oleh

Jobs, Sampah, dan Puasa

melbourneuniversity
Dok : studyihub

 

Satu Islam – Apa yang bisa dipelajari seorang anak dari alam sekitar, ataupun lingkungan sekolahnya yang baru di Australia? Berikut pengalaman dosen UGM Yogyakarta Wawan Mas’udi yang sedang melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Victoria di Melbourne.

Sore itu, gadis kecil kami pulang sekolah dengan ceria, bercerita gembira tentang waktunya di sekolah. Sesampai di rumah, tas dia buka dan mengeluarkan buku kecil berjudul Jobs. Lembar-lembar yang berisi gambar dan sepotong dua potong kalimat pendek dia buka, dan dieja dengan terbata. Tentang sopir truk sampah, kondektur bis perempuan, pengantar susu, guru, dokter, dan tentang penjaga binatang. Itulah kira-kira isinya.

Ia membaca sambil mengeja. Saya tahu, ia sedang menanam kesadaran bahwa bahwa sopir truk sampah sangat baik hati, sama seperti kondektur bis, pengantar susu, guru, dokter, dan seterusnya. Mereka ia anggap baik hati, karena membantu sesama dengan masing-masing pekerjaannya. Sebuah bahan bacaan yang luar biasa, karena mengajak memahami pentingnya menghargai seseorang bukan semata karena status pekerjaannya, tetapi karena fungsi pekerjaan yang bermanfaat bagi sesama.

garbage truck
ong sampah dan truk sampah merupakan pemandangan umum di Australia. (Foto: ABC)

 

Di sore yang lain, sambil membaca gadis kecil kami bertanya tentang buku bergambar warna-warni kotak sampah, dan warna-warni kantong plastik untuk membuang sampah. Bertanya pula ia tentang mengapa di buku itu ada pantai yang penuh plastik dan kaleng bekas, serta ikan yang mati di sela-selanya. Pertanyaan-pertanyaan lugu ala anak kecil yang mulai menyerap tentang apa yang harus dilakukan untuk merawat dan memperlakukan lingkungan hidup kita.

Saya menduga, dengan mencermati gambar dan kalimat pendek tentang warna-warni kotak sampah, ia tampak sedang berpikir bahwa apa yang dibuang hendaknya dipisahkan. Dengan melihat gambar dan kalimat pendek tentang pantai yang kotor serta ikan yang mati, ia sedang menyerap bahwa jika membuang sampah seenaknya maka lingkungan kita akan rusak dan tidak lagi nyaman untuk ditempati.

Sebuah keajaiban dari bahan bacaan yang disediakan. Bukan sekedar berfungsi untuk menguji apakah si anak ‘sudah bisa’ membaca atau ‘belum’, tetapi yang lebih penting adalah menyerap apa yang sedang dibaca baik dari gambar maupun tulisan. Membaca adalah membuka pengetahuan, sekaligus menanamkan budaya atau adab kita memperlakukan bumi yang sudah menua ini.

Tidak terduga, di hari yang lain gadis kecil kami membawa buku tentang bulan Ramadhan. Bulan suci umat Islam yang begitu jauh dari adat kebiasaan dan di luar struktur pengetahuan masyarakat bukan pemeluk Islam di mana kami saat ini tinggal. Tentu saja buku itu tidak dikhususkan untuk anak kami yang Muslim, namun untuk semua anak di sekolah yang latar belakang keluarga dan peradabannya sangat beragam.

index
Suasana Ramadan di Australia. (Foto: ABC)

 

Seperti biasa, dengan antusias ia membaca dan mengamati gambar-gambarnya, sambil sesekali bertanya dan mengingat-ingat apa yang kami lakukan saat Ramadhan yang lalu. Ia begitu senang, bukan hanya karena ada buku tentang sesuatu yang ia alami. Saya meyakini hal itu karena teman-temannya yang secara umum bukan dari keluarga Islam juga sudah membaca buku tentang Ramadhan itu.

Setelah membaca, ia bertanya kapan akan puasa lagi. Sebuah pertanyaan yang menyiratkan kepercayaan diri dan kebanggaannya sebagai Muslim. Selain itu, saya sendiri juga sedang mengagumi, betapa sekolah menjadi lembaga yang sangat menentukan dalam membentuk watak menghargai perbedaan.

Menghargai perbedaan hanya bisa dilakukan ketika kita mengetahui dan memahami apa yang dilakukan oleh orang lain. Sebuah pesan pluralitas yang tidak berarti harus kehilangan dan menghilangkan identitas kita. Buku, sekali lagi menjadi instrumen sangat penting untuk mengenalkan si anak atas identitas dan perbedaan identitas.

Buku adalah gudang pengetahuan dan peradaban; membaca adalah kunci pembuka gerbangnya. Kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh seberapa luas penguasaannya atas pengetahuan, seberapa besar pemahamannya atas keberagaman peradaban. Untuk mencapai jalur kemajuan tersebut, derajat kemampuan membaca penduduknya adalah keniscayaan, sementara seberapa luas dan beragam bahan bacaan menjadi prasyarat lanjutan.

Kita, bangsa Indonesia, patut berbangga mengingat statistik ‘bisa membaca’ yang sangat tinggi, dan bahkan saya bisa berspekulasi hampir seluruh generasi anak-anak dan muda bangsa ini sudah mengenal huruf. Kunci untuk membuka gudang pengetahuan dan peradaban, dengan kata lain, sudah dipegang oleh bangsa ini, sudah dimiliki oleh generasi-generasi baru Indonesia. Anak-anak kita yang sedang di usia sekolah (SD/SMP/SMA) adalah generasi yang sedang berada di usia emasnya untuk berpetualang dalam maha luasnya pengetahuan dan peradaban.

Menguntai tiga kisah pendek di atas, kemampuan membaca bukan sekadar kita ukur dengan kelancaran dan kepandaian mengeja rangkaian kata dan kalimat. Membaca adalah instrumen untuk berproses menjadi sebuah bangsa yang berpengetahuan dan berperadaban.

index1
Membaca adalah kunci pembuka gudang pengetahuan. (Foto: ABC)

 

Anak-anak adalah usia emas dimana proses awal berpengetahuan dan berperadaban tersebut sedang dimulai, sedang membentuk fondasinya. Jika bahan bacaan yang tersedia dan kita sediakan untuk mereka adalah cerminan atas ‘gudang-gudang pengetahuan dan peradaban kemanusiaan yang tinggi’, niscaya generasi bangsa kita akan memiliki pikiran terbuka dan siap menjadi warga dunia, sekaligus beridentitas kuat sebagai bangsa Indonesia.

Namun, jika ‘gudang-gudang’ bacaan yang dihadirkan oleh sekolah-sekolah kita begitu kering, niscaya bangsa kita terancam kehilangan generasi emasnya. Membayangkan sekolah tanpa perpustakaan yang baik, buku sekolah dan bahan bacaan yang ‘kering’ pesan peradaban, dan budaya melihat/menonton yang meninabobokan, memang senantiasa membangkitkan sentimen prihatin dan kesedihan.

Namun, di dalam batas dan jangkauan tangan kita; baik sebagai pejabat pemerintah yang memegang anggaran, guru, tokoh masyarakat, dan sebagai orang tua, semestinya tetap ada optimisme untuk menghadirkan buku dan bahan bacaan yang menjadi cerminan luasnya pengetahuan dan peradaban. Membangun budaya membaca dalam makna seperti tersirat dalam tulisan pendek ini, kiranya perlu menjadi semangat baru bangsa Indonesia.

Pertanyaannya, seberapa kaya gudang pengetahuan dan keberagaman peradaban yang sudah disediakan oleh pemerintah kita, oleh sistem pendidikan, oleh sekolah, dan oleh kita sebagai orang tua untuk menyambut kehausan pengetahuan mereka? Singkatnya, buku dan bahan bacaan seperti apa yang kita siapkan untuk memenuhi dahaga mereka? Kisah ringkas tentang tiga buah buku di atas mungkin dapat memberikan sedikit inspirasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. (Radio Australia)

* Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan sebelumnya pernah dimuat di situs Indonesia Belajar. (http://www.indonesia-belajar.org). Wawan Mas’udi adalah Dosen Jurusan Fisipol UGM Yogyakarta, ayah dari dua putri, sekarang sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Victoria di Melbourne.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed