oleh

Jejak Pengelana Unta di Australia, dari Kereta hingga Masjid

2355100-3x2-940x627
Kereta Ghan dengan simbol pengelana menunggang unta (Foto: ABC, Anna Sleath)

 

Satu Islam, Adelaide – Kalau Anda berkunjung ke Adelaide, mungkin bisa mencoba naik kereta Ghan. Kereta ini akan membawa Anda dari Australia Selatan ke Kawasan Utara, tepatnya kota Darwin dengan melintasi gurun dan Alice Spring di bagian tengah Australia. Tapi, biayanya cukup mahal juga.

Great Southern Rail, sekitar 5 menit dari bandara udara Adelaide menjadi rumah dari pelayanan kereta api yang menghubungan kota-kota besar di Australia.

Salah satunya adalah The Ghan yang menghubungkan Adelaide di bagian selatan dan Darwin di ujung utara. Nama Ghan diambil dari dari kata ‘The Afghans’, para pengelana unta yang datang ke Australia di tahun 1860-an.

Kedatangan mereka dimaksudkan untuk membantu pemerintahan saat itu untuk menjelajahi benua Australia yang tidak bisa dilakukan dengan kuda. Di tahun 1858, kehadiran para pengelana unta ini disebut sebagai ‘solusi bagi permasalahan’.

“Saya putus asa dengan apa yang bisa dilakukan kuda, kemudian berpikir kita tidak pernah mencoba unta sebelumnya. Di kawasan Afrika, unta bisa membawa air dan menjadi metode yang terbaik untuk kawasan gurun,” ucap Richard MacDonell, Gubernur Australia Selatan di tahun 1899.

map ghan
Jalur yang dilalui oleh kereta Ghan (Foto: Lindy Brodie, Radio National)

 

Kereta ini mengambil jalur Adelaide, melewati Alice Spring dan Ali Curung di kawasan tengah Australia, dan menuju Darwin di sebelah utara Australia.

Perjalanan ini menempuh waktu sekitar tiga hari, dua malam, dengan total jarak tempuh mencapai 2.900 kilometer.

Tapi tentu saja, sejumlah fasilitas telah disiapkan bagi penumpang sehingga mereka bisa menikmati perjalanan mereka.

r1107065_13419065
r1107065_13419065 Suasana di salah satu gerbong kereta Ghan dimana penumpang bisa bersantai (Foto: ABC, Clare Rawlinson)

Ada beberapa jenis gerbong dalam kereta ini, mulai dari gerbong untuk tidur, gerbong khusus restoran, dan di kelas premium disiapkan gerbong khusus untuk bersantai.

Tapi untuk bisa mendapatkan kemewahan ini, tidak sedikit uang yang perlu disiapkan oleh para penumpang.

Untuk sekali jalan dari Adelaide ke Darwin, atau sebaliknya bisa mencapai 20 juta rupiah dan bahkan 35 juta rupiah untuk kelas premium.

“Perjalanan yang sangat mahal, tapi ini sudah menjadi salah satu yang saya lakukan sebelum saya mati (bucket list). Memang membutuhkan waktu untuk bisa menabung hingga puluhan dolar,” ujar Sue Lawless, salah satu warga Adelaide.

Penyebaran Islam oleh pengelana unta

Para pengelana unta di Australia di masa lampau tidak hanya dianggap telah berjasa membantu membuka jalan di gurun-gurun pasir di kawasan Australia.

r1137542_14074668
Masjid Adelaide, dibangun tahun 1888 (Foto: Perpustakaan Negara Bagian Australia Selatan)

Kedatangan mereka pun telah membawa ajaran Islam. Hal ini terlihat dari berdirinya sejumlah masjid-masjid kuno di Australia.

“Saat itu, kemana pun mereka pergi, mereka mendirikan tempat untuk shalat atau masjid. Ada masjid di Adelaide dan juga di Alice Spring,” ujar Farid Ismail, Wakil Presiden Adelaide mosque Islamic Society of South Australia.

“Masjid yang berada di pusat kota Adelaide ini adalah salah satu masjid pertama yang masih bertahan di Australia, yang didirikan para pengelana unta,” tambah Ismail, yang juga menjadi salah satu pengawas peredaran daging halal di Australia.

Masjid ini dibangun pada tahun 1888 dan keempat menaranya selesai dibandung pada tahun 1903.

Areanya terus diperluas pada tahun 1980, sebelum akhirnya memiliki bentuk seperti sekarang ini.

“Meskipun ini adalah masjid tertua di Australia, tapi masih berfungsi dengan baik,” jelas Ismail. “Tidak hanya mengakomodir shalat Jum’at saja, kami pun punya program-program khusus di bulan Ramadan, juga di akhir pekan dengan menggelar kelas pengajian dan kajian Islam.”

Menurut Ismail juga, lokasinya yang berada di pusat kota telah menjadikannya sebagai pusat bertemunya umat Muslim dari berbagai komunitas, mulai dari warga Timur Tengah, Afrika, hingga Asia, termasuk Indonesia.

r1137623_14076069
Masjid Adelaide berada di Kalan Little Gilbert, pusat kota Adelaide (Foto: ABC, Brett Williamson)

“Tapi kami pun sangat terbuka bagi siapapun yang ingin belajar soal Islam. Tahun ini pun kami akan berpartisipasi dalam program Open House Adelaide,” tambahnya.

Open House Adelaide adalah program pemerintah kota Adelaide yang memberikan kesempatan bagi seluruh warga Adelaide untuk bisa memasuki sejumlah gedung-gedung tua dan memperlajari sejarahnya.

Kalau Anda berkesempatan mengunjungi Adelaide dan kawasan Australia Selatan, jangan lupa untuk menemukan jejak-jejak para pengelana unta untuk mendapatkan pengalaman yang seru. (Tribun News)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed