oleh

Iran Miliki Senjata Rahasia yang Buat AS Takut Mendekat

Komandan pasukan pertahanan udara Iran, Jenderal Amir Sabahi, menyatakan bahwa negara ini memiliki senjata rahasia khusus yang akan digunakan jika terjadi perang melawan serangan musuh besarnya, Amerika Serikat (AS). Menurutnya, senjata itulah yang membuat musuh-musuh Republik Islam takut untuk mendekat.

Klaim itu muncul hari Rabu atau sehari setelah Israel mengaku sedang mempersiapkan diri untuk terlibat secara militer dalam setiap potensi konflik di Teluk Persia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Pencegahan dan senjata rahasia kami telah menghentikan musuh 200 mil jauhnya (dari perbatasan Iran) di Selat Hormuz,” kata Brigadir Jenderal Alireza Sabahi Fard, komandan Pangkalan Pertahanan Udara Khatam ol-Anbiya Angkatan Darat Iran, di sebuah forum di Teheran.

“Musuh tahu betul bahwa ia tidak harus pergi untuk menguji kemampuan tempur Iran, karena kesalahan pertama akan menjadi yang terakhir,” ujarnya, dikutip kantor berita Fars yang dilansir Jerusalem Post, Kamis (4/7/2019).

Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa negaranya sedang mempersiapkan kemungkinan keterlibatan militer jika konfrontasi militer antara Washington dan Teheran pecah.

“Harus dipertimbangkan bahwa perhitungan yang keliru oleh Iran bertanggung jawab untuk membawa perubahan dari ‘zona abu-abu’ ke ‘zona merah’, yaitu, kebakaran besar militer,” katanya seperti dikutip oleh Reuters.

“Kita harus siap untuk ini, dan dengan demikian Negara Israel terus mengabdikan dirinya untuk membangun kekuatan militernya jika negara itu harus menanggapi skenario eskalasi,” ujarnya.

“AS jangan sampai lupa untuk selamanya, kami selalu mengingatkan bahwa era unjuk kekuatan militer di depan Iran sudah berlalu, apalagi ada senjata rahasia yang hanya dimiliki oleh Iran, dan dengannya kami akan melawan,” tegasnya, Rabu (3/7/2019).

Dia menambahkan, “Keterhentian pasukan AS sejarak 200 mil di laut adalah karena kekuatan militer Iran. Musuh tahu persis bahwa kesiapan Iran tak dapat dijajal, sekali saja mereka berbuat salah maka akan menjadi kesalahan mereka yang terakhir kalinya.”

Dia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan sudi lagi berunding dengan AS karena perjanjian nuklir multilateral yang sudah pernah dicapai pada tahun 2015 sudah membuktikan bahwa negara arogan itu memang bukan pihak yang patut dipercaya dalam perjanjian.

Ketegangan meningkat tajam antara Teheran dan Washington dalam beberapa pekan terakhir, yaitu setahun setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara terkemuka dunia untuk membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi keuangan internasional.

Presiden AS Donald Trump menyerukan perundingan dengan rezim Iran “tanpa prasyarat,” tapi Teheran menolaknya sembari menegaskan bahwa Trump harus kembali kepada perjanjian itu jika ingin bernegosiasi.

Suasana semakin tegang antara kedua negara setelah pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh drone pengintai kebanggan AS di atas Selat Hormuz. (sindo/raialyoum/sputnik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed