oleh

Isu Sara dalam Kampanye Akibat Pemahaman Agama yang Rendah

1726440DSC01488780x390
Ratusan eksemplar tabloid obor rakyat dibakar oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (17/6/2014) Dok : Kompas

 

Satu Islam, Jakarta – Direktur Riset Maarif Institute, Ahmad Fuad Fanani, melihat Pemilu Presiden 2014 dipenuhi dengan kampanye jahat dengan menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Dia menilai, gencarnya penggunaan isu SARA dalam kampanye disebabkan pemahaman agama masyarakat yang masih dangkal.

Menurut Fuad, agama memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai kekuatan integrasi dan solidaritas. Kedua, pemicu konflik. Dia pun mengibaratkan agama seperti rumput pada musim kemarau yang mudah terbakar.

“Masalahnya, masyarakat Indonesia masih melihat agama secara simbolik,” kata Fuad seusai diskusi bertemakan “Etnisitas dan Agama sebagai Isu Politik” di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, Jumat 27 Juni 2014.

Menurut dia, rendahnya pemahaman agama tersebut dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia. Hal ini, kata dia, berpengaruh terhadap tulisan-tulisan agama yang mereka baca.

“Agama bisa memunculkan sentimen-sentimen sehingga menarik bagi para elite politik untuk memakai isu agama,” ucapnya.

Dia menambahkan, kampanye dengan isu SARA tidak hanya terjadi pada realitas di lapangan, tetapi juga di media sosial. Hal tersebut disebabkan media sosial memberikan sebuah ruang yang luas untuk mengembangkan wacana, termasuk penggunaan isu SARA untuk menjatuhkan lawan politiknya.(Kompas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed