oleh

Jauhi Ujaran Kebencian di Medsos

 

Kapolres saat menjadi pembicara dalam sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banjarnegara Tahun 2017 . – Foto: GATRAnews

Satu Islam, Banjarnegara – Perselisihan yang akhirnya berujung pada konflik individu maupun kelompok, kerapkali terjadi lantaran ujaran kebencian. Seringkali,  ujaran kebencian dianggap efektif menggunakan media sosial yang kini banyak digunakan oleh remaja.

Demikian disampaikan Kapolres Banjarnegara, AKBP Nona Pricila Ohei saat menjadi pembicara dalam kegiatan sosialisasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banjarnegara Tahun 2017. Acara yang diinisiasi FKUB Banjarnegara ini untuk mendukung kemajuan daerah. Kegiatan ini diikuti oleh para pelajar SLTA, ibu PKK dan lintas unsur masyarakat.

“Pada zaman ini, media sosial berkembang dengan pesat. Bijaklah dalam memanfaatkan media sosial. Jangan sampai posting ataupun berkomentar di media sosial yang mengarah pada SARA. Karena pintar saja tidak cukup jika tidak disertai dengan akhlak yang baik. Hal itu pula yang perlu bapak-ibu tanamkan kepada anak sejak dini yaitu akhlak yang baik,” ujarnya, melalui keterangan tertulis yang diterima Jumat pagi 28 Juli 2017 sebagaimana diwartakan GATRA.

Penggunaan media sosial yang bijak, lanjut  Nona, bisa menjaga Indonesia dari bahaya intoleransi, radikalisme dan konflik antar golongan. Apalagi, saat ini banyak beredar informasi tak benar (hoax) yang beredar di media sosial.

Nona menyatakan bahwa kerukunan umat beragama bisa ditanamkan dengan tiga pondasi yang meliputi kerukunan inter umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Dia juga mengajak para peserta untuk bersama-sama menjaga kerukunan umat beragama di Banjarnegara.

“Dalam menjaga kerukunan umat beragama, marilah kita redam ego di dalam diri, stop bicara yang mengandung adu domba, penistaan dan peperangan pendapat serta tumbuh kembangkan sikap toleransi antar umat beragama dan tanamkan kepada generasi muda tentang konsep peace education atau pendidikan perdamaian,” jelasnya.

Ditegaskan oleh Nona, beragamnya Indonesia mulai dari adat, budaya, bahasa hingga agama telah diatur oleh Undang-undang Dasar. Konstitusi menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

“Dalam beragama telah diatur dalam Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Bahwa dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa warga Negara Indonesia berhak menganut agamanya masing-masing sesuai kepercayaannya,” jelas dia.

Nona juga mengajak agar peserta sosialisasi untuk mewaspadai paham yang tidak menganut pancasila. Sebab, pancasila mampu menyatukan satu sama lain melalui semboyan bhinneka tunggal ika.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed