Home / Humaniora / Renungan / Kecemasan adalah Kekufuran

Kecemasan adalah Kekufuran

Satu Islam – Kegelisahan dan kecemasan adalah ketakutan. Ketakutan adalah akibat niscaya ketidaktahuan tentang relasi kausal antar dua hal. Ketidaktahuan terbesar adalah ketakberimanan.

Kegelisahan dan kecemasan adalah sumber konsumerisme yang diciptakan oleh industri perobatan, kecantikan atau penampilan dan kebugaran.

Kecemasan timbul akibat rasa rendah diri yang disemburkan dari sentra-sentra transfer budaya (gaya hidup) luar melalui propaganda (iklan) masif tentang standar kesehatan, kebugaran, kecantikan dan keindahan.

Terciptalah pasar luas yang membentang dari Asia hingga Afrika. Ribuan laboratorium medis dan rumah sakit berkecambah untuk menyambut penyakit-penyakit. Ribuan pusat perawatan kulit dan kecantikan bermunculan menawarkan oprasi ganti hidung, dagu hingga kelamin.

Kapitalisme menciptakan manusia-manusia resah yang gamang dan meratapi kodratnya, mencemaskan struktur raga dan parasnya, merawat bayangan stroke dan serangan jantung akibat diabetes, hipertensi dan kolesterol, menyesali identitasnya, malu dengan dirinya, menerima tanpa sadar proses evolusinya, membiarkan benaknya menjadi keranjang aneka produk keindahan dan kesehatan yang muncul silih berganti dengan formulasi-formulasi yang lebih sempurna dan janji-janji keajaiban.

Kapitalisme melalui jaringan media menciptakan kecemasan dalam kesehatan dan penampilan sebagai pasar dengan laba maha banyak.

Para kapitalis terkekeh seraya menghitung laba saat masyarakat yang cemas berebut membeli aneka komoditas kesehatan dan kecantikan.

Keajaiban-keajaiban kini bukan utopia tapi telah menjadi harapan yang bisa diraih dengan uang. Itulah delusi kolektif yang merambati jiwa-jiwa kerontang dan kalbu yang terus dihantui kegelisahan.

“Teori Evolusi” dijejalkan dalam retorika iklan diskriminatif demi tercipta pasar besar yang cemas akibat mindset “salah cetak”.

Tentu menghilangkan kegelisahan memerlukan biaya besar yang hanya bisa diperoleh dengan menempuh segala cara. Arena kompetisi terbuka. Kecemasan terus diproduksi berbarengan penawarnya. Virus diciptakan dengan anti virusnya.

Saat sudah meredakan kecemasan dengan menjadi konsumen “full istiqomah”, kapitalisme membangkitkan kecemasannya lagi dengan temuan-temuan menakutkan seraya menyodorkan formula aman.

Nilai dan norma pun bergeser. Yang lebih penting saat ini adalah imagologi dan pemenuhan dahaga pujian yang diharapkan melenyapkan kecemasan.

Akibat ajaran kecemasan ini dan obsesi mengejar “Korean face” dan “Sakura skin”, mendatangi pusat bedah plastik dan laboratorium medis dan estetis menjadi agenda rutin dalam hidup.

“Aku belanja, maka aku ada” menjadi doktrin dan mindset yang tercangkok di slot bawah sadar saat kesempurnaan ditelanjangi dari makna abstraknya.

Tentu kewaspadaan terhadap segala kemungkinan negatif dan ikhtiar mengubah pola hidup sehat bukanlah kecemasan, namun itu justru cermin keberimanan

Ditulis Oleh: Muhsin Labib

About Abu Nisrina

Check Also

Nama-Nama Rasulullah yang Kurang Akrab di Telinga Umat Islam

Satu Islam, Jakarta – Jalaluddin as-Suyuthi (849-911 H) melalui karya bertajuk An Nahjah as-Sawiyyah fi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *