oleh

Isu Teror Kiai di Kediri Ternyata Karangan Tamu Pondok

Riyantono Gempol Meminta maaf – Foto: Detikcom

Satu Islam, Kediri – SIsu laki-laki yang bernama Aziz yang mengancam kiai dan masayikh Pondok Pesantren Al-falah Desa Ploso, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri mendapatkan titik terang. Simpang-siur mengenai pengancam yang diduga gila juga terkuak.

Nyatanya kabar teror yang menyita perhatian masyarakat itu hoax alias kabar bohong belaka. Abdul Aziz yang dituduh pelaku sebenarnya justru korban salah tangkap. Bahkan, menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Kediri Ajun Komisaris Besar Anthon Haryadi sebagaimana diwartakan Tempo, itu hanyalah karangan belaka.

Saksi pelapor peristiwa itu mengaku mengarang cerita soal ancaman terhadap kiai di pondok itu. “Saksi pelapor sudah mengakui mengarang cerita itu,” kata Anthon kepada Tempo, Rabu 28 Februari 2018.

Munculnya kasus itu berawal dari dari laporan Riyantono  Gempol (47) tamu pondok pesantren asal Kabupaten Ngawi.  Ia yang mengaku diserang tiga orang tak dikenal di depan pondok, Senin, 19 Februari 2018. Kepada polisi Riyantono mengaku didekati seorang pria yang mengacungkan pisau. Lelaki itu meminta Riyantono menunjukkan kediaman pengasuh pondok pesantren.

Dalam laporan yang dikarang itu, permintaan ditolak Riyantono yang mengaku siap mati membela keselamatan kiai. Karena gagal, cerita Riyantono, lelaki itu kabur dengan  menggunakan mobil Panther warna hijau.

Dalam waktu singkat, kabar itu tersiar melalui pesan berantai di grup keamanan pondok, bahwa ada seseorang yang hendak menghabisi kiai. Kebetulan pada saat yang sama seseorang bernama Aziz berada di sekitar pondok dan ingin bertemu kiai. “Seketika Aziz ini ditangkap meski digeledah tidak membawa sajam,” kata Anthon.

Di hadapan polisi Riyantono menuding Azis sebagai kaki tangan lelaki yang kabur itu. Belakangan Aziz diketahui bukan siapa-siapa. Dia justru warga keturunan Tionghoa asal Situbondo yang menjadi mualaf. Kebetulan Aziz gemar berkelana mengunjungi pondok-pondok untuk meminta doa.

Abdul Aziz Mualaf

Sebagaimana diberitakan, Abdul Aziz diamankan pihak keamanan Ponpes Al Falah, pada Senin 19 Februari 2018 sore lalu. Dia dituding  hendak mencelakai KH Nurul Huda Djazuli dan KH Zainuddin Djazuli, kiai di Ponpes Al Falah, Ploso Kediri. Dugaan aksi teror ini terjadi karena gerak-gerik Aziz yang mencurigakan di depan pesantren.

Penangkapan Aziz turut dipengaruhi isu penyerangan kiai yang santer terjadi di Indonesia, maupun di Jawa Timur. Hal ini lah yang membuat warga pesantren terutama santri menjadi lebih waspada terhadap gerak-gerik yang terjadi di ponpesnya.

Tetapi tindakan represif pihak keamanan pondok ini tidak lepas dari pengaruh keterangan Riyantono. Dia mengarang cerita palsu, apabila dirinya baru saja diancam oleh tiga orang pria berbadan kekar dengan membawa pisau yang hendak menyerang para kiai.

Abdul Azis kemudian dibawa ke Polresta Kediri dan ke Polda Jawa Timur untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Dia sempat dituduh gila, yang dikait-kaitkan dengan peristiwa di daerah lain. Tetapi, kenyataannya Aziz dinyatakan waras. Hasil ini berdasarkan pemeriksaan tim dokter Polda Jatim yang telah dilakukan selama dua hari terakhir di RS Bhayangkara, Surabaya. (Baca: Lelaki Pengancam Kiai Ponpes Al-Falah Meracau Saat Diperiksa)

Dijelaskan Kapolresta, Abdul Aziz berasal dari Situbondo. Pria bermata sipit ini lahir dari keluarga keturunan China. Tetapi, saat masih dalam kandungan, orang tuanya bercerai.

Akibat broken home, Aziz kecil diasuh oleh bibi nya yang bernama Azizah, nama islami. Akhirnya dia mengikuti jejak sang bibi menjadi seorang mualaf. Aziz sempat nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Assidiqiyah di Situbondo.

Sejak itu Aziz menjalani hari-harinya dengan pergi dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tujuannya untuk mendapatkan doa dan sedekah dari kiai. Aziz pergi ke berbagai pesantren dengan berjalan kaki. Sesekali dia naik angkutan umum, apabila masih menyimpan uang. Sejumlah pesantren di tempat tinggalnya sudah pernah dikunjungi.

“Kalau di daerah Tapal Kuda dan Madura sudah banyak yang tahu siapa Abdul Aziz ini. Kegiatannya memang dari pondok ke pondok untuk mendapatkan sedekah dan doa,” jelas perwira Polri dengan mawar dua di pundaknya ini.

Kapolresta menjelaskan, sebelum pergi ke Ponpes Al Falah, sebenarnya Abdul Aziz sempat mampir di beberapa pesantren besar di Kota Kediri. Seperti di pondoknya Gus Lik maupun Ponpes Lirboyo, Kota Kediri.

“Malam hari sebelum ke Ploso ini, Aziz sempat sowan ke Gus Lik, tengah malam. Jadi dia memang pergi ke pondok pesantren satu ke pesantren lainnya. Dia waras, tetapi mohon maaf IQ nya memang agak rendah,” jelas Kapolresta.

Aziz diamankan oleh kamtib Ponpes Ploso sesaat setelah sowan ke Gus Robert, salah satu kiai. Seperti ke pondok pondok lainnya, dia minta doa dan sedekah lalu pergi. Ketika bertemu dengan Gus Robert, dia diberi uang Rp 100 ribu, kemudian meninggalkan pondok.

Tetapi oleh pihak keamanan, Aziz dibuntuti dari belakang. Karena gerak geriknya dianggap mencurigakan, seperti orang gila, akhirnya dia diamankan. Tetapi dalam penggeledahan, tidak ditemukan senjata tajam di tubuhnya, melainkan hanya uang Rp 50 ribu.

Menurutnya, Abdul Aziz adalah korban dari keterangan palsu Riyantono. Tetapi untuk penanganan hukum terhadap Riyantono sendiri yang telah memberikan keterangan bohong, kata Kapolresta akan diserahkan ke Polda Jawa Timur. Pihaknya masih menunggu arahan oleh institusi di atasnya.

“Perlu diketahui bersama Riyantono adalah saksi pelapor. Dan dari hasil penyelidikan, unsur pidananya tidak terbukti, sehingga kasus ini kami hentikan atau SP3. Adapun terkait keterangan palsu Riyantono kami masih menunggu arahan dari Polda Jatim,” tegas Kapolresta.

Kapolresta mengaku, sudah curiga dengan Riyantono. Sejak awal penyelidikan, keterangannya selalu berubah-ubah. Tetapi kepolisian tidak gegabah. Sedikitnya ada delapan saksi yang dimintai keterangan terkait kasus ini.

Riyantono akhirnya mengakui kesalahannya, sewaktu keterangannya dikonfrontir dengan rekaman kamera CCTV yang diperoleh kepolisian. Sore itu, Senin 19 Februari 2018  Riyantono terlihat berjalan sendirian sambil bermain Handphone (HP) tanpa ada sosok tiga pria yang disebutkan.

Sementara itu, dari Keluarga Besar Ponpes Al Falah Ploso memaafkan perbuatan Riyantono karena dianggap spontanitas dan khilaf. Pihak pondok tidak akan memperpanjang persoalan ini dengan melaporkan Riyantono. (Baca: Dua Kiai Ponpes Al Falah Kediri Diteror)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.