, perbedaan antara Amerika Serikat dan Israel mengenai program nuklir Iran hanyalah persoalan “penilaian” dan “perhitungan.”

“Tidak ada perbedaan antara kami dengan Israel karena tujuan kami sama–bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” Ujarnya.

Sebelumnya ,  Israel berulang kali mengingatkan  pencabutan sanksi ekonomi yang akan menjadi bagian dari kesepakatan di Jenewa hanya akan memberi waktu bagi Iran untuk melangkah lebih jauh dalam pengembangan persenjataan nuklirnya.

Netanyahu yang menganggap negaranya sebagai satu-satunya kekuatan di Timur Tengah, masih beranggapan penggunaan kekuatan militer atas Iran sebagai satu-satunya jawaban dalam menyikapi program nuklir Iran.

Sementara itu kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton, pemimpin kelompok G5+1 dalam perundingannya dengan Iran bisa mengerti kekhawatiran Israel.

“Kami berbicara sepanjang waktu dengan Israel. Mereka adalah negara penting yang pendapatnya penting bagi kami. Kami harus berusaha melindungi keamanan rakyat Israel di Timur Tengah,” kata Ashton kepada AFP.

Iran sendiri berulang kali meyakinkan barat bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan menolak tuduhan Barat pengayaan uraniumnya ditujukan untuk penggunaan senjata atom, kini Amerika Serikat (AS) menilai kesepakatan Jenewa sebagai  pembuktian Iran atas tuduhan Barat.

“Adalah hal yang mudah untuk mengikuti apa yang sudah dilakukan negara lain yang juga melakukan pengayaan uranium. Iran hanya tinggal membuktikannya,” kata Kerry.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed