Home / Humaniora / Renungan / A Brief Propaganda: Rokok, Budaya, dan Perang

A Brief Propaganda: Rokok, Budaya, dan Perang

Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci. Mengapa kalian diamkan korupsi yang merusak nurani? – Gus Mus

Satu Islam – Sejak saya kecil, saya sudah kenyang dengan pemandangan orang yang tengah menikmati rokok. Bapak saya perokok, teman saya perokok, atasan saya perokok, pak de saya perokok, tetangga saya perokok.

Kebetulan semua perokok yang saya kenal laki-laki. Sedangkan sebagian besar perempuan merupakan sosok protagonis sebagai duta antirokok nasional yang hanya akan mengakhiri cerita tentang rokok dengan mengelus dada. Mereka tidak akan pernah berhenti mempermasalahkan kebiasaan merokok bapak mereka, suami mereka, teman mereka, dan semua perokok di dekat mereka. Masih ingat dengan petisi online yang ditujukan kepada seorang perokok, kan.

Betapa rokok menjadi momok sekaligus salah satu komoditas penyumbang pajak terbesar di Indonesia. Kalau saya sendiri tidak habis merutuki bapak saya sang perokok berat. Pokoknya bukan lagi masalah kesehatan melainkan masalah keuangan. Karena rokok bapak saya kalap. Ratusan ribu terbakar percuma dan ibu saya hanya bisa nelangsa.

Sebelum terlanjur banyak babibu tentang masalah pribadi saya dengan bapak perokok, saya teringat dinding Facebook saya yang suatu kali dihiasi sebuah status yang membuat rokok mendapat tempat untuk dipikirkan peranan positifnya.

Si pembuat status dengan kalimat-kalimatnya yang memikat -sayangnya tidak saya abadikan dan itupun sudah beberapa tahun lampau- membikin saya berpikir tentang rokok dan budaya. Barang kali secuil narasi berikut mampu memperkaya sudut pandang tuan-nyonya mengenai kaitan rokok dan budaya.

Hujan jatuh sedikit demi sedikit. Sore jadi gelap. Jalanan masih saja padat sementara aku berniat segera pulang dan mendapati perempuanku menanti bersama segelas kopi hangat. Tapi entah berapa jam lagi bayangan itu merupa diri. Jadi nyata.

Kulangkahkan kakiku ke seberang jalan dengan tergesa. Sebuah warung kopi agaknya mengurangi rasa kesalku pada hujan dan kemacetan. Meski sang penjual belum tentu menandingi istriku di rumah.

Aku tertegun sesaat melihat seseorang yang kukenal baru hari ini sedang menyeruput kopinya. Manajerku yang begitu dingin dan angkuh. Hari pertamaku bekerja benar-benar hari sial. Kupesan segelas kopi pada perempuan yang memegang serbet lusuh di balik rombong.

Tak sampai dua menit kopiku datang. Belum separuh gelas tandas, aku mengambil korek yang tergantung sementara sebelah tanganku masih belum menemukan apa-apa dalam saku kemeja. Di mana kau? Tak satupun berhasil kutemukan. Tanpa menoleh manajerku menggeser sebungkus rokoknya yang terbuka dekat gelasku.

“Bagaimana kerjaan?” sebuah pertanyaan terlontar darinya. Menyusul pertanyaan-pertanyaan lainnya.

“Cepat kau pulang sana! Kasian istrimu lama menunggu!”

Dari cuplikan peristiwa di atas, rokok menjadi sebuah jalan pembuka bagi terciptanya sebuah hubungan dalam masyarakat. Sebuah hubungan yang kemudian melahirkan pemikiran dan tindakan. Rokok bukan hanya momok.

Rokok bahkan bisa menjadi tolok ukur sebuah pertemanan. Semakin mudah mereka berbagi rokok semakin mudah tercermin bagaimana hubungan pertemanan mereka. Bahkan di beberapa daerah, rokok menjadi salah satu sesajen yang tidak dapat ditinggalkan, mengakar, dan menjadi budaya.

Sejarah panjang rokok terutama di Indonesia sangat panjang. Saya tidak akan mengulasnya. Namun sangat penting ditelusuri jejaknya. Komunitas kretek di laman komunitaskretek.or.id menyajikan sedikit banyak mengenai hal di atas.  Barangkali tuan-nyonya sekalian hendak tahu banyak tentang rokok terutama kretek.

Ngomong-ngomong kretek dan rokok agaknya perlu kita persamakan pandangan bahwa keduanya adalah makhluk yang berbeda. Rokok merupakan produk olahan tembakau ditambah zat-zat aditif seperti tar dan nikotin.

Sementara kretek merupakan produk asli Indonesia yang diakui dunia. Bahan yang digunakan untuk membuat kretek bukan hanya tembakau yang asalnya tanaman asing yang  ditanamkan paksa oleh Belanda untuk keuntungan negeri kincir angin tersebut.

Melainkan kombinasi dengan tanaman cengkih dan macam-macam. Karena saking macam-macamnya, harus kita akui kreativitas orang Indonesia meracik kretek.

Bahkan ada suatu negara adidaya yang tingkat ketergantungannya akan kretek tinggi tidak mau pendapatan masyarakatnya ‘lari’ ke negeri kita. Sehingga propaganda antirokok akhirnya gencar dilakukan atas nama kesehatan.

Tidak puas dengan itu, birokrasi kita pun disusupi kepentingan asing! Akibatnya, kita terhipnotis.

Jumlah pabrik rokok merosot tajam, sebagian besar masyarakat Indonesia berpandangan miring tentang rokok dan menolak kretek sebagai bagian dari kebudayaan.

Sebenarnya, saya salah satu orang yang awam akan kenyataan ini. Tapi tuan-nyonya bisa mengakses data-data di atas dengan bantuan Google. Salah satu portal berita MetroTv news memberikan fakta mencengangkan soal ini.

Lagi-lagi kita dalam peperangan namun kita tidak menyadarinya. Minyak, emas, undang-undang, kretek, lalu apalagi kekayaan kita yang dirampok dan dipermainkan yang tidak saya ketahui?

*ditulis oleh Serambi Mimpi, bukan pegiat rokok atau kretek yang ingin melihat negeri ini mengukuhkan kebesarannya, kerayaannya. Tidak bisa apa-apa selain sesekali mengonsumsi kretek, menikmatinya sebagai budaya tanpa memikul kekhawatiran akan kesehatan.

Sumber : http://serambimimpi.tumblr.com/post/135163566222/a-brief-propaganda-rokok-budaya-dan-perang

About Abu Nisrina

Check Also

Nama-Nama Rasulullah yang Kurang Akrab di Telinga Umat Islam

Satu Islam, Jakarta – Jalaluddin as-Suyuthi (849-911 H) melalui karya bertajuk An Nahjah as-Sawiyyah fi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *