Home / Internasional / UNRWA: 450 Ribu Pengungsi Palestina di Suriah Terancam Krisis Pangan

UNRWA: 450 Ribu Pengungsi Palestina di Suriah Terancam Krisis Pangan

Pierre Krahenbuhl, Komisioner Jendral UNRWA, dalam wawancara dengan The Associated Press di kantor pusat UNRWA di Beirut, Lebanon – Foto: AP

Satu Islam, Beirut – Badan PBB untuk Pekerja Bantuan (UNRWA) mengatakan, hampir 450 ribu pengungsi asal Palestina yang berada di Suriah. Kini kondisi mereka terancam krisis pangan setelah terkena dampak perang.

ANRWA pun mengajukan permintaan dana darurat untuk membantu hampir setengah juta pengungsi Palestina yang berada di Suriah itu. Badan PBB itu membutuhkan 411 juta dollar AS (sekitar Rp 5.47 trilliun) untuk membantu warga Palestina di dalam Suriah dan 47 ribu pengungsi lainnya yang melarikan diri ke Yordania dan Lebanon.

UNRWA juga meminta dana sebesar 800 juta dollar AS bagi 1.6 juta pengungsi Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang terkena dampak konflik Suriah dan kawasan sekitarnya.

Kepala UNRWA di Suriah, Matthias Schmale kepad AFP mengatakan, 43 ribu warga Palestina di Suriah berada di area-area yang sulit dijangkau atau di daerah yang terkepung oleh peperangan termasuk Kamp Yarmaouk di Damaskus.

“Jelas melanggar hukum kemanusiaan internasional menolak orang-orang tak berdaya, akibat pengungsian, konflik atau perang, dan bantuan kemanusiaan,”  kata Schmale

Direktur ad-interim UNRWA, Hakam Shahwan di Lebanon  mengatakan, sekitar 31.800 warga Palestina yang mengungsi dari Suriah bercampur dengan dengan satu setengah juta warga Suriah yang mengungsi ke Lebanon sejak negara yang dipimpin Bashar Al-Assad dilanda perang dimulai tahun 2011 itu.

Komisioner Jenderal UNRWA, Pierre Krahenbuhl mengatakan, pengungsi Palestina kini menghadapi situasi yang paling kritis sejak terbuang dari kampung halaman mereka tahun 1948. Dampak kumulatif dari konflik, pendudukan dan pengangguran yang meningkat turut memberi rasa putus asa dan kecewa karena merasa kehidupan tidak bakal bertambah baik.

Masih menurut Krahenbuhl, lebih dari separuh dari 5,2 juta pengungsi Palestina adalah pemuda di bawah umur 25 tahun. Menurutnya, pemuda itu tidak melihat adanya kesempatan kerja dan tidak ada penyelesaian politik bagi masalah mereka.

“Jadi tingkat frustrasi serta keprihatinan terhadap mereka terus bertambah. Kita menghadapi risiko menghadapi keseluruhan generasi muda warga Palestina yang meningkat dewasa kehilangan kepercayaan terhadap nilai politik, nilai kompromi, atau percaya diplomasi internasional bisa melahirkan hasil yang berarti,” ujar Krahenbuhl.

Krahenbuhl menambahkan, situasi para pemuda itu terutama sangat suram di Gaza dengan pengangguran di tingkat tertinggi. Data menunjukkan secara keseluruhan pengangguran mencapai 42 persen, 65 persen di antaranya di kalangan anak muda.

Akibat pengangguran yang tinggi itu, hampir satu juta pengungsi Palestina bergantung pada bantuan pangan, naik 10 kali lipat dari hanya 100 ribu yang memerlukan bantuan pada tahun 2000.

Krahenbuhl mengatakan, dampak psikologis dan trauma akibat tiga perang signifikan di Gaza dalam 10 tahun terakhir luar biasa besar dan menyebabkan bertambahnya angka bunuh diri.

Sementara itu Lebanon telah menjadi rumah bagi 450 ribu pengungsi Palestina, yang sebagian besar merupakan keturunan orang-orang yang melarikan diri dari rumah mereka ketika Israel terbentuk pada tahun 1948 atas sokongan Inggris yang melahirkan konflik hingga saat ini.

 

About Abu Nisrina

Check Also

Tingkatkan Kerja Sama Iptek, Ilmuwan Muslim Buat Pusat Jaringan Internet

Satu Islam, Kualalumpur – Ilmuwan negara Muslim, yang tergabung dalam program pertukaran STEP, sepakat membuat …