oleh

Islam dan Kemanusiaan Itu Kekuatan Indonesia

buya-syafii-indonesia-tengah-menggali-kuburnya-sendiri
Ahmad Syafii Maarif. – Foto: antara

Satu Islam, Jakarta – Islam dan kemanusiaan adalah dua hal yang tak bisa dilepas-pisahkan. Islam akan menjadi suatu kekuatan bagi bangsa Indonesia. Namun Islam yang dimaksud adalah Islam yang toleran, Islam yang menghormati kebhinekaan atau pluralisme.

Hal ini dikatakan Ahmad Syafii Maarif dalam acara peluncuran bukunya yang berjudul ‘Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan’ yang diluncurkan di Gedung CSIS, Jl. Tanah Abang III, Gambir, Jakpus, Selasa 14 April 2015.

“Saya melihat Islam dan kemanusiaan saling melengkapi dan akan menjadi kekuatan bangsa ini. Islam yang saya katakan di sana adalah Islam yang sangat toleran, Islam yang menghormati kebhinekaan, pluralisme dan perbedaan asal kita menghormati konstitusi,” ujar Buya Saafi di awal acara.

Lanjut Buya, penulisan buku ini terinspirasi oleh perbedaan di Indonesia dalam banyak hal. Perbedaan ini, kata Buya harus menjadi kekuatan yang membangun, bukan kekuatan yang memecahkan.

“Ini antisipasi saja. Sebab bangsa ini terdiri dari keanekaragaman di banyak hal. Jika tidak diperhatikan, bukan sesuatu yg menjadi kekuatan yg kooperatif, dan harus kita perhatikan. Perbedaan itu harus jadi kekuatan kooperatif bukan kekuatan yang memecahkan,” pukas Buya Saafi yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-80.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Maarif Institute Fazar Rizal Burhad mengatakan acara peluncuran buku ini merupakan salah satu dari rangkaian acara menyambut ulang tahun Buya Syaafi yang ke-80.

“Kami dari Maarif Institute mengucapkan selamat datang bagi semua yang hadir. Acara malam ini adalah bagian dari rangkaian acara menyambut HUT 80 Buya Syaafi. Ada empat acara, yakni peluncuran buku Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan, peluncuran biografi Buya Syaafi, pementasan biografi dan komik essai Syaffi,” terang Rizal.

Disaksikan merdeka.com, hadir juga dalam acara ini tokoh agama Katolik Magniz Suseno, ketua penerbit Mizan Abdillah Toha, budayawan Adi Nugroho, dan puluhan elemen masyarakat lainnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed