Home / Internasional / Ulama Wahabi Galau Atas Keputusan Muktamar Chechnya

Ulama Wahabi Galau Atas Keputusan Muktamar Chechnya

ulama-saudi-galau-atas-keputusan-muktamar-chechnya

Satu Islam, Riyadh – Muktamar Aswaja seluruh dunia dihadiri lebih dari 200 ulama Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja) internasional di Chechnya 25 Agustus 2016 lalu memunculkan kegalauan ulama Wahabi Arab Saudi. Pasalnya dalam muktamar itu memutuskan Wahabi dikeluarkan dari barisan Ahlusunnah Wal Jamaah.

Ulama Wahabi Arab Saudi dan media Saudi akhirnya memberi tanggapan atas penyelenggaraan Muktamar Aswaja Internasional di Chechnya. Muktamar ini bertema: ‘Siapakah Ahlusunnah Wal Jamaah?’.

Channel Safa TV milik Arab Saudi misalnya, menuding muktamar Aswaja internasional yang dihadiri Syekh Al Azhar Mesir, Syekh Ali Jum’ah sebagai provokasi dan hasutan yang berbahaya.

“Semua teroris di Indonesia Wahabi. Beginilah sikap kurang ajar yang terang-terangan akibat Muktamar di Chechnya. Ini merupakan hasutan untuk menutup 20 pesantren Salafi,” kata jaringan Safa TV .

photo_2016-09-07_19-59-12-1-e1473254054508

Pernyataan itu dirilis melalui akun resmi Twitternya dengan mengunggah foto potongan koran Indonesia “Duta” yang memberitakan pernyataan Said Agil Siradj  tentang semua teroris di Indonesia berpaham Wahabi.

Ulama Wahabi Arab Saudi, Muhammad Ali Saud menuding pertemuan ulama Aswaja di Chechnya itu bertujuan “untuk mengeluarkan Kerajaan Saudi dari Ahlu Sunnah wal Jamaah”.  Katanya seperti dikutip arabic.cnn.com 1 September 2016.

Ulama Wahabi Arab Saudi lain, Khalid Al Saud menyebut pertemuan ulama Aswaja di Chechnya itu sebagai pernyataan perang secara terbuka terhadap manhaj Salafi yang diklaimnya sebagai ajaran yang memurnikan tahudi dan paling mengikuti sunnah.

whatsapp-image-2016-09-07-at-4-22-22-pm-300x122

Dalam akun Twitternya, Khalid al-Saud berujar sebagai berikut. “Dengan sangat ringkas saja: Muktamar Chechnya adalah pernyataan perang terhadap manhaj Salaf, akidah tauhid dan sunnah.” Pada akhirnya, muktamar di Chechnya sebagai upaya yang dilakukan Iran dan Rusia.

Menyikapi polemik itu, Syekh Yusuf Qardhawi mengatakan, “Kita butuh Salafi yang Sufi, dan Sufi yang Salafi. Kita lembabkan keringnya Salafi dengan spiritualitas- tasawuf dan kita keraskan kelembekan tasawuf dengan disiplin Salafi,” kata cendekiawan Muslim asal Mesir itu via akun Twitternya.

whatsapp-image-2016-09-07-at-5-30-26-pm-169x300

Anehnya, pandangan Qardhawi yang berusaha mencari jalan tengah itu ditolak tegas oleh ulama Salafi Wahabi Abdullah Al-Faifi dengan tanggapan, “Salafi adalah mengikuti Salaf yang saleh dalam spirit dan disiplin–meminjam perkataan Anda. Ia bukan mazhab baru yang dapat dianggap sejajar dengan tasawuf.”

Muktamar Aswaja Internasional Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak Wahabi yang merepresentasikan paling “Ahlussunnah Wal Jamaah” dan paling nyunnah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideology kekerasan. (Baca: Pernyataan Hasil Muktamar Internasional Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya)

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Aswaja Internasional Chechnya pun menegaskan bahwa Aswaja adalah Asyariah dan Maturidiyah dalam akidah. Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih. Serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

“Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia,” Kata Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional.

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan, Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara paham Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

“Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)”.  Katanya.

About Abu Nisrina

Check Also

Hizbullah Tuding Arab Saudi yang Paksa PM Lebanon Mundur

Satu Islam, Beirut – Pimpinan kelompok perlawanan Lebanon, Hizbullah, menuding Arab Saudi memaksa perdana menteri …

3 comments

  1. wahabi kebakaran cd, teruskan nafsu barbarmu, akhirnya dengkulmu pun kejedut batu. Rasain loh sekarang, ahlus sunnah orisinil bangkit melalap kebohonganmu, awahi sungu demit.

  2. Siapapun yg lebih dulu menyatakan PERANG untuk hal yg tak disukainya, maka tampak jelas itulah yg EXTRIMIS ….RADIKAL !

  3. aneh wahabi saudi nih, di saudi aja tidak boleh ada lembaga pendidikan atau dakwah atau syiar selain apa yg difahami oleh wahabi saudi. semua ditutup dan diharamkan. sekarang giliran wahabi saudi dikeluarkan, kok ngambek …. wahabi indonesia berhenti dan akhiri memberikan pernyataan sesat atau kafir kepada umat islam lain di indonesia yg tidak sejalan dgn anda … wkwkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *