oleh

Kadang Musibah itu Karunia

Hampir setiap hari saya menerima email, message ke inbox FB dan kadang SMS yang berisikan pertanyaan dan konsultasi. Semuanya melukiskan kesedihan yang mendalam.

Terlepas dari semua itu, kita perlu merenungkan hal-hal sebagai berikut:

1. Musibah apapun, termasuk dalam rumahtangga, selama tidak diakibatkan oleh kesalahan dan kecerobohan kita, bukanlah sesuatu yang perlu disesali dan diratapi. Menyesali musibah menjadi wajib apabila terjadi karena kesalahan kita. Bila kita yakin bahwa kita tidak menjadi sebab atau menjadi bagian dalam musibah itu, maka yang bisa kita lakukan hanyalah menyerahkannya kepada Allah, Pemilik Sejati seluruh jagad, termasuk diri kita, keluarga dan anak-anak kita. Apapun yang kita miliki di dunia ini tidak lain kecuali “sewa lama” yang mesti dikembalikan kepada pemiliknya. Karena itu, setiap kali mengalami musibah, kita dianjurkan untuk merefresh kesadaran kontrak pemakaian kita terhadap segala sarana duniawi, dengan berucap “Inna lilla wa inna ilaihi rajiun” Kita adalah properti-Nya, Dilah Sumber dan Muara kita.

Bila musibah yang membuat kita gelisah itu bersumber dari sebuah kesalahan kita, maka cara terbaik adalah bertaubat dan segera menghentikannya tanpa menundanya sedetikpun.

2. Kita juga mesti menyadari bahwa seberat apapun musibah yang menimpa kita, maka pasti ada orang lain yang mengalami musibah yang kalau tidak lebih berat, sama bobotnya dengan yang kita alami. Karena itu, dalam pandangan dunia Tauhid, kita diajarkan untuk melihat segala fenomena secara holistik, tidak kasuistik dan terpenggal, termasuk musibah yang kita alami. Tuhan, sebagai Sutradara Tunggal, pasti memberikan jalan keluar. Ada kalanya jalan keluar yang mesti kita pilih adalah meninggalkan, mengabaikan dan bahkan membiarkannya. Mengabaikan masalah kadang dapat dianggap sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah.

3. Musibah yang membuat kita sedih dan gelisah tidak melulu buruk dan merugikan yang mengalaminya. Ada kalanya musibah adalah cara Tuhan menegur kita agar lebih waspada mengambil langkah ke depan. Kita kadang tidak cukup bisa disadarkan dengan teguran, sindiran dan nasihat. Nah, musibah yang menimpa kita bisa menjadi penasihat dan penyadar akan kesalahan dan kecerobohan kita termasuk dalam menyikapi persoalan rumahtangga, pergaulan dan lainnya.

Semoga kita dihindarkan dari musibah dunia yang menjadi mukadimah bagi musibah abadi di Akhirat. Semoga syafaat Nabi dan para Imam menghampiri kita kelak, amin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed