Home / Internasional / Bagi Munir, Pahlawan adalah Martir Kebebasan

Bagi Munir, Pahlawan adalah Martir Kebebasan

11150481_890947080951812_8740454718723926076_n
Suciwati Munir, istri almarhum pejuang HAM, Munir menyampaikan sambutan pada peresmian Munirpad di Denhaag, Belanda

Satu Islam, Den Haag – “Hari ini saya bahagia, karena saya mendengar Anda semua mengatakan bahwa suami saya tak mati sia-sia,” demikian Suciwati, istri almarhum Munir Said Thalib, saat peresmian Jalan Munir (Munirpad) di  Den Haag, Belansa pada Selasa 14 April 2015 lalu.

Bagi Suciwati, peresmian Munirpad itu merupakan peristiwa langka. Sebab, Munir, warga Negara Indonesia orang biasa, orang yang berani karena keyakinannya pada kebenaran, kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di Belanda.

Sebuah kehormatan besar dan pasti merupakan hal yang luar biasa Kota Den Haag mengabadikan nama Munir. “Saya yakin apresiasi ini pasti tidak sembarangan, nama Munir ada di sini karena apa yang dia lakukan. Sayangnya, bukan di tanah airnya sendiri. Bukan di negeri tempat ia lahir dan dibesarkan bersama orang-orang lain yang mengaku sebangsa. Bukan diberikan oleh Ibu Pertiwi yang kepadanya ia bersumpah setia sepanjang hidupnya,” katanya.

Menurut Suciwati, bagi Munir, seorang Pahlawan adalah martir kebebasan tak dikenal, yang gugur di medan perang dan dikebumikan tanpa pusara. “Nilai-nilai yang diyakini, hal-hal baik yang kita kerjakan tak perlu dikenang. Munir hanya bekerja tanpa henti dan terus-menerus mendorong kemanusiaan dan hak asasi di Indonesia hadir dan masuk di ruang kehidupan bernegara. Kehidupan masyarakat yang berkeadilan sosial tanpa penindasan dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi tanpa kekerasan. Itu saja cita-cita Munir,” tandasnya.

“Kita berada di sini untuk sekali lagi menyegarkan ingatan bahwa perjuangan bagi perlindungan hak-hak asasi manusia bersifat universal karena tak ada sistem politik, ekonomi dan budaya yang sempurna, bebas dari diskriminasi dan eksploitasi. Hak-hak asasi manusia adalah suatu konseptualisasi untuk mengisi kelemahan atau kekosongan pada sistem-sistem yang ada dan membuatnya menjadi seimbang,” ujarnya.

“Kita merayakan ingatan itu di sini, di Belanda, melalui kenangan terhadap Munir, ini semua bukan bukti pengkhianatan pada nasionalisme, melainkan bukti kesadaran bahwa perlindungan bagi hak-hak asasi manusia adalah ideal yang dihargai dan bisa diperjuangkan oleh setiap orang dari nasion apa pun,” katanya.

Suciwati berharap, hal itu justru menjadi pijakan Pemerintah Indonesia yang baru agar segera menangkap dalang pembunuh Munir  “Terimakasih, sahabat-sahabatku, untuk menghargai perjuangan suami saya dengan cara yang luar biasa ini. Saya sendiri, sebagai istri yang setia mendampinginya, saya tak pernah punya keinginan agar Munir diabadikan menjadi nama jalan di manapun,” katanya.

Suciwati katanya, hanya menginginkan kehadirannya sebagai lelaki biasa yang mencintai dia, mendampingi dia, menjadi Ayah dan membesarkan anak-anak mereka. “Terimakasih untuk terus menyemangati dalam pencarian keadilan ini,” katanya.

Wanita Tangguh

Seperti diketahui, pada 7 September 2004, pegiat hak asasi manusia, Munir Said Thalib, mengembuskan napas terakhir setelah diracun dalam penerbangan GA-974 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Amsterdam, Belanda. Suciwati hingga kini sendirian  membesarkan dan menghidupi kedua anak mereka, Soultan Alif Allende dan Diva Suukyi Larasati.

Perjuangan mengungkap dalang pembunuh suaminya, yang sampai sekarang belum juga terungkap hingga tuntas, tak putus dilakukannya. Namun, tak mengurangi peran gandanya membesarkan anaknya yang beranjak remaja.

Alif, kelahiran 12 Oktober 1998 sekolah di sebuah pesantren di Malang, Jawa Timur. Sementara Diva, yang lahir 18 Juli 2004, masih kelas V SD. Suciwati sejak 2011 kini tinggal dekat dengan anaknya di Malang.

Di sela-sela kesibukannya mencari nafkah, tak lupa Suciwati mengurus Museum Omah Munir di Jalan Bukit Berbunga Nomor 2, Batu. Ruah itu, dibeli bersama Munir setelah mereka menikah pada 1996. Museum itu berdiri 8 Desember 2013, menjadi saksi perjuangan Munir, yang bisa dilihat publik.

Rumah itu kini menjadi media belajar HAM bagi semua orang. Berbagai display tentang figur dan perjuangan Munir dipajang di museum, yang dilengkapi dengan kafe dan toko suvenir. Hasil penjualan barang dan minuman dipakai untuk biaya operasional museum serta membayar karyawan.

Suciwati, yang pernah mendapat penghargaan The Right Livelihood dari Swedia dan penghargaan An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize, kini memiliki kesibukan di dunia pendidikan. Suciwati bersama teman-temannya mendirikan sekolah taman kanak-kanak di Malang.

Sepeninggal Munir, Suciwati hidup tangguh dan mendidik kedua anaknya secara demokratis, namun anak-anak diajarkan tetap bertanggung jawab pada pendidikannya dan membantu Ibunya dalam pekerjaan di rumah.

About Abu Nisrina

Check Also

UNRWA: 450 Ribu Pengungsi Palestina di Suriah Terancam Krisis Pangan

Satu Islam, Beirut – Badan PBB untuk Pekerja Bantuan (UNRWA) mengatakan, hampir 450 ribu pengungsi …