oleh

ISIL: Boneka Lucu Israel dan Amerika

baghdadicampbucca-300x168
Dok : Berita Protes

Satu Islam – Mereka yang memuja pemberontakan di Suriah sebagai jihad dan membiarkan ISIL di Irak dan kini hidup di Indonesia seolah gerombolan bersenjata ini eksis sebagai pelopor jihad suci atas nama Islam, berarti telah tertipu oleh Israel dan Amerika.

Snowden mengatakan dalam laporannya bahwa ISIL merupakan “strategi sarang lebah” Israel dan AS guna mengumpulkan para ekstremis di seluruh dunia atas nama Negara Islam. Inilah kelanjutan dari War on Terror AS dengan cara mengungsikan teror ke dunia Islam.

Seorang pakar Rusia, Vyacheslav Matuzov, pernah mengatakan bahwa pemimpin Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) Abu Bakar Al-Baghdadi punya hubungan dekat dan menjalin kerja sama erat dengan Badan Intelijen Pusat AS, CIA.

“Semua fakta menunjukkan bahwa Al-Baqdadi berada dalam kontak dengan CIA dan selama 5 tahun dirinya berada di penjara Bucca (2004-2009), ia telah berkolaborasi dengan CIA,” kata Matuzov kepada radio Suara Rusia, suatu ketika.

Kalau hanya sekadar untuk menghentikan operasi ISIL, lebih lanjut Matuzov menegaskan, tentu AS tak perlu menggunakan drone terhadap ISIL karena dapat dengan mudah memiliki akses ke para pemimpin tertinggi kelompok ini, kapanpun AS mau. Matuzov lalu menambahkan bahwa karena komandan teroris itu tak lain adalah sekutu AS, maka Washington tidak akan mungkin pernah mau memerangi mereka. Bagaimanapun, menurutnya, ISIL inilah saat ini (setelah Al Qaeda, sebelumnya) wujud nyata dari pementasan rencana busuk AS di seluruh dunia Islam, terutama di Timur Tengah.

Kapan Bayi ISIL Lahir dan Siapa Ibu Kandungnya?

ISIL adalah kelompok ekstremis Takfiri yang berakar dalam pemberontakan melawan invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2006, dan kemudian dikembangkan sebagai kelompok yang lebih besar dan lebih terorganisir di Suriah sejak tahun 2012. Kelompok ini dikenal bertanggung jawab atas pembunuhan massal dan tindakan kekerasan dan ekstremisme di seluruh Suriah dan Irak.

Pemimpin ISIL Abu Bakar Al-Baghdadi, yang adalah seorang tahanan di penjara AS, Bucca pada tahun 2005, telah mengumumkan dirinya sebagai khalifah dari dunia Muslim saat itu. Namun ketika itu, dia masih bukan siapa-siapa. Hal ini pun diakui sendiri oleh Al-Baghdadi dalam salah satu twitnya di akun twitter miliknya, bahwa sejak di penjara Bucca itulah dirinya dan sejumlah orang lain biasa dilatih intensif untuk menjadi pimpinan kelompok ekstremis yang akan mengacaukan dunia Muslim. Belum lagi sejumlah laporan yang mengatakan bahwa akhir bulan lalu sumber mata-mata Kurdi di Irak mengungkapkan bahwa pasukan Pishmarga telah menemukan bahan makanan kemasan dan peralatan ISIL produksi Israel, di sebuah tempat persembunyian ISIL di Irak. Hal yang makin menguatkan bahwa ISIL terkait erat dengan rezim Zionis tersebut.

ISIL Merajalela. Mengapa Amerika dan Obama Tenang-tenang Saja?

Kapan terakhir kali seorang penabat presiden AS gagal segera merespon dan tegas mengutuk suatu tindakan serupa agresi? Tidak pernah. AS pasti selalu merespon. Dengan cepat dan pola yang selalu sama pula. “Hentikan apa yang Anda lakukan sekarang atau kita akan mengebom Anda berkeping-keping.” Bukankah reaksi semacam itu selama ini sudah menjadi respon AS yang khas? Tentu saja. Tapi mengapa Obama tak menyampaikan ancaman serupa terhadap aksi nakal ISIL hingga saat ini? Sejak ISIL mengacau Suriah demi menggulingkan Bashar Assad, lalu berpindah menteror pemerintah Nuri Maliki di Irak, hingga deklarasi resmi Kekhalifahan Islam Universal bernama Islamic State atau Daulah Islam di Mosul, Irak belum lama ini, apa pasal Obama dan pemerintah AS kok nampaknya tenang-tenang saja?

Alih-alih bersuara keras dan menjewer ISIL, sebaliknya Obama malah berpesan agar pemerintahan PM Irak Nuri Maliki mulai berupaya lebih serius “menampung partisipasi Sunni dalam pemerintahannya,” supaya pemerintah AS dapat memenuhi syarat dukungannya kepada Maliki sebelum Obama benar-benar turun tangan menumpas pemberontak yang menamakan diri mereka “Jihadis Sunni” itu. Kalau tidak, apa boleh buat, pemerintah AS “terpaksa” menahan bantuan yang dibutuhkan Maliki untuk menangkal serangan tak terhindar atas pusat pemerintahannya, Baghdad.

Tak cukup sampai disitu, Obama pun kembali menambahkan dan kerap mengulang pesannya dalam tiap penampilan di depan kamera TV, bahwa untuk sementara ia akan mempertimbangkan beberapa opsi intervensi militer dalam beberapa hari ke depan untuk menjinakkan ISIL, namun lagi-lagi, menurutnya, semua itu tergantung sepenuhnya pada langkah nyata yang secara cepat dan tepat akan diambil oleh Maliki.

Tidakkah ini terdengar semacam omong kosong menggelikan bagi semua orang? Bayangkan jika, katakanlah, gerombolan ISIL telah berkumpul hanya 50 mil jauhnya di luar kota London dan mengancam akan menyerang Inggris sewaktu-waktu. Apakah Obama akan menyampaikan pesan yang sama kepada Perdana Menteri Inggris David Cameron? Misalnya dengan mengatakan, “Wah, Dave, swear, kami benar-benar ingin membantu, tapi Anda perlu menempatkan beberapa orang-orang di pemerintahan Anda terlebih dahulu. Gak papa kan, Dave?”

Mungkin terdengar gila, tapi itulah yang Obama ingin agar Maliki lakukan. Jadi, apa yang terjadi di sini? Mengapa Obama memberikan ultimatum dan persyaratan aneh-aneh ketika ia harus membantu memberikan jalan keluar bagi Irak dalam menghadapi ISIL? Tidakkah patut diduga Obama memiliki agenda yang sejatinya memang jauh berbeda dari Maliki dan bahwa dalam situasi saat ini ISIL benar-benar bekerja untuk meraih keuntungan negaranya?

Atas semua keanehan ini, kita patut bertanya: Mungkinkah di luar dugaan dan persangkaan banyak orang, terutama kaum Muslimin di negara-negara Timur Tengah dan lebih khusus lagi di negara berpenduduk Muslim terbesar seperti Indonesia, bahwa ISIL sebenarnya memang tak lebih dari boneka Israel dan Amerika? Bahwa gerombolan bersenjata yang selama ini telah menyihir umat dengan pesonanya sebagai jihadis Islam itu, sebenarnya tak lebih dari para aktor dan preman bayaran dua negara, Israel dan Amerika, yang selama ini sepak terjangnya sudah terbukti banyak melahirkan penderitaan dimana-mana bagi Islam itu?

Heboh Jam Tangan Mewah Sang Khalifa

Anda mungkin masih ingat kehebohan dunia maya, saat Abu Bakr Al-Baghdadi tampil untuk pertama kalinya di depan publik belum lama ini. Dalam sebuah kesempatan khutbah Jumat di masjid Mosul, Irak, saat dia mendeklarasikan diri sebagi Khalifah Daulah Islam yang memerintahkan baiat tanda kepatuhan seluruh kaum Muslimin di dunia kepadanya, tahukah Anda bahwa sang Khalifah yang selayaknya menjadi tauladan dalam laku kesederhanaan sebagai pemimpin kaum Muslimin itu, malah memakai jam tangan mewah Rolex di lengan kanan di balik jubah hitamnya? Jika dia memang bukan mantan agen CIA, seperti kata Snowden, atau aktor ala Hollywood yang sengaja diorbitkan Amerika dan Israel, pantaskah Khalifah Islam menjalani laku bermewah-mewah, laku tercela yang dia sembunyikan tapi toh pada akhirnya diketahui publik semacam itu?

Mungkin saat ini baru sedikit dari rahasia jati dirinya yang bisa diungkap, tapi ke depan, siapa tahu? Kita semua tentu berharap, kaum Muslimin di Indonesia tak ikut-ikutan kena tipu. Itu saja.(Berita Protes)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed