oleh

Israel Enggan Akui, Indonesia Sambut Baik Perdamaian Fatah-Hamas

Anggota parlemen Palestina Fatah, Azam al-Ahmed (kanan), dan wakil ketua Hamas Saleh al-Aruri (kiri) sedang menandatangani perjanjian kesepakatan damai antara dua faksi di Palestina. Penandatanganan keduanya disaksikan Menteri Intelijen Mesir Khalid Fawzi di Kairo, Mesir, 12 Oktober 2017 – Foto: EPA

Satu Islam, Tel Aviv – Dua organisasi perjuangan Palestina, Fatah dan Hamas, Kamis kemarin sepakat melakukan rekonsiliasi serta mengakhiri pertikaian selama satu dasawarsa.

Israel sebagai negara seteru mereka gerah dengan rekonsliasi kedua organisasi itu. Israel malah berburuk sangka menganggap perjanjian itu bakal merintangi upaya perdamaian.

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, menolak mengakui perjanjian damai antara Hamas dan Fatah di Ibu Kota Kairo, Mesir. Negeri Zionis itu  berkeras menuntut supaya perdamaian kedua organisasi itu harus sesuai dengan kesepakatan versi Israel. Menurut Israel, syarat tercapaikan perdamaian jika kedua organisasi harus mengakui Israel sebagai negara, dan melucuti sayap militer Hamas.

“Israel memang menginginkan perdamaian dengan seluruh negara tetangga. Namun, perdamaian antara Hamas dan Fatah menyulitkan upaya perdamaian. Berdamai dengan pembantai adalah masalah, bukan jalan keluar. Dukung perdamaian dan jangan berkawan dengan Hamas,” tulis Juru Bicara Netanyahu, Ofir Gendelman, melalui akun Twitter-nya, seperti dilansir dari laman Independent, Jumat 13 Oktober 2017.

Hamas mengatakan mereka saat ini mengubah pendirian organisasi supaya bisa membangun Palestina bersama dengan Fatah. Namun, Ofir tidak yakin akan klaim Hamas. Dia menuding kalau Hamas cuma mempermainkan dunia.

Mesir menjadi penengah perundingan damai Fatah dan Hamas. Di dalam perjanjian, keduanya menyepakati pengaturan perbatasan dan nasib ribuan pegawai negeri di Jalur Gaza. Namun, mereka tidak membahas soal persenjataan Hamas. Hal itu membikin Israel curiga.

Fatah, Hamas, dan Mesir juga sepakat membuka perbatasan Rafah buat mengakhiri krisis kemanusiaan, mempermudah perdagangan dan pelintas batas. Mereka pun setuju soal penempatan pengawas dari Uni Eropa di perbatasan demi menghindari kecurigaan Israel soal upaya penyelundupan senjata.

Indonesia Sambut Baik Rekonsiliasi

Pemerintah Indonesia menyambut baik rekonsiliasi antara dua faksi perjuangan itu. ”Kami menyambut baik rekonsiliasi karena sebenarnya posisi kami sudah sejak lama meng-encourage terjadinya rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas,” kata Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Lestari Priansari Marsudi, Jumat 13 Oktober 2017.

Menlu Retno beralasan, dengan rekonsiliasi itu bisa jadi pembuka jalan yang luas bagi perjuangan yang selama ini masih dilakukan Palestina.

Fatah dan Hamas bertikai sejak 2006. Saat itu Hamas memenangkan pemilihan umum di Jalur Gaza dan menguasainya, serta mendepak Fatah dari lingkar kekuasaan. Setahun kemudian terjadi pertikaian bersenjata antara keduanya.

Sejak itu ada dualisme pemerintahan. Hamas memerintah atau berkuasa di Jalur Gaza, sedangkan Fatah yang diakui masyarakat internasional memerintah wilayah Ramallah. Sejumlah upaya perdamaian sebelumnya gagal. Namun, pada September lalu Hamas memutuskan membubarkan pemerintahannya di Jalur Gaza demi perundingan damai.

Sumber: Merdeka.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed