oleh

Kalkulasi Perang Iran VS Amerika Serikat

Insiden jatuhnya pesawat nirawak Amerika Serikat akibat ditembak sistem pertahanan anti-serangan udara Iran pekan lalu memicu serangkaian ketegangan baru antara Negeri Paman Sam dengan Negeri Mullah.

“Iran membuat kesalahan besar!” tulis Trump dalam kicauan di Twitternya.

AS sempat bereaksi dengan berencana melancarkan serangan udara tapi tiba-tiba serangan itu dibatalkan di detik-detik terakhir dengan alasan yang belum jelas.

Sejumlah pengamat politik menilai Trump bisa memanfaatkan konflik ini untuk mengalihkan isu dari permasalahan di dalam negeri. Dikutip dari laman Newsweek, seandainya AS berperang melawan Iran, siapa yang akan menang?

Personel dan Anggaran Militer

Militer AS memang lebih unggul ketimbang Iran, terlebih lagi dari persenjataan nuklir. Tapi tak ada perang yang ditentukan di atas kertas.

Amerika bisa menghancurkan Taliban Afghanistan dan menyingkirkan Saddam Hussein dari kekuasannya dalam hitungan beberapa pekan. Tapi bagaimana dengan Iran?

Dari segi jumlah populasi, Iran hanya memiliki 80 juta penduduk dibanding AS yang mencapai 325 juta. Itu membuat AS lebih unggul dari jumlah sumber daya manusia dan produk domestik dibanding Iran.

Angkatan bersenjata AS memiliki sekitar 1,3 juta personel aktif sedangkan Iran hanya 550 ribu. Dengan pasukan cadangan, AS memiliki 2 juta personel sedangkan Iran tidak sampai 1 juta. Tentara AS juga lebih terlatih dan memiliki persenjataan lengkap ketimbang Iran.

Negeri Paman Sam juga memiliki anggaran militer terbesar di dunia. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, AS punya anggaran militer mencapai USD 610 miliar tahun 2017, lebih besar ketimbang China, Rusia, Arab Saudi, India, Prancis, dan Inggris jika digabung. Iran hanya memiliki anggaran sekitar USD 14,5 miliar untuk pertahanan.

Angkatan Udara

Di udara, AS masih belum tertandingi negara mana pun di dunia. Dengan jet tempur berjumlah 13.000 di semua angkatan bersenjata, AS jauh melampaui Iran yang cuma punya 550 jet. meski sebagian besar hanya bersifat penunjang, namun AS punya peralatan tempur udara tercanggih di muka bumi, sedangkan Iran masih mengandalkan persenjataan bekas Perang Dingin.

Saat ini jet tempur paling anyar AS adalah F-35 Lighning II buatan Lockheed Martin yang punya kemampuan siluman. Saat ini ada sekitar 50 jet tempuar ini di semua lini angkatan bersenjata dan 1000 lagi masih dalam pesanan. Sedangkan Iran masih mengandalkan MiG-29 buatan Rusia dan bekas pesawat tempur AS di masa Shah, seperti F-14.

Angkatan Laut

Di lautan, pasukan AS juga masih unggul. AS memiliki 282 kapal perang, termasuk 11 di antaranya bertenaga nuklir. Sedangkan Iran memiliki 200 kapal patroli dan 50 kapal perang.

Satu lagi yang masih menjadi kompetisi antara Washington dan Teheran adalah energi nuklir. Iran masih merupakan negara yang berkemampuan membuat senjata nuklir. Amerika saat ini memiliki sekitar 6.500 hulu ledak nuklir.

Tapi di perang sesungguhnya semua teknologi canggih itu masih bergantung pada kondisi di lapangan. Iran tidak punya peluang untuk melancarkan perang konvensional melawan AS. Teheran bukanlah ancaman dari segi militer bagi AS. Iran lebih cenderung mengandalkan operasi rahasia misalnya serangan siber menyasar target AS atau sekutu AS di Timur Tengah.

Angkatan Darat

Angkatan perang AS juga mempunyai peralatan paling canggih di dunia sedangkan militer Iran perlengkapannya sudah banyak usang. Iran mempunyai 1.650 tank sedangkan AS 5000 tank. Meski tidak diketahui berapa yang siap perang tapi AS tetap unggul dari segi jumlah.

Persenjataan Iran juga tergolong jenis kelas dua, tank bekas era Perang Dingin, dan bukan tandingan bagi tank Abram AS. Iran dikatakan sedang mengembangkan tank Karrar jenis baru yang disebut-sebut tank paling cangggih di dunia. Tapi para ahli masih meragukan senjata yang dimiliki tank itu.

Soft Power

Menurut pakar Hubungan Internasional Dina Sulaeman, Iran memiliki soft power yang tidak dimiliki oleh negara manapun.  Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft powerHard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara.

Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst.

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive(bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran. Bisa diperhatikan di gambar ini. Daerah berwarna ungu adalah kawasan di mana ada pangkalan militer AS.

Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power.

Apa itu soft power? Secara ringkas bisa dikatakan bahwa subtansi soft poweradalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan. Karena itulah, menurut Mohammadi, dalam soft power, mentalitas menjadi kekuatan utama dan investasi terbesar yang dibangun Iran adalah membangun mental ini, bukan membangun kekuatan militer. Pemerintah Iran berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai bersama, antara lain nilai tentang kesediaan untuk berkorban dan bekerja sama dalam mencapai kepentingan nasional.

Mohammadi mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran,tiga diantaranya adalah sebagai berikut

1. Rahmat Tuhan.

Faktor Tuhan memang jarang disebut-sebut dalam analisis politik. Tapi, kenyataannya, memang inilah yang diyakini oleh rakyat Iran, dan inilah sumber kekuatan mereka. Menurut Mohammadi, bangsa Iran percaya bahwa orang yang berjuang melawan penentang Tuhan, pastilah dibantu oleh Tuhan. Dengan kalimat yang indah, Mohammadi mendefinisikan keyakinan ini sebagai berikut, “Kenyataannya, mereka [yang berjuang di jalan Allah] bagaikan tetesan air yang bergabung dengan lautan luas, lalu menghilang dan menyatu dalam lautan, kemudian menjelma menjadi kekuatan yang tak terbatas.”

Keyakinan ini semakin kuat setelah bangsa Iran pasca Revolusi terbukti berkali-kali meraih kemenangan dalam melawan berbagai serangan dari pihak musuh, mulai dari invasi Irak (yang didukung penuh oleh AS, Eropa, Arab, dan Soviet), hingga berbagai aksi terorisme (pengeboman pusat-pusat ziarah, pemerintahan, dan aparat negara). Salah satu kejadian yang dicatat dalam sejarah Iran adalah kegagalan operasi rahasia Angkatan Udara AS untuk memasuki Teheran. Pada tahun 1980, Presiden AS Jimmy Carter mengirimkan delapan helicopter dalam Operasi Eagle Claw. Misinya adalah menyelamatkan 52 warga AS yang disandera para mahasiswa Iran di Teheran. Operasi itu gagal ‘hanya’ karena angin topan menyerbu kawasan Tabas, gurun tempat helikopter itu ‘bersembunyi’ sebelum meluncur ke Teheran. Angin topan dan pasir membuat helikopter itu saling bertabrakan dan rusak parah. Mengomentari kejadian ini, Imam Khomeini mengatakan, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan’ Allah dalam operasi ini.”

2.  Kepemimpinan dan Otoritas

Peran kepemimpinan dan komando adalah faktor yang sangat penting dalam situasi konflik, baik itu militer, politik, atau budaya. Pemimpinlah yang menjadi penunjuk arah dalam setiap gerakan perjuangan. Dialah yang menyusun rencana dan strategi untuk berhadapan dengan musuh. Menurut Mohammadi, hubungan yang erat dan solid antara pemimpin dengan rakyatnya adalah sumber power yang sangat penting. Di Iran, karena yang menjadi pemimpin adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan soft power Iran. Dalam kalimat Mohammadi, “[it] is a source of power per se, that assures the friends and frightens the foes.”

 3. Mengubah Ancaman Menjadi Kesempatan

Revolusi Islam Iran telah menggulingkan Shah Pahlevi yang didukung penuh oleh Barat. Pra-revolusi Islam, Barat sangat mendominasi Iran, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun budaya. Kepentingan Barat di Iran terancam oleh naiknya seorang ulama yang menyuarakan independensi dan sikap anti kapitalisme-liberalisme, yaitu Imam Khomeini. Karena itulah, Barat dengan berbagai cara berusaha menggulingkan pemerintahan Islam, antara lain dengan memback-up Saddam Husein untuk memerangi Iran. Saddam yang sesumbar bisa menduduki Teheran hanya dalam sepekan, ternyata setelah berperang selama 8 tahun tetap tidak mampu mengalahkan Iran. AS dan Eropa kemudian menerapkan berbagai sanksi dan embargo; berusaha meminggirkan Iran dalam pergaulan internasional, mempropagandakan citra buruk terhadap pemerintahan Islam, dll.

Karena didasari oleh dua faktor sebelumnya (keyakinan pada rahmat Tuhan dan faktor kepemimpinan relijius), bangsa Iran mampu bertahan hidup dalam situasi yang sulit dan berjuang untuk mengubah tekanan dan ancaman ini menjadi kesempatan untuk maju dan berdikari. Contoh mutakhirnya adalah, ketika akhir-akhir ini semakin marak pembunuhan terhadap pakar nuklir Iran yang didalangi oleh agen-agen rahasia asing; jumlah pendaftar kuliah di jurusan teknik nuklir justru semakin meningkat. Inilah jenis mental yang berhasil dibangun oleh pemerintah Iran selama 34 tahun terakhir:  semakin ditekan, semakin kuat semangat perjuangan mereka.

Dalam pidato terbarunya di Teheran, pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, menyinggung masalah ini. Beliau mengatakan, “Ketika kita diembargo, kemampuan kita justru semakin meningkat, potensi kita justru semakin terasah, kita tumbuh dari dalam. Jika kita tidak diembargo senjata, hari ini kita tidak akan mencapai kemajuan yang mengagumkan. Jika kita tidak diembargo dalam pengembangan nuklir –padahal reaktor nuklir Bushehr itu mereka [Barat] yang membangunnya—hari ini kita tidak memiliki kemampuan dalam pengayaan uranium,. Jika mereka tidak menutup pintu-pintu ilmu dari kita, hari ini kita tidak akan mampu menciptakan stem cell, menguasai ilmu antariksa dan mengirim satelit ke angkasa luar. Karena itu, semakin mereka mengembargo kita, semakin besar kita mampu menggali kemampuan dan potensi kita sendiri. Dan semakin hari, potensi kita itu akan semaki mekar berkembang. Karena itulah, embargo sesungguhnya bermanfaat bagi kita.”

Merdeka/icmes

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed