Home / Opini / Islam Transnasional

Islam Transnasional

Oleh: Abdul Hakim

Fenomena gerakan Islam transnasional mulai merebak di Indonesia bersamaan dengan masuknya abad ke 15 Hijriah yang mulai dicanangkan di dunia Islam sebagai abad kebangkinan Islam pada empat dekade yang lalu.

Pada masa itu gerakan Islam yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin, yang berpusat di Mesir, menyebar ke pelbagai negara Muslim termasuk Indonesia. Gerakan ini menjadikan Islam sebagai ideologi untuk menegakkan suatu sistem kehidupan yang sepenuhnya didasarkan pada sumber dasar ajaran Islam, yaitu Al Quran dan Hadis.

Pada gelombang berikutnya, menyusul masuk pula gerakan politik Islam Hizbut Tahrir, yang merupakan pecahan dari Ikhwanul Muslimin, yang bercita-cita untuk menegakkan negara Khilafah. Gerakan ini di Indonesia membentuk ormas dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang misi utamanya melakukan dakwah di kalangan umat Islam untuk menarik mereka bergabung dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Ketika terjadinya reformasi di Indonesia pada dua dekade yang lalu, iklim demokrasi yang ditandai dengan terbukanya kran kebebasan masyarakat dalam mengeluarkan pendapat dan berserikat, membuat gerakan Islam transnasional itu bergerak secara leluasa di tengah masyarakat. Dengan maraknya penggunaan media sosial sekarang ini, doktrin keagamaan yang anti demokrasi dan keindonesiaan yang diusung oleh gerakan tersebut semakin masif memengaruhi pikiran masyarakat, terutama di kalangan generasi muda Muslim.

Ada lima ciri pokok dari retorika dan pikiran Islam transnasional itu, sebagaimana ditulis oleh Ibnu Burdah (Kompas, 31/5/2018). Pertama, simplistic model of Islam dengan mengembalikan segala persoalan langsung ke bunyi tekstual Al Quran dan hadis. Kedua, mudah melakukan ekslusi teologis terhadap praktik-praktik keislaman Indonesia pada umumnya atau kelompok Islam lain dengan penyebutan bidah, syirik (penyekutuan Tuhan), tersesat, dan kafir. Ketiga, tidak ramah terhadap perbedaan dan keragaman. Keempat, mengagungkan budaya Timur Tengah dan meremehkan tradisi Islam di Nusantara. Kelima, yang sangat penting adalah rendahnya komitmen dan loyalitas terhadap negara bangsa Indonesia.

Dengan semakin masifnya pengaruh pemikiran gerakan Islam transnasional tersebut, seperti kita saksikan sekarang ini, kehidupan demokrasi di Indonesia bergerak secara liar dan destruktif yang mengancam NKRI dan ideologi Pancasila. Hal itu secara kentara terlihat pada makin menonjolnya reaksi umat Islam terhadap isu-isu seputar penistaan agama, penolakan pemimpin non-Muslim, kriminalisasi ulama, pembubaran ormas Islam, gerakan teroris, dan terakhir soal daftar 200 mubaligh yang direkomendasikan kementerian agama.

Untuk menghadapi penyebarluasan pengaruh pemikiran Islam transnasional itu, tidak ada jalan lain perlu adanya konsolidasi dari kalangan Islam moderat, yang merupakan mayoritas dari umat Islam Indonesia dan dunia yang selama ini cendrung diam, untuk mulai aktif bekerja sama dalam menyuarakan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi persatuan, menghormati perbedaan, dan memelihara kesepakatan sebagai negara bangsa. Dengan melakukan upaya seperti itu, konflik berkepanjangan seperti yang terjadi dengan negara-negara Muslim di Timur Tengah, diharapkan akan dapat kita hindarkan terjadi di negara yang kita cintai ini.

Check Also

Adu Kekuatan Warga Milenial Saudi dengan Kelompok Ortodoks Wahabi

Satu Islam, Riyadh- Mulai 18 April mendatang, untuk pertama kalinya dalam 38 tahun terakhir, warga Arab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.