oleh

Jihad dan Terorisme dalam Perspektif Islam

Oleh: Kiai Maman Imanulhaq

1374028175
Kiai Maman Imanulhaq, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka Dok : Berita Satu

Satu Islam – Aksis teror di dunia terus terjadi. Kesadaran baru muncul, bahwa melawan terorisme seharusnya tidak semata menggunakan kekuatan militer, tetapi sebaiknya juga menggunakan soft power atau the war of idea. Selama ini perang melawan terorisme, di satu sisi memunculkan harapan akan terwujudnya kehidupan yang damai tanpa kekerasan yang menciptakan ketakutan, kesengsaraan, dan kehancuran. Tetapi, di sisi lain juga bisa memunculkan potensi kecurigaan antara komunitas yang berbeda. Bahkan, tidak mustahil bisa menjadi embrio bagi terjadinya benturan antar peradaban (the clash of civilization).

Terorisme berawal dari sebuah pemahaman yang “salah” tentang “Jihad”. Jihad yang seharusnya diartikan sebagai “pentingnya kesungguhan dan kesabaran” lalu berubah menjadi paham ideologis yang melahirkan sikap puritan. Sikap puritan yang dimaksud, setidaknya mempunyai empat ciri. Pertama, tidak toleran terhadap perbedaan. Kedua, cenderung berpikir literalis dan mengabaikan aspek lokal dan sejarah. Ketiga, memilih jalan kekerasan dan kebencian, daripada dialog dan persaudaraan. Empat, bersikap picik dan eksklusif dan melakukan sesuatu tanpa tujuan dan misi yang jelas. Puritanisme secara perlahan tapi pasti akan menumbuhkan radikalisme yang pada akhirnya memunculkan terorisme.

Kezaliman global, kesenjangan sosial berupa kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan, serta penafsiran teks agama yang kurang tepat menjadi cikal bakal munculnya terorisme. Perbedaan cara pandang terhadap teks suci memunculkan sikap eksklusif dan perilaku destruktif serta melahirkan klaim kebenaran (truth claim) yang keras, tertutup, dan dogmatis.

Sebuah komunitas pun lalu cenderung membenarkan secara mutlak apa yang diyakininya, baik secara pragmatis maupun ideologis (agamis), serta mudah menyalahkan dan menghujat komunitas lain yang berbeda pemahaman. Setidaknya, ada tiga rencana kerja dan target yang ingin dicapai oleh para teroris. Pertama, memunculkan pertentangan dan radikalisme di tengah masyarakat. Kedua, menunjukkan kelemahan pemerintahan, mempermalukan alat-alat negara, serta memancing aparat untuk bertindak represif. Ketiga, merebut perhatian publik lewat media massa.

Etika Berperang.

Islam adalah agama yang mengajak umat manusia untuk memperjuangkan keadilan, kesetaraan, kebebasan yang bertanggung jawab, kemaslahatan sosial, dan kerahmatan global. Untuk itu, dalam Islam, konsep jihad sebaiknya dimaknai secara benar dan proporsional.

Jihad, mengacu pada asal katanya juhd dan jahd, berarti kesungguhan untuk mengatasi kesulitan. Jadi, jihad tidak selalu identik dengan perang dan kekerasan, melainkan terutama berjuang mewujudkan kehidupan yang semakin baik dan manusiawi, dengan cara-cara yang damai dan bijak. Jihad bisa dimaknai sebagai perang dan pembunuhan, hanya dalam konteks tiga hal. Pertama, bertemunya dua pasukan saat berperang. Kedua, negara diduduki musuh. Ketiga, imam (presiden) memerintahkan perang.

Perang pun tidak boleh dilakukan secara brutal dan sembarangan. Ada beberapa etika berperang dalam Islam. Pertama, tidak boleh membunuh warga sipil. Kedua, tidak boleh membunuh perempuan, anak-anak, dan orangtua renta. Ketiga, tidak boleh menghancurkan rumah ibadah. Keempat, tidak boleh merusak ekosistem alam seperti tumbuhan, air, dan semacamnya. Kelima, tidak boleh merusak fasilitas umum, seperti rumah sakit, stasiun, dan lain-lain.(Berita Satu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed