Home / Internasional / Hawa Panas Dunia Tatkala Korut Ancam Merudal Guam

Hawa Panas Dunia Tatkala Korut Ancam Merudal Guam

Satu Islam, Pyongyang – Presiden AS, Donald Trump, yang sering kali meluapkan emosinya dengan kalimat yang sembarang, kali ini kena batunya. Komentarnya mengenai Korea Utara berbuah ancaman perang serius dari Pyongyang.

Korea Utara (Korut) mengancam akan menyerang Guam, wilayah Amerika Serikat (AS) di Samudra Pasifikagaimana dilaporkan media  pemerintah negara itu.  Guam adalah rumah bagi fasilitas Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS yang cukup besar. Pesawat-pesawat tempur AS pun siaga dengan berpatroli 10 jam.

Tensi antara Pyongyang dan Washington semakin intens ketika Presiden AS, Donald Trump saat mereaksi uji coba rudal antar benua Korea Utara. Trump lalu meluapkan emosinya melalui akun Twitternya. Ia berulang kali mengeluarkan kalimat bernada ancaman pada negara komunis tersebut.

Ancaman Trump juga diulangi oleh Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson. “Kami bukan musuh Anda. Kami bukan ancaman untuk Anda. Tapi Anda terus menampilkan ancaman yang sulit kami terima, dan kami harus meresponnya,” ujar Tillerson.

Sikap Trump dan AS yang terus memborbardir Korea Utara dengan kata-kata ancaman sempat disindir oleh media China, Xinhua News Agency. Puncak dari terus meningkatnya ketegangan antara Korut dan AS adalah kalimat Trump yang ia sampaikan saat berbicara kepada wartawan Selasa, 8 Agustus 2017. Trump mengabaikan permintaan China yang memintanya untuk tetap tenang menghadapi aksi Korea Utara.

Di hadapan wartawan yang mewawancarainya di sebuah club house golf di New Jersey, ia mengatakan,”sebaiknya Korea Utara tak membuat ancaman apapun pada AS. Mereka akan berhadapan dengan ‘api dan kemarahan’ yang belum pernah dilihat dunia.” Pernyataan ini segera menjadi viral dan mengundang reaksi warganet di AS.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah sebuah laporan yang dirilis Washington Post, mengutip biro intelijen AS, bahwa Korea Utara sukses memproduksi miniatur hulu ledak nuklir dengan daya ledakan yang sangat kuat dan luas.

Hanya selisih sehari, dari ucapan yang disampaikan Trump, Korea Utara menyambutnya dengan pernyataan serius. Kamis, 10 Agustus 2017, Korea Utara menyatakan sedang menyiapkan rencana peluncuran empat roket rudal balistik menuju Guam

Jenderal Korea Utara, Kim Rak Gyom melalui kantor berita milik pemerintah Korea Utara KCNA, memastikan rencana serangan Korea Utara ke wilayah kepulauan Guam, Amerika Serikat. Jika disetujui, peluncuran roket ini akan terjadi pada pertengahan Agustus ini. Artinya, saat ini Amerika dan Korea Utara, berdiri berhadapan dengan senjata ditangan.

“Pasukan Strategis Korea Utara dari Tentara Rakyat Korea (KPA) secara serius memeriksa rencana penyerangan ke pangkalan militer utama Guam melalui  tembakan simultan dari empat roket balistik strategis jarak jauh Hwasong-12. Serangan ini juga akan  memberi sinyal peringatan penting bagi AS,” kata pernyataan tersebut seperti dikutip dari CNN, 10 Agustus 2017.

Menurut pernyataan tersebut, roket Hwasong-12 yang akan diluncurkan oleh KPA akan melintasi langit di atas prefektur Shimane, Hiroshima, dan Koichi di Jepang. Roket ini akan terbang sejauh 3.356,7 kilometer selama 1.065 detik dan diperkirakan mencapai perairan 30 sampai 40 kilometer dari Guam. Hanya tinggal menunggu perintah pimpinan tertinggi Korea Utara, jika disetujui, maka empat rudal balistik mereka akan meluncur.

Sikap Rusia

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengkhawatirkan retorika perang pemerintah Presiden Donald Trump dan pemerintah Kim Jong-un. Dia berharap dan percaya bahwa pada akhirnya akal sehat yang akan menang.

”Rusia bersama dengan China mengembangkan sebuah rencana yang sangat cerdas yang mengusulkan ‘pembekuan ganda’,” kata Lavrov.

“Kim Jong-un harus membekukan uji coba nuklir dan menghentikan peluncuran semua jenis rudal balistik, sementara AS dan Korea Selatan harus membekukan latihan (perang) skala besar,” kata Lavrov mengungkap poin utama proposal tersebut.

Lavrov mencatat bahwa Pyongyang pernah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) namun kemudian mundur dari perjanjian itu.

”Sekarang (Korea Utara) mengklaim memiliki hak legal untuk membuat senjata nuklir dan telah melakukannya,” katanya. ”Tapi Anda tahu posisi kami: kami tidak menerima kenyataan bahwa Korea Utara bisa memiliki senjata nuklir,” lanjut diplomat top Moskow ini seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu 12 Agustus 2017.

Menurut Lavrov, proposal dari Rusia dan China bertujuan untuk mencegah apa yang bisa menjadi salah satu konflik terdalam dan krisis dengan jumlah korban yang besar.

China Tidak Biarkan Korut Diserang

Koran Global Times yang berafiliasi dengan kubu penguasa China edisi Sabtu 12 Agustus 2017 menulis, jika AS dan Korsel ingin melancarkan serangan militer untuk menumbangkan pemerintahan Korea Utara.

Menurut laporan koran tersebut, China tidak akan mengijinkan hal ini terjadi dan jika Korut menembakkan rudal ke wilayah Amerika, Beijing akan netral. Balakangan Beijing menyatakan tidak dapat meyakinkan baik Washington atau Pyongyang untuk mundur. Beijing juga menyatakan peringatan kerasnya kepasa AS dan Kore Selatan.

“Jika AS dan Korea Selatan melakukan penyerangan dan mencoba menggulingkan rezim Korut dan mengubah pola politik Semenanjung Korea, China akan mencegah mereka melakukannya,” demikian pernyataan Global Times itu seperti dikutip dari Reuters, Jumat 11 Agustus 2017.

China telah lama khawatir bahwa setiap konflik di semenanjung Korea, atau terulangnya perang Korea tahun 1950-53, dapat melepaskan gelombang pengungsi yang tidak stabil ke timur lautnya. Kekhawatiran lainya adalah perang tersebut berakhir dengan sebuah daerah bersatu yang bersekutu dengan AS.

Korut adalah negara penyangga yang berguna bagi China di antaranya dan pasukan AS yang berbasis di Korea Selatan (Korsel), dan juga melintasi laut di Jepang.

Global Times mengatakan bahwa China akan menolak setiap pihak yang ingin mengubah status quo dari wilayah di mana kepentingan China diperhatikan.

“Semenanjung Korea adalah tempat kepentingan strategis semua pihak bertemu, dan tidak ada pihak yang harus berusaha menjadi penguasa mutlak wilayah ini,” tegas Global Times.

Australia Bantu AS

Dari Australia, Perdana Menteri Malcolm Turnbull menyatakan, jika Korea Utara menyerang Amerika Serikat, Canberra akan membantu Washington. Namun pernyataan Turnbull ditentang mantan Perdana Menteri Paul Keating.

Keating meyakini Korut tidak akan melepas program nuklirnya, karena hal ini akan mengancam posisi Kim Jong Un dan para jenderalnya.

Rakyat Korut Daftar Perang

Sementara itu Sekitar 3,5 juta orang telah mendaftar jadi tentara Korut untuk berperang dengan AS. Warga Korut telah meminta untuk bergabung atau mendaftar kembali ke militer.

Sebagaimana dilaporkan Sputnik, Sabtu 12 Agustus 2017 warga Korut telah meminta untuk bergabung atau mendaftar kembali ke militer sehubungan dengan sumpah rezim Pyongyang untuk melakukan pembalasan terhadap AS.

“Mereka yang mendaftar termasuk pelajar, pekerja, dan pensiunan tentara,” tulis surat kabar Partai Buruh Korut, Rodong Sinmun, seperti disitat dari Sputnik,

 

About Abu Nisrina

Check Also

Melamun, Netanyahu Tak Akan Izinkan Militer Iran Hadir Permanen di Suriah

Satu Islam, Tel Aviv – Saat bertemu Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Perdana Menteri Israel, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *