Home / Humaniora / Memaknai Gerhana Bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Memaknai Gerhana Bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi

Satu Islam, Purwakarta – Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, selama ini dikenal sebagai penafsir hubungan alam dan manusia. Ia memiliki empat pilar pemikiran agar kehidupan manusia dan semesta berjalan baik. Empat pilar itu adalah tanah, udara, air dan matahari.

Terkait hubungan tersebut, Kang Dedi Mulyadi punya pendapat khusus terkait dengan Gerhana Matahari yang akan berlangsung besok, Rabu 9 Maret 2016. (Baca: Dedi Mulyadi: Empat Potensi Alam Bisa Bangkitkan Indonesia)

“Gerhana matahari ini ada makna khusus buat saya. Pertama, cahaya rembulan dipasok dari matahari. Dominasi sumber cahaya sepanjang eksistensi keduanya sangat akrab dan saling mengisi. Tetapi pada momen tertentu, yakni ketika matahari dalam satu garis bersama rembulan, pada akhirnya kita akan melihat situasi yang berbeda dari biasa. Ini situasi liyan. Ini bermakna bahwa sekalipun matahari memiliki dominasi, memiliki kekuasaan, pada situasi tertentu tidak bisa memancarkan cahaya sebagaimana mestinya dan melahirkan kegelapan,” paparnya.

Kang Dedi berpendapat, makna dari gerhana matahari secara filosofis membuka pencerahan bahwa dalam hidup sekalipun manusia itu mendominasi dalam kekuasaan ia tetap tidak bisa berjalan sendiri, melainkan juga membutuhkan relasi dengan pihak yang diberi.

“Secara sosial, sekuat atau sebaik apapun seseorang, tetapi bergantung pada relasi, termasuk relasi yang lemah. Kita tidak bisa sombong bahwa semua relasi bisa dikendalikan secara semena-mena. Ada yang memberi ada yang diberi. Ada yang memasok ada pula yang dipasok. Posisinya sama-sama sejajar. Itulah mengapa misalnya, pendidikan yang mencerahkan adalah yang mampu mewujudkan hubungan setara antara guru dan murid. Itulah mengapa kekuasaan yang baik adalah hubungan sejajar antara pejabat dan rakyat,” ucapnya.

Kedua, situasi liyan berupa kegelapan sesaat dari gerhana matahari dalam pandangan Kang Dedi Mulyadi mengakibatkan situasi yang spektakuler dan menyimpan makna tersendiri, bahkan situasi kegaiban.

“Kalau sudah biasa terang, gelap kemudian menjadikan situasi mencekam. Mungkin sekarang pandangan orang sudah makin rasional sehingga kegelapan itu hanya dianggap eksotisme alam. Kalau dulu tahun 1983, saat itu saya masih kelas 4 SD ngumpet di rumah. Pemerintah melarang aktivitas masyarakat di luar. Bapak saya shalat gerhana di masjid bersama warga. Saya ngumpet di rumah sambil mukul-mukul kentongan,” kenangnya.

Dalam pandangan Kang Dedi Mulyadi, mitos semacam matahari dimakan buto ijo itu sesuatu yang lumrah karena setiap masyarakat selalu memiliki mitos. Tetapi bukan berarti mitos selalu buruk karena tergantung kemampuan manusia menyerap maknanya. Sebab menurut Dedi Mulyadi, banyak pemikir-pemikir yang kritis terhadap relasi manusia dan budaya menerima mitos sebagai sesuatu yang integral dalam budaya manusia.

“Karena itu yang terbaik dari kita tidak membenturkan mitos dengan logos, melainkan lebih baik memaknai mitos secara konstruktif. Dan gerhana buat saya memberikan hikmah bahwa pencerahan harus terus berlangsung. Dengan adanya kegelapan walaupun hanya sesaat ternyata membuat kita ngeri dalam cekam. Kita tarik maknanya dalam kehidupan sehari-hari berarti jika hidup tanpa pencerahan maka situasi sangat mencekam. Dan saya merasakan itu dalam kehidupan bangsa ini,” ujarnya.

Dalam pandangan Kang Dedi Mulyadi, makna gerhana dalam ruang lingkup kebudayaan manusia sangat penting ditafsir, terutama dimensi filosofisnya.

“Gerhana matahari ini memberikan peringatan kepada pejabat-pejabat negara seperti saya agar dalam memimpin masyarakat itu harus konsisten menggarap pencerahan. Pencerahan pemikiran bukan sebatas urusan bangku sekolah, melainkan urusan kebudayaan dan harus dijalankan sebagaimana gerak matahari yang tulus menyinari semesta,” jelasnya.- Amy/Rudi/Katakini.com

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Teks Lengkap Ceramah Habib Umar bin Hafidz di JIC

Satu Islam – “Islam Kita Menyatukan, Bukan Memecah Belah Umat” Alhamdulillah segala puji milik Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *