Home / Internasional / Sempat Dicekal, Kelompok Ikhwanul Muslimin Akhirnya kembali ke Suriah

Sempat Dicekal, Kelompok Ikhwanul Muslimin Akhirnya kembali ke Suriah

Mohamed Walid, Ketua IM Cabang Suriah dalam Kesempatan Wawancara bersama Reuters, Selasa(5/5) (Dok : Reuters)
Mohamed Walid, Ketua IM Cabang Suriah dalam Kesempatan Wawancara bersama Reuters, Selasa(5/5) (Dok : Reuters)

Satu Islam, Istanbul – Ratusan anggota Ikhwanul Muslimin Suriah yang telah kembali dari pengasingan, berharap untuk membangun kembali gerakan yang hancur beberapa dekade lalu di tempat asal mereka dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh negara-negara Arab terkemuka.

Beberapa Anggota IM tetap dijatuhi hukuman mati di Suriah lebih dari 30 tahun setelah ayah Presiden Bashar al-Assad, Hafez Al Assad melarang aktivitas kelompok ini, tetapi orang-orang buangan yang terpilih kembal ke daerah-daerah yang dipegang oleh kelompok oposisi .

Di sana mereka mencoba untuk membangun kembali pengaruh dan kredibilitas gerakan yang tidak memiliki sayap militer resmi serta memberikan pengaruh bahwa IM diam-diam mendukung kelompok bersenjata pemberontak dalam perang sipil Suriah. Seperti yang dilansir dari laman resmi Reuters.

“Kami mendorong orang-orang agar kembali ke Suriah … Ratusan jumlahnya akan kami bawa” kata Mohammed Walid, ketua IM cabang Suriah kepada Reuters.

Walid mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa anggota inti harus menjelaskan tujuan kelompoknya, yang merupakan cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir. “Kami sudah absen dari tempat kejadian begitu lama sampai saat ini- banyak orang di Suriah tidak tahu jumlah kita banyak,” katanya dari tempat tinggalnya di Istanbul.

Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengklasifikasikan gerakan IM yang semakin populer ini sebagai organisasi teroris, dan telah dikeluarkan dari putaran terakhir perundingan perdamaian yang dipimpin PBB

Namun, militer Suriah mengatakan IM mempraktekkan “Islam moderat”, menjauhkan diri dari gerakan radikal militan ISIS yang telah menyatakan diri sebagai negara khilafah di Suriah dan Irak.

Walid(70), spesialis agen mata-mata dari kota pelabuhan Latakia yang meninggalkan Suriah pada 1970-an, mengatakan bahwa sebagian besar anggota IM telah kembali dan banyak yang menetap di Aleppo, Idlib dan Hama.

Pada tahun 1982, batalion pasukan keamanan di bawah komando Presiden sebelumnya, Hafez al-Assad menghancurkan sebagian wilayah kota-kota barat laut dan menewaskan ribuan orang dalam rangka memerangi gerakan Ikhwanul Muslimin di Suriah.

Terlepas dari ketidakaktifan anggota senior yang tidak bisa kabur, tidak ada perwakilan tetap di Suriah setelah itu, kata Omar Mushaweh, anggota kepemimpinan IM Suriah.

Gerakan Islam yang dominan Suriah mungkin suatu hari harus bersaing dengan kelompok massa seperti Ahrar al-Sham dan Jaysh al-Islam. Mereka adalah brigade Islam bersenjata tetapi mereka sudah memiliki wilayah politik dan strategi media yang canggih, menunjukkan bahwa mereka akhirnya dapat membentuk sayap politik formal.

Perebutan kota Idlib pada bulan Maret yang dipimpin oleh pasukan Islam, pemberontak Suriah menciptakan keuntungan besar di provinsi Idlib dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan pemerintah, kelompok ISIS dan pejuang oposisi lainnya menguasai beberapa wilayah di Aleppo, sementara kota Hama sebagian besar dikuasai pemerintah.

Beberapa orang warga Suriah mengatakan Ikhwanul Muslimin mendukung brigade pemberontak seperti Jaysh al Mujahidin.

“Saya yakin mereka didukung Jaysh al Mujahidin dan kelompok lain, tetapi sejak saat itu telah terjadi kampanye negatif terhadap Ikhwanul Muslimin di dalam wilayah Suriah,” kata Yaser Al-Haji, seorang aktivis politik di Aleppo. “Mereka tidak menunjukkan diri kepada publik.”

Salah satu mantan karyawan Ikhwanul Muslimin mengatakan dia yakin bahwa kelompok Faylaq Sham yang berbasis di Idlib didirikan dan didukung oleh kelompok ini. “Mereka ada di mana-mana,” katanya.

Ikhwanul Muslimin adalah sebuah organisasi besar, banyak anggotanya yang bekerja secara independen. Namun, Walid membantah bahwa organisasi tidak mampu menyediakan pasokan dana untuk setiap kelompok bersenjata.

“Kami memiliki banyak masalah dengan pendanaan kegiatan kami sendiri, jadi saya tidak berpikir kita punya cukup uang untuk mendukung kelompok lain,” katanya, menambahkan bahwa sebagian besar dana berasal dari sumbangan individu, dengan kontribusi sesekali dari kelompok IM cabang luar negeri.(reuters)

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Dunia Kagumi Keberagaman Umat Islam Indonesia

Satu Islam, London – Keberagaman umat Islam di Indonesia yang berasal dari Sabang, Aceh hingga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *