oleh

Ihwal Pembunuhan, dari Bin Adam hingga Bin Salman

Drama kehidupan, versi Kitab Suci, dimulai ketika Allah meminta seluruh penghuni alam malakut sujud kepada Adam. Dan semuanya sujud kecuali Iblis.

Dia “enggan dan bersikap arogan”. Dia merasa lebih baik dari Adam. Dan dengan sikap itu, Allah menyebutnya kafir. (QS.2:34)

Adam lalu berketurunan. Punya anak yang bernama Kabil dan Habil.
Keduanya ahli ibadah. Keduanya berkurban.
Hanya saja, ibadah yang ditekuni Kabil tidak membuatnya bertakwa. Hatinya tetap kasar. Arogan. Indikasinya, dia pemarah dan mengancam membunuh Habil.
Dan benar-benar membunuhnya. (QS.5:27-30)

Dari kasus Kabil dan Habil itu, Allah lalu menegaskan satu hukum (syari’at) yang berlaku umum.
Sampai sekarang dan selamanya.
Yaitu bahwa: Barangsiapa yang membunuh satu orang, sama dengan membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa yang menyelamatkan satu orang, sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. (QS.5:32)

Babilonia.
Saat patung kecil di kuil berhala rusak, Raja Namrut memanggil Ibrahim, lalu menanyakan perihal kerusakan tersebut. Ketika Ibrahim berdialog dengannya seraya membangun argumen-argumen rasional, Namrut murka.
Lalu mereka berseru agar Nabi Allah tersebut dibunuh atau dibakar.
(QS.21:68 dan 29:24)

Mesir Kuno.
Raja Firaun tetap bersikukuh bahwa kemampuan adialami yang dipertunjukkan Musa hanyalah sihir. Tetapi ketika tukang-tukang sihir itu sujud beriman kepada Musa, Firaun marah besar.
Titah keluar. Tukang-tukang sihir itu dipotong kaki dan tangannya secara bersilangan.
(QS.7:124; 20:71; 26:49)

Mekah zaman Jahiliah, setelah setengah abad berlalunya Tahun Gajah. Perang Uhud berlangsung sengit. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi (Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib), syahid. Tubuhnya dicincang. Dadanya dirobek. Jantungnya dimakan oleh Hindun, istri Abu Sufyan dan ibu dari Muawiah.

Tidak lama setelah Utsman terbunuh, secara aklamasi Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib terangkat sebagai Khalifah yang Keempat. Tetapi Muawiah tidak puas. Ratusan ribu pasukan bersenjata dikerahkan ke Kufah untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. Terjadilah Perang Shiffin. Puluhan ribu wanita dan anak-anak menjadi janda dan yatim. Perang berakhir dengan arbitrase. Muawiah jadi Raja Pertama Dinasti Umayyah.
Sementara Ali terbunuh di masjid dalam keadaan kepala terbelah saat memimpin salat subuh, ketika sedang sujud. Di Bulan Suci Ramadan.

Sebelum meninggal, Muawiah menunjuk secara sepihak putranya, Yazid bin Muawiah bin Abu Sufyan, cucu Hindun, menjadi raja berikutnya. Banyak yang menolak untuk berbaiat. Termasuk Alhusain, putra Ali, putra Fathimah binti Muhammad, cucu Nabi. Akibatnya, Yazid marah besar.

Mendengar laporan bahwa Alhusein meninggalkan Madinah dan Mekah menuju Kufah, Yazid memerintahkan Gubernurnya di sana, Ibnu Ziad, mengirim puluhan ribu prajurit perang untuk membunuh cucu Nabi tersebut bersama sahabat, kerabat, dan anak-anaknya.

Pembunuhan cucu Nabi tersebut terjadi di Karbala. Dengan cara sadis.
Diserang anak panah dari seluruh penjuru, ditombak, dilempar batu, diinjak kuda. Oleh Syimr al-Jausyan, kepalanya kemudian dipisahkan dari badannya. Kepala itu dimasukkan di ujung tombak.
Lalu diarak ke Kufah, kemudian diteruskan ke Istana Yazid di Damaskus.

Empat belas abad kemudian, bersamaan dengan masuknya milisi-milisi bersenjata ke Suriah, ISIS _(the Islamic State of Iraq and Syria)_ mendeklarasikan berdirinya kekhalifahan Islam versi mereka di Mosul, Irak. Memaksa semua orang berbaiat. Yang tidak mau, dibunuh, kepalanya dipenggal, atau dilempar dari atas gedung.

Agar kekhalifahan ini cepat berdiri, maka Pemerintah Suriah pimpinan Basyar Asaad harus dijatuhkan. Dibangunlah solidaritas internasional dalam bentuk *Friends of Syria*, yang didukung oleh Amerika, Inggeris, Perancis, dan Saudi bersama kawan-kawan Timur Tengahnya seperti Turki, Yordania, Qatar, UAE. Tentu tak ketinggalan Israel, walau di tempat yang samar. Salah satu tokoh penting di dalamnya adalah jurnalis dan penasehat Kerajaan Saudi yang bernama Jamal Khashoggi.

Asaad belum jatuh, kekhalifahan Islam belum juga berdiri. Namun, atas titah Muhammad bin Salman (MBS), Putra Mahkota dan sekaligus pelaksana tugas Raja Saudi, Aliansi beberapa negara Islam pimpinan Saudi, 22 Maret 2015 menyerang negara Arab Islam termiskin tetangganya, Yaman.
Sampai sekarang. Sudah puluhan ribu korbannya. Termasuk anak-anak. Dan jutaan lainnya mengungsi, mengalami malnutrisi, dan mengidap berbagai macam penyakit mematikan.

Jamal Khashoggi tidak setuju langkah MBS tersebut. Mungkin karena masalah kekhalifahan di Suriah dan Irak yang terancam gagal total. Apalagi setelah Saudi juga memblokade dan mengembargo Qatar, monarki keemiran keluarga al-Thani dari Bani Tamim, yang lebih akomodatif terhadap Ikhwanul Muslimin, tempat Jamal aktif. Aljazeerah, yang berbasis di Qatar, sering menampilkan tulisan Jamal yang mengkritik reformasi versi MBS tersebut.

MBS murka. Tanggal 2 Oktober 2018, squad yang terdiri dari 15 orang dikirim ke Konsulat Saudi di Istanbul. Ke 15 orang yang mengendarai 2 jet pribadi itu terdiri dari intelijen, pejabat keamanan, dan ahli forensik. Siang harinya Jamal masuk dan tak pernah keluar lagi. Tulisan terakhir Jamal tentang Suriah di www.washingtonpost.com (Rubrik _Global Opinions_, 3 Juli 2018) adalah: It’s time to divide Syria (sudah waktunya Suriah dipotong-potong–menjadi beberapa negara).

Beberapa hari kemudian, pihak otoritas Turki melaporkan bahwa Jamal Khashoggi disiksa dan dibunuh dengan cara sadis di dalam Konsulat Saudi tersebut. Tubuhnya di potong-potong menjadi 15 bagian. Dan orang dekat MBS, Saud al-Qahtani, yang memantau pelaksanaan operasi itu dari Riyadh melalui Skype berseru: _“Bring me the head of the dog.”_ (Bawa ke saya kepala anjing itu).

Di Saudi, Raja tak saja menjadi pemangku amanat _Ahlul Halli wal Aqdi_ (pemegang otoritas keagamaan untuk urusan umat), tapi juga bergelar _Khadimul Haramain_ (Pelayan Dua Tanah Haram–Mekah dan Madinah). Sebagai Putra Mahkota, maka tentu saja MBS adalah pemangku amanat _Ahlul Halli wal Aqdi_ dan _Khadimul Haramain_ berikutnya.

“Bagaimana mungkin Allah tidak mengazab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam. Dan mereka bukanlah pihak yang berhak menguasainya? Tiada yang berhak menguasai(nya) kecuali orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka (orang Islam) tidak mengetahui. Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan (belaka). Maka (dikatakan nanti kepadaya) rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”
(QS.8:34-35).

Muhammad Rusli Malik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.