Home / Internasional / Eskalasi Ketegangan di Teluk Yang Memburuk

Eskalasi Ketegangan di Teluk Yang Memburuk

Dok: globalresearch.ca

Satu Islam, Doha – Abdel Bari Atwan dari Raialyoum, media digital berbahasa Arab yang berbasis di London, memberikan analisa yang menunjukkan bahwa eksalasi ketegangan di Teluk bisa membawa kepada kemungkinan terburuk, yaitu perang. The Centre for Research on Globalization (CRG), organisasi nirlaba yang memiliki kegiatan riset-riset kemanusian dan media digital yang berpusat di Quebec, Canada, memuat terjemahan tulisannya dalam bahasa Inggris di situsnya, GlobalResearch.ca. Atwan dikenal sebagai seorang jurnalis Arab yang dihormati. Dia adalah salah satu dari “Lima Puluh Orang Arab Paling Berpengaruh” di dunia menurut Majalah ‘Middle East” pada tahun 2012.

Atwan berkesimpulan seperti itu setelah mengerasnya sikap Trump dalam konferensi pers Gedung Putih hari Jumat lalu dan gagalnya upaya mediasi yang dilakukan Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad.

Dalam pernyataaannya Trump menegaskan dukungannya kepada aliansi yang dipimpin Saudi yang memblokade Qatar, dan bahkan sepertinya mengambil alih kepemimpinan melawan Qatar:

“Saya telah memutuskan, bersama-sama dengan Sekretaris Negara Rex Tillerson, jendral-jendral besar dan militer kita, saatnya tiba untuk meminta Qatar untuk mengakhiri pendanaannya,”

Trump bersikap keras setelah beberapa jam sebelumnya Tillerson membuat pernyataan tentang krisis di Teluk yang bernada mendamaikan dan menenangkan. Dia mendesak Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain untuk meringankan blokade terhadap Qatar, dengan alasan bahwa hal itu merusak operasi militer AS melawan kelompok Negara Islam (IS) selain alasan kemanusiaan.

Atwan berpandangan bahwa mengerasnya sikap Trump disebabkan penolakan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Khalifa, untuk memenuhi undangan ke Washington untuk mencari solusi damai atas krisis yang berlangsung di Teluk. Emir Qatar dalam penolakannya beralasan bahwa dia tidak dapat meninggalkan negaranya saat dalam blokade (oleh Aliansi Saudi yang juga memblokade wilayah udara).

Alasan yang sebenarnya adalah Emir Qatar tidak percaya kepada pemerintah AS, dan khawatir undangan tersebut hanya jebakan untuk menahannya di AS dan mencegahnya untuk pulang, sementara pasukan Saudi dan UEA menyerang untuk mendukung kudeta internal yang menggulingkannya sebagai penguasa dan mengangkat emir baru dari cabang lain Al Thani yang berkuasa. Tentara AS yang berjumlah 10 ribu pasukan yang berbasis di Al ‘Udaid di Qatar bisa ikut berperan mendukung scenario tersebut.

Penolakan ini yang memicu kemarahan dan mengerasnya sikap Trump terhadap Qatar.

Trump sebelumnya, dalam pertemuan puncak di Riyadh awal bulan ini, bersama dengan Saudi dan UAE telah membuat pernyataan yang mengejutkan yang menuduh bahwa Iran adalah biang terorisme. Dukungan Trump terhadap aliansi Saudi (UAE, Bahrain dan Mesir) yang mengisolasi Qatar merupakan kelanjutan dari sikap ini, bahwa Qatar adalah sekutu Iran.

Saudi, UAE dan Bahrain telah melakukan pengusiran paksa terhadap warga Qatar dari negara mereka dan menutup perbatasan mereka serta memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Mereka juga memberlakukan undang-undang yang menghukum ungkapan di media sosial yang mendukung Qatar dengan hukuman penjara 15 tahun atau denda hingga satu juta dirham/riyal, ini berarti bahwa semua pembicaraan tentang persaudaraan dan ikatan antar negara-negara Arab di Teluk telah menguap selamanya – bersamaan dengan omong kosong tentang penghormatan kepada hak asasi manusia.

Qatar sediri telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan tunduk blokade ini, dan tidak akan mengubah kebijakan luar negerinya. Qatar mulai mencari dukungan dan perlindungan dari Ankara dan Teheran. Hal ini bisa mendorong lawan-lawannya untuk mengambil tindakan yang lebih keras dan agresif, seperti Mesir untuk mencegah ekspor gas Qatar yang transit di Terusan Suez.

Qatar sebenarnya memiliki kartu sendiri yang bisa dimainkan, seperti menutup pipa yang memasok gas Qatar ke UEA, atau mengusir 200.000 pekerja migran asing asal Mesir. Namun, mereka mengambil sikap tidak akan melakukan tindakan semacam itu. Pekerja Mesir tidak akan ditekan dan gas Qatar akan terus dipompa.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh Emir Kuwait Sheikh Sabah al-Ahmad juga menemui kegagalan. Upaya ini sama sekali tidak direspon oleh semua pihak yang bertikai.

Dalam tulisannya Atwan menutupnya dengan:

“Ketika Trump membawa jenderal-jendralnyanya – beberapa di antaranya berbasis di al-Udeid – masuk ke dalam krisis dan memerintahkan mereka untuk bertindak menghentikan dukungan Qatar terhadap terorisme, kita bisa berharap yang terburuk. ‘Yang terburuk’ dalam kasus ini bisa berarti solusi militer dan memaksakan perubahan rejim. Dan itu berarti menetapkan wilayah (Teluk), sebagian atau seluruhnya, terbakar (oleh perang).” (Fahmi Jubeir)

About Abu Nisrina

Check Also

AS Janji Angkat Kaki dari Suriah Setelah Kalahkan ISIS

Satu Islam, Washington – Amerika Serikat tidak berniat tinggal di Suriah setelah mengalahkan organisasi teroris …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *