Home / Internasional / Pemuda ASEAN dan Dunia Belajar Toleransi di Pesantren Jombang

Pemuda ASEAN dan Dunia Belajar Toleransi di Pesantren Jombang

Satu Islam, Jombang – Sebanyak 150 pemuda dari 22 negara mengikuti ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, Jawa Timur. Selama tiga hari tinggal di pesantren, ratusan pemuda lintas agama dan bangsa itu akan belajar toleransi di pesantren.

Kegiatan ini dibuka Wakil Menteri Luar Negeri RI Abdurrahman Muhammad Fachir. Jombang dipilih sebagai tempat AYIC karena tingkat toleransi antar umat beragama yang tinggi di Kota Santri tersebut. Sebab, santri-santri di pesantren itu berasal dari berbagai daerah di tanah air.

“Pesantren kami anggap efektif untuk pemasyarakatan ini (ASEAN) juga untuk mengenalkan Indonesia ke para pemuda ASEAN dan sejumlah negara lain,” Fachir usai pembukaan AYIC di Islamic Centre Unipdu Jombang, Sabtu 28 Oktober 2017 pekan lalu.

Kondisi di Jombang tersebut sejalan dengan tema yang diusung AYIC 2017, yakni Tolerance in Diversity for ASEAN and World Harmony atau toleransi dalam keberagaman untuk perdamaian ASEAN dan dunia.

“AYIC ini program andalan kita tak hanya untuk memasyarakatkan ASEAN, tapi juga target kami para pemuda,” ujarnya.

Fachir mengatakan kegiatan AYIC ini bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ASEAN ke-50 atau setengah abad. Tujuannya untuk memasyarakatkan ASEAN dan memberikan pengetahuan pada pemuda dari berbagai negara tentang pentingnya toleransi.

Para peserta akan mengikuti seminar, diskusi, dan mengunjungi beberapa tempat ibadah yang ada di Jombang dan Mojokerto serta berkunjung di desa yang masyarakatnya sangat plural namun penuh kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi.

Melalui AYIC, lanjut Fachir, diharapkan para peserta menjadi agen untuk menjaga toleransi dan perdamaian, baik di ASEAN maupun di dunia. Sementara bagi bangsa Indonesia sendiri, selain berbagi ilmu dengan bangsa lain, para pemuda juga diharapkan mengambil peran untuk menjaga rasa toleransi serta kearifan lokal dan nasional.

“Diharapkan bagaimana sikap para pemuda menghadapi tantangan globalisasi termasuk teknologi informasi yang sekarang ini mengubah pola hidup masyarakat. Diharapkan mereka ini menjadi agen-agen,” ujarnya.

AYIC yang pertama kalinya digelar di pesantren ini diikuti 150 pemuda dari Indonesia dan 21 negara lainnya. Mulai dari Kamboja, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, Singapura, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, Pakistan, Madagaskar, Lithuania, Mesir, Maroko, Hungaria, Amerika Serikat, Tanzania, Korea Selatan, Libya, Belanda hingga Inggris.

Peserta dari Belanda, Marloe Feer, mengaku senang dengan kegiatan tersebut karena bisa bertemu dan tukar pikiran dengan pemuda-pemuda dari banyak negara.

“Berada di Unipdu membuat saya bisa bertemu para santri dan tinggal di pesantren merupakan pengalaman yang sangat mengesankan karena di Belanda tak mempunyai ini,” tuturnya.

Selama di pesantren, Marlou berharap bisa belajar banyak terkait toleransi. “Ini kesempatan yang bagus bagi para pelajar dari negara ASEAN dan di luarnya seperti saya dari Belanda untuk mempelajari kebudayaan dan bisa lebih saling memahami satu sama lain,” pungkasnya.

About Abu Nisrina

Check Also

Terjerat Korupsi, 11 Pangeran Arab Tak Diperlakukan Istimewa

Satu Islam, Riyadh – Otoritas Arab Saudi menyatakan tidak akan memberikan perlakuan istimewa kepada 11 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *