Home / Humaniora / Renungan / Redefinisi Khilafah dan Imamah : “Jalan Tengah” Antara Sunnah dan Syiah

Redefinisi Khilafah dan Imamah : “Jalan Tengah” Antara Sunnah dan Syiah

jalanSatu Islam, Jakarta – Dia termulia bukan hanya berhasil membangun peradaban menjulang yg berdiri diatas wahyu, hati dan nalar dg airmata, peluh dan darah, namun juga karena dia tidak akan berpamit tanpa lebih dulu menjamin keterjagaannya.

Pemimpin yang baik bukan hanya mampu memimpin semasa aktif dan hidup, namun mempersiapkan skema detail suksesi pemimpin yang sama dengannya. Ia bukan hanya pemimpin yang baik, namun yang terbaik. Yang terbaik lebih mengenal siapa yang terbaik untuk mengawal wahyu yang diterimanya.

Yang memerlukan curahan wahyu bukan hanya satu generasi, karena kewajiban dan hak setiap insan sama. Karenanya, umat tanpa jeda masa generasi demi generasi harus memperoleh bimbingan wahyu agar tuntutan dan taklifnya tetap berlaku sama.

Andai curahan wahyu hanya bisa dinikmati oleh satungenerasi saja, maka generasi berikutnya tidak patut dituntut dengan tanggungjawab dan taklif yang sama. Kesamaan taklif setiap insan meniscayakan berlangsungnya bimbingan wahyu dari pribadi yang tak lagi berposisi sebagai “pasien” (yang dibimbing). Karenya, Allah SWT dan cahayaNya yang kedua, Muhammad SAW, yang dipredikasi dalam al-Quran sebagai manusia yang “harish bil mu’minin” (sangat antusias dan amat peduli terhadap orang-orang mukmin) tidak mungkin menganggap keberhasilan hanya ditentukan kedahsyatan pada perintisannya dan kehebatan pelopor dan pendiri, namun ditentukan keberhasilannya mempersiapkan memastikan kelanggengan apa yang telah dipancang dan didirikannya.

Kepemimpinannya adalah proyek transenden. Karenanya, kelanjutan kepemimpinannya pun niscaya transenden. Kepemimpinan transenden yang dinamakan Nubuwah ini bukanlah kepemimpinan lokal dan administratif semacam pengelolaan negara yang tidak sebanding dengan luasnya area tugas dan taklifnya sebagai pribadi yang menyandang sifat-sifat Tuhan, seperti ra’uf dan rahim, sebagaimana tertera dalam banyak ayat suci dalam al-Quran.

Kepemimpinan transenden Muhammad SAW terlalu agung dan kudus untuk dipandang sebagai pemegang kekuasaan artifisial negara yang bermakna kepemimpinan administratif. Karena itu, konfirmasi tentang suksesi kepemimpinan transenden ini tidak bisa ditafsirkan sebagai kontra kepemimpinan atau kekuasaan administratif yang formal yang telah berjalan sejak kekhalifahan pertama (khilafah). Dengan kata lain, imamah sbg kepemimpinan transenden tidak niscaya menafikan fakta objektif kepemimpinan formal (khilafah) dengan semua capaian dan catatan-catatannya.

Imamah dan khilafah yang menjadi ciri khas dua produk peradaban Islam, Sunni dan Syiah, harus dilihat dan dipahami dengan nalar yang tinggi dan hati yang rendah. Saatnya menyudahi setiap Muslim apapun mazhabnya mengakhiri saling benci yang menjadi tontonan gratis sentra hegemoni kapitalis daz zionis. [satu islam/bahmaniar]

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Tahukah Anda, Hewan ini Beri Kesaksian Kenabian Muhammad saw

Satu Islam – Rasulullah SAW merupakan seorang Nabi dan Rasul yang menjadi rahmat bagi semesta …