Home / Humaniora / Renungan / Dua Wajah Indonesia

Dua Wajah Indonesia

Oleh : Aan Rukmana*

1348318526413942387
Sumber gambar :Kompasiana

Siang itu langit Jakarta sangat cerah, di antara raungan bis dalam kota yang berebut penumpang saya berlari mengejar taksi menuju stasiun kereta api di Tanah Abang. Setibanya di sana, saya menyaksikan ribuan orang berdesak-desakan mengadu nasib di tengak terik matahari yang kian membara. Mulai dari para pedagang yang berteriak-teriak menawarkan barang daganganya, para pembeli yang berjalan ketus karena tidak berhasil mendapatkan apa yang dicarinya, sampai para pencopet yang mengendus-endus siapapun yang berjalan lengah di hadapannya, semuanya itu mewarnai hiruk-pikuk pasar tanah abang yang persis di pinggirnya terletak lokasi yang saya tuju, yaitu stasiun kereta api menuju Rangkas Bitung.

Meski saya sudah sampai ke stasiun menggunakan taksi, namun toh tetap saja kereta yang saya nanti-nantikan ternyata sudah berangkat lebih awal. Di jadwal yang ada, kereta api menuju Rangkas Bitung akan diberangkatkan pada pukul 13.40, namun ternyata berangkat lebih dulu sekitar pkl 13.30. Apa yang dicatat ternyata berbeda dengan apa yang terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, saya pun terpaksa menunggu keberangkatan kereta pada jam berikutnya sekitar pkl. 15.30. Awalnya ada rasa kesal di hati mengapa harus menunggu di stasiun yang sumpek seperti itu berjam-jam, namun makin lama saya berada di dalamnya saya seperti terserap masuk ke realitas hidup yang nyata di masyarakat bawah. Saya pun terus duduk di antara penumpang yang terlihat kumuh, tidak memperdulikan citra, namun seperti damai dan penuh cinta.

Tepat pukul 15.30 kereta yang ditunggu-tunggu pun sampai. Saya bergegas naik ke gerbong kereta api ekonomi itu. Sesampainya di dalam gerbong kereta api, saya dibuat kaget yang kedua kalinya, saya tidak habis pikir kok ada kereta api seperti ini di era yang katanya sudah merdeka ini. Kereta ekonomi yang menghubungkan Tanah Abang–Rangkas Bitung ini berhenti di setiap stasiun kecil, mulai dari Parung Panjang, Tenjo, dan tempat-tempat lainnya yang sering tidak terdapat dalam peta. Perjalanan yang mestinya ditempuh dalam waktu 1,5 jam, menjadi dua kali lipat lamanya. Suasana berdesak-desakan di dalam kereta, serta kepengapan disebabkan sulitnya para penumpang untuk bernafas, asap rokok yang selalu mengepul, membuat diri miris bagi siapapun yang melihatnya.

Muncul tiba-tiba dipikiran saya pertanyaan kritis, “siapa yang salah dengan ini semua?”, “mengapa para pejabat atau politisi tidak melihat langsung kondisi seperti ini?”, “apa artinya kenaikan ekonomi yang massif secara makro jika pada level mikro kemiskinan masih menjadi tontonan abadi rakyat di negeri ini?”. Ternyata benar yang dikatakan Multatuli, yang bernama asli Eduard Douwes Dekker (1820–1887), bahwa kemiskinan di Lebak, termasuk Rangkas telah menjadi realitas nyata kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan jika ada revolusi sekalipun, hal tersebut secara akal sehat sangat wajar.

Setelah satu hari saya menginap di Rangkas, keesokan harinya saya bergegas kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan sepasang artis yang penikahannya dijadikan acara khusus oleh salah satu stasiun televisi Indonesia. Susana gemerlap lokasi pernikahan, ditambah lagi antrian pengunjung yang semuanya serba wangi, semua berusaha tampil. Secantik, setampan dan mungkin dengan balutan pakaian yang semahal mungkin makin menambah kemewahan resepsi pernikahan yang ada. Semua yang hadir pada malam itu sudah dapat dipastikan berasal dari lapisan masyarakat menengah ke atas negeri ini.  Di sana, saya tidak merasakan bahwa negeri ini sedang berada dalam kemiskinan. Kehidupan antara Tanah Abang dan lokasi pernikahan ini bak bumi dan langit. Yang satu seperti kehidupan yang masih jauh dari kemerdekaan, primitif, dan terbelakang, sedangkan yang lainnya seperti kehidupan metropolitan, merdeka, bebas dan sangat maju.

Dari dua peristiwa yang baru saja saya lalui, saya lantas berpikir, apa yang salah dengan negeri ini? Mengapa di negeri yang konon memiliki bahasa satu yaitu bahasa Indonesia, dan berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia dan bertumpah darah satu yaitu tanah air Indonesia memiliki level kehidupan yang jauh berbeda.  Bagi masyarakat yang berada pada level bawah, untuk makan sehari-haripun masih sulit, namun untuk level atas, makanan seringkali terbuang percuma.  Banyak orang yang berada di lapisan atas masyarakat menghabiskan uang jutaan rupiah untuk makan, sedangkan di masyarakat bawah mendapatkan sebungkus nasi saja tidak mudah.

Melihat kedua fenomena itu terbersit di hati saya, adakah di negeri ini orang yang masih memiliki kewarasan? Yang melihat miskin sebagai miskin bukan hanya sebagai angka statistik! Dan adakah di negeri ini sekelompok masyarakat yang memikirkan secara serius gap antara mereka yang di “langit” dan mereka yang di “bumi”? Kemanakah para pemimpin politik yang selama ini mengklaim mewakili rakyat? Rakyat yang mana sebenarnya yang mereka wakili?

Memang benar sudah ada beberapa usaha untuk semakin menghilangkan gap itu agar kemakmuran bisa dirasakan oleh semua anak negeri ini baik yang dikerjakan oleh perorangan,  maupun pemerintah sendiri, namun bila dibandingkan dengan besarnya mereka yang masih berada di level bawah masyarakat, maka sudah sepantasnya jika gerakan membangun rakyat tidak hanya menjadi idiom politik partai, namun lebih dari itu sudah menjadi mantra atau dzikir bersama bagi siapapun yang masih memiki kewarasan serta harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik.

)* Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

 

About Abu Nisrina

Check Also

Khutbah Ali bin Abi Tholib di Hari Idul Fitri

Satu Islam – Segala puji kepunyaan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *