Home / Internasional / Rusia Tolak Tuduhan PBB Rezim Assad Luncurkan Bom Kimia

Rusia Tolak Tuduhan PBB Rezim Assad Luncurkan Bom Kimia

Tim penyelidik PBB untuk bom kimia di Suriah
Tim penyelidik PBB untuk bom kimia di Suriah

Satu Islam, New York – Sebuah laporan rahasia yang dikeluarkan PBB dan pengawas senjata kimia global menduga pasukan Pemerintah Suriah telah melancarkan setidaknya dua serangan gas beracun. Sementara kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan menggunakan gas belerang mustard. (Baca: ISIS Gunakan Senjata Kimia di Suriah, Seorang Bayi Tewas)

Rusia tidak percaya begitu saja dengan laporan PBB dan mendesak masyarakat dunia untuk hati-hati menyimpulkan laporan itu. Laporan PBB itu berdasar penyelidikannya dilakukan selama setahun dan Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) pada sembilan serangan di tujuh wilayah Suriah. Investigasi OPCW menetapkan senjata kimia kemungkinan telah digunakan dalam serangan.

Penyelidikan berdasarkan sebuah informasi yang katanya cukup untuk menyimpulkan bahwa helikopter pemerintah Suriah menjatuhkan perangkat yang kemudian melepaskan zat beracun pada 21 April 2014 dan 16 Maret 2015. Utusan Suriah untuk PBB belum menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan itu tapi Rezim Assad berulang kali membantah tuduhan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Sikap penolakan pemerintah Rusia atas laporan PBB disampaikan Duta Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin di New York, pada hari Kamis. ”Kita tidak harus datang pada kesimpulan yang terburu-buru. Kita perlu melangkah sangat hati-hati di sini,” kata Churkin.

Menurutnya, Rusia membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempelajari laporan setebal 95 halaman itu. Menurut laporan PBB, rezim Assad meluncurkan serangan bom kimia berbahan gas klor di Idlib pada tahun 2014 dan 2015. Sedangkan ISIS menggunakan senjata kimia jenis gas mustard di Marea pada bulan Agustus 2015.

Churkin mengatakan bahwa temuan itu penting.”Biasanya semua kesalahan akan dibebankan kepada Pemerintah Suriah,” katanya, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat 26 Agustus 2016. Dia juga mengatakan bahwa Rusia akan membahas temuan ini dengan Amerika Serikat (AS) pada rapat PBB sesi berikutnya di bulan September nanti.

Sementara itu dalam rangka membahas rencana operasi militer Amerika di Suriah, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry bertemu dengan Pangeran Saudi Mohammed bin Salman di Jeddah, Kamis pagi 25 Agustus 2016.

Kerry juga bertemu para diplomat dari Bahrain dan Dewan Kerjasama Teluk untuk memberi informasi terbaru mengenai pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Rusia terkait aksi militer di Suriah.

Kerry ingin menggalang dukungan dari negara-negara Teluk lainnya bagi rencana mengenai Suriah menjelang pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Jumat 26 Agustus 2016 di Jenewa, Swiss. (Baca: AS Siap Balas Aksi Rusia dan Suriah)

Dalam pertemuan dengan Lavrov, kedua pihak akan berupaya mencapai kesepakatan mengenai kerjasama militer dan berbagi informasi dalam upaya menaklukkan militan ISIS di Suriah.

Lawatan Kerry ke Arab Saudi berlangsung sehari setelah Turki melancarkan ofensif di Suriah untuk menyingkirkan anggota ISIS dari kota Jarablus, yang dikuasai kelompok jihadis itu sejak 2014. Kota itu terletak di seberang perbatasan selatan Turki.

Suriah pada 2014 nyaris jadi target invasi AS dan sekutunya setelah dituduh menggunakan senjata kimia dalam perang sipil. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin yang dikenal sebagai sekutu rezim Suriah dengan cepat melakukan intervensi sehingga invasi dapat dicegah. Putin meyakinkan Barat bahwa rezim Suriah akan menghancurkan semua senjata kimia sehingga tidak ada alasan untuk diinvasi. (Baca: Duel CIA dengan Rusia di Suriah)

About Abu Nisrina

Check Also

Melamun, Netanyahu Tak Akan Izinkan Militer Iran Hadir Permanen di Suriah

Satu Islam, Tel Aviv – Saat bertemu Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Perdana Menteri Israel, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *