oleh

Inferno, Isra Mikraj, dan Perhelatan Pemilu

Dalam sejarah sastra klasik Eropa, kita mengenal sastrawan Italia Dante Alighieri dengan karya puisinya yang sangat terkenal: “Divina Commedia” yang secara harafiah bermakna Komedi Ilahi. Salah satu bagian yang terkenal dari Divina Commedia adalah “Inferno” yang bermakna neraka. Di bagian ini, Dante menceritakan beragam siksaan yang akan dialami oleh para pendosa, termasuk mereka yang melakukan dosa-dosa sosial.

Banyak peminat sastra menilai Inferno adalah bentuk satire dari Dante kepada para politisi di saat itu. Hanya saja, sindirannya itu dikemas dalam bentuk komedi. Misalnya, Dante berbicara mengenai Gluttony, salah satu tempat di neraka. Ini adalah sebuah tempat yang dipenuhi lumpur menjijikkan berisi bangkai busuk. Mulut dan perut penghuni Gluttony dipenuhi oleh benda-benda menjijikkan tersebut. Siapakah penghuni Gluttony? Mereka adalah orang-orang yang egois, kikir, dan serakah.

Jenis neraka lainnnya bernama Greed, yaitu tempat orang-orang yang suka menimbun uang, menggelapkan pajak, dan suka hidup berfoya-foya tanpa pernah beramal. Tubuh mereka akan ditindih dengan batu-batu besar sampai mereka mati karena tak sanggup menahan siksaannya. Lalu, mereka dihidupkan lagi, ditindih lagi, dan seterusnya.

Ada juga tempat bernama Fraud di mana para penghuninya disiksa dengan cara kepala mereka diputar 360 derajat oleh monster berkepala tiga. Mereka juga disiksa sampai tulangnya kelihatan lalu direndam dalam kotoran busuk. Ini adalah neraka bagi para penipu dan para pelaku korupsi.

Sementara itu, lubang neraka terakhir adalah Treachery. Dante menulis, Lucifer (setan) yang menakutkan akan memakan penghuni tempat ini satu persatu. Setelah itu, tubuh mereka akan utuh kembali dan kembali dimakan, terus secara berulang-ulang dan abadi. Siapakah penghuni Treachery? Mereka adalah para cendikiawan atau ahli agama, pengkhianat, dan para pendusta yang mengatasnamakan agama.

Sebagian peneliti sastra melihat bahwa ada korelasi kuat antara Inferno-nya Dante dengan kisah Isra Mikraj Rasulullah SAW, minimal dari sisi kontennya. Sebagian malah meyakini bahwa Inferno terinspirasi oleh karya-karya klasik sastrawan Muslim yang mengisahkan ulang perjalanan spiritual Isra Mikraj dalam bentuk syair.

Dalam kisah Isra Mikraj, saat melakukan perjalanan menuju Sidratul Muntaha, diceritakan bahwa pandangan mata batin Rasulullah SAW dibuka oleh Allah SWT sehingga beliau mampu menyaksikan beberapa jenis siksaan yang akan dialami oleh manusia yang melakukan dosa-dosa tertentu. Kita lihat lagi beberapa di antaranya.

Salah satu siksaan yang dilihat Baginda Nabi adalah orang yang mengumpulkan kayu bakar, dan merasakan beratnya memikul kayu yang ia kumpulkan. Ketika beban yang ia pikul menimbulkan rasa sakit yang mematahkan pungungnya, beban tersebut malah semakin berat, dan makin meremukkan tulang-belulangnya. Jibril lalu menjelaskan bahwa itu adalah siksaan yang akan diterima oleh ummat Nabi Muhammad yang memangku banyak sekali jabatan dan amanah karena keserakahannya.

Siksaan lainnya, Nabi melihat sekelompok orang yang mengguntingi lidah dan bibir mereka. Setiap guntingan disertai dengan jerit kesakitan. Akan tetapi, setiap kali lidah dan bibir mereka digunting, lidah dan bibir tersebut kembali seperti sedia kala. Mereka melakukan hal tersebut terus menerus tanpa berhenti. Jibril berkata bahwa itu adalah para pengkhutbah dari ummat Nabi. Mereka fasih bicara agama. Akan tetapi, isi khutbahnya menimbulkan fitnah dan keburukan bagi ummat. Di sebagian riwayat, dikatakan bahwa Rasulullah SAW melihat para pengkhutbah yang jahat itu seperti monyet-monyet yang menaiki mimbar.

Kemudian, ada juga siksaan lainnya, berupa cakaran yang dilakukan oleh diri sendiri dengan kuku yang tajam. Tentu saja cakarannya itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Akan tetapi, mereka terus menerus mencakari diri mereka sendiri. Siapakah mereka itu? Kata Jibril, itu adalah orang yang gagal mengontrol mulutnya dari hal-hal yang buruk. Ia adalah orang yang terbiasa menggunjing dan melecehkan kehormatan orang lain. Mereka adalah para provokator yang menciptakan fitnah di tengah-tengah masyarakat.

Peringatan Isra dan Mikraj Kanjeng Nabi Muhammad SAW tahun ini diperingati hanya berjarak dua minggu sebelum perhelatan pemilu serentak. Banyak di antara kita yang melewatkan relasi di antara keduanya. Padahal, sejatinya, Isra Mikraj adalah peristiwa yang sangat terhubung dengan masalah sosial politik di sepanjang masa, termasuk masa kita saat ini. Perhatikanlah, bagaimana fenomena keserakahan, fitnah, dan pengatasnamaan agama sedemikian marak di masa kini. Politik yang hanya dimaknai sebagai strategi untuk merebut atau mempertahankan jabatan telah menjebak orang-orang untuk melakukan beragam dosa sosial.

Seperti Inferno-nya Dante yang tetap relevan untuk menyindir perilaku para politisi zaman sekarang, sejatinya peristiwa Isra dan Mikraj Baginda Nabi yang kita peringati saat ini tidak melulu berbicara mengenai mukjizat, keajaiban, dan kemahabesaran Allah SWT. Kita bisa juga menjadikan Isra dan Mikraj untuk merenungi nasib kita, keluarga kita, dan bangsa kita di akhirat kelak. (liputanislam)

Otong Sulaeman
Dosen STFI Sadra, Peneliti ICMES

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed