Home / Internasional / 9 dari 10 Negara Paling Tidak Aman di Dunia Merupakan Target Intervensi AS

9 dari 10 Negara Paling Tidak Aman di Dunia Merupakan Target Intervensi AS

Satu Islam, Mineapolis – Indeks Perdamaian Global (Global Peace Index) 2017 melaporkan bahwa Suriah, Afghanistan, Irak dan Sudan Selatan termasuk di antara negara-negara “paling tidak damai” di dunia. Keempat negara ini juga menjadi sasaran upaya destabilisasi yang dipimpin AS untuk kepentingan ekonominya.

Laporan tahunan Indeks Perdamaian Global, yang baru saja dirilis di bulan Juni 2017, menunjukkan bahwa dunia sekarang lebih damai dibanding tahun lalu, namun dalam satu dekade terakhir, secara keseluruhan kekerasan telah meningkat secara signifikan.

Meskipun di banyak negara situasi umumnya telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, di sepuluh negara di peringkat terendah – yang dikenal sebagai negara “paling tidak damai” di dunia – hampir tidak menunjukkan adanya perubahan.

Namun, ada kesamaan di 9 dari 10 negara tersebut, yaitu: upaya destabilisasi dan perubahan rejim yang dipimpin oleh AS

Suriah, Irak dan Afghanistan: Sasaran untuk perubahan rejim dan konflik sektarianisme

Suriah, yang menduduki peringkat terakhir dalam indeks, mengalami pergolakan selama 6 tahun terakhir, bagian dari upaya perubahan rejim yang dipimpin AS – sebuah konflik yang telah menghancurkan satu negara yang sebelumnya termasuk paling makmur di Timur Tengah dan menjadi medan perang proxy terbaru antara AS dan Rusia.

AS telah merencanakan menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak tahun 2006. Dimulai saat “pemberontakan” di tahun 2011, AS terus mendanai dan mempersenjatai kelompok-kelompok oposisi di Suriah bersama dengan beberapa kelompok ekstremis lainnya, yang banyak di antaranya bergabung dengan organisasi teroris seperti Daesh (ISIS) dan Front al-Nusra.

Irak dan Afghanistan, yang berindeks sedikit di atas Syria, merupakan negara-negara yang menjadi sasaran invasi besar AS pada awal tahun 2000-an dan kehadiran AS yang terus berlanjut di kedua negara tersebut adalah faktor utama yang menjadi penyebab situasi yang memburuk di kedua negara.

Konflik yang meningkat sulit untuk dielakkan dengan kehadiran pasukan AS di Irak yang terus bertambah dan di Afghanistan yang meningkat secara dramatis dengan penempatan lebih dari 50.000 tentara,.

Sudan Selatan: “Pembangunan Nasional” yang tidak berjalan baik

Sudan Selatan, yang berada di peringkat 4 negara dengan indeks terendah, juga menjadi korban intervensi AS dan upaya “pembangunan nasional”

AS mendorong Sudan Selatan untuk memisahkan diri dari Sudan pada tahun 2011 karena Sudan Selatan memiliki 75 persen cadangan minyak Sudan – cadangan terbesar di Afrika. Analis berpendapat bahwa AS berusaha memerdekakan Sudan Selatan untuk mengusir Cina dari minyak Sudan. Cina sebelumnya menandatangani kontrak minyak dengan pemerintah Sudan (yang sekarang di Utara). Bantuan AS yang signifikan ke Sudan Selatan, yang berjumlah $ 1,6 miliar antara tahun 2013 dan 2016, menunjukkan bahwa Washington telah berusaha mempengaruhi pemerintah di sana untuk tujuan itu.

Namun, dua tahun kemudian, Sudan Selatan menjadi arena perang saudara yang mematikan, yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan mengungsikan lebih dari 1,5 juta orang. Beberapa analis mengatakan bahwa perang saudara antara Presiden Sudan Selatan Salva Kiir Mayardit dan mantan wakilnya Riek Machar pecah ketika Mayardit mulai akrab dengan Cina.

Kekacauan karena campur tangan AS di Sudan Selatan meluber melewati batas negara dan membawa masalah ke Sudan, yang membuat Sudan (Utara) duduk di peringkat 8 sebagai negara yang paling tidak damai.

Yaman: Serangan Saudi yang didukung AS bertanggung jawab atas krisis kelaparan dan kejahatan perang yang terjadi

Yaman, yang berada di peringkat 5, juga terlibat dalam konflik yang terkait dengan AS, meskipun peran AS tidak langsung. Sementara AS tidak memimpin langsung perang di Yaman, pihaknya sejak awal dengan gigih mendukung agresor perang – yaitu Arab Saudi – dan telah memasok senjata bernilai miliaran dolar kepada milisi, sambil sesekali mengebom lokasi di Yaman untuk membantu sekutu Teluk mereka.

AS juga menutup mata terhadap banyak kejahatan perang di Yaman, meskipun banyak tragedi yang terjadi di sana, termasuk menghalangi pengiriman bantuan dan akibatnya memicu krisis pangan yang meluas. AS sejak dulu ingin melihat pengaruh Saudi yang langgeng di Yaman – seperti sebelum terjadinya konflik – karena lokasi Yaman, yang memungkinkannya mengontrol selat strategis Bab al-Mandab, sebuah titik-kritis dalam jalur perdagangan minyak Saudi.

Yaman disusul oleh Somalia dalam peringkat.

Somalia: Anarki berlanjut berkat keterlibatan AS

Keterlibatan AS di Somalia memiliki sejarah panjang dan mencapai klimaks di awal 1990an, ketika diktator militer yang didukung AS di Siad Barre terguling, yang membuat negara tersebut terjun ke dalam perang sipil.

AS ikut terlibat di Somalia berkat lokasi strategis negara tersebut di muara Laut Merah untuk pasar minyak global, dan, menurut seorang staf kepala operasi PBB Somalia, “menyeret PBB ke kisruh di Somalia”. Somalia 16 tahun dalam keadaan anarki sampai sebuah koalisi bersyariat Islam mengambil alih ibukota pada tahun 2006. Namun, pemerintahan ini segera digulingkan oleh Ethiopia dengan dukungan AS.

Kebijakan anti terorisme AS saat ini di Somalia, termasuk penggunaan serangan udara, disalahkan jadi penyebab memburuknya konflik nasional dan krisis kemanusiaan yang terjadi, yang mendorong negara ini ke dalam krisis kelaparan.

Libya: Tergelincir ke dalam kekacauan setelah menantang petrodollar AS

Korban baru dari upaya perubahan rejim oleh AS, Libya sekarang menempati peringkat 7 negara yang paling tidak damai di dunia. Libya sebelumnya merupakan salah satu negara paling makmur di Afrika, sampai mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi membuat “kesalahan” menantang sistem petrodollar AS dengan menciptakan mata uang pan-Afrika berdasar cadangan emas yang dikenal sebagai dinar. Setelah Khadafi jatuh, Libya berubah menjadi negara gagal dimana masih belum ada pemerintahan yang jelas, terorisme merajalela dan perbudakan sekarang diperdagangkan secara terbuka di depan umum.

Ukraina: Target kudeta yang dipimpin AS karena industri gas

Ukraina yang menjadi sasaran kudeta yang dipimpin AS pada tahun 2014 untuk melemahkan pengaruh industri gas Rusia di pasar gas Eropa, sekarang berada di peringkat 10 di antara negara-negara yang paling tidak damai di dunia.

Satu-satunya negara di peringkat bawah yang belum terlihat adanya keterlibatan AS adalah Republik Afrika Tengah, yang berada di peringkat 9.

Amerika Serikat di peringkat yang tidak termasuk negara damai

Amerika Serikat sendiri juga jatuh drastis dalam Indeks Perdamaian Global tahun ini, yang sekarang berada di peringkat 114 dari 163 negara yang disurvei. Penurunan ini terbesar dari semua negara yang disurvei tahun ini. Ahli statistik menyalahkan perpecahan nasional yang diakibatkan pemilu presiden 2016, serta tingkat kriminalitas pembunuhan yang terus meningkat.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik militer di luar negeri tidak diperhitungkan dalam menentukan peringkat, yang artinya penentuan peringkat ini dilakukan dengan sangat konservatif. Seperti telah ditunjukkan, jika faktor ini dipertimbangkan, AS mungkin bisa termasuk peringkat bawah karena perannya dalam memacu konflik yang dahsyat dan mematikan di seluruh dunia dengan kedok kebijakan luar negeri. (Whitney Webb di http://www.mintpressnews.com)

Whitney Webb adalah kontributor kantor berita dalam bahasa Inggris dan Spanyol; Tulisannya diantaranya ditampilkan di Mintpress, ZeroHedge, Anti-Media, 21st Century Wire, dan True Activist – dia saat ini tinggal di Chili Selatan.

About Abu Nisrina

Check Also

Melamun, Netanyahu Tak Akan Izinkan Militer Iran Hadir Permanen di Suriah

Satu Islam, Tel Aviv – Saat bertemu Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Perdana Menteri Israel, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *