Home / Humaniora / Petani Ini Hasilkan Panen 940 Kg Gabah untuk Satu Petak Sawah

Petani Ini Hasilkan Panen 940 Kg Gabah untuk Satu Petak Sawah

olih-petani-di-rancaekek-yang-menggunakan-pupuk-organik_20150616_090957
Olih Solihin, petani di Rancaekek, Jawa Barat yang menggunakan pupuk organik – Foto: Kompas

Satu Islam, Bandung – Senyum kini berkembang di wajah Olih Solihin (53), seorang petani di Rancaekek, Kabupaten bandung, Jawa Barat. Pasalnya sawahnya mulai dapat berkembang kembali setelah hampir 10 tahun puso.

Siapa sangka rahasia di balik kesuksesan Olih adalah penggunaan pupuk organik selama masa bercocok tanam?

“Yang dijadikan percontohan satu petak ini. Lihatlah hasilnya, luar biasa. Baru kali ini saya melihat padi di sini berisi,” ujar Olih 21 Mei 2015 lalu.

Olih memang patut berbangga hati. Sebab pada era 80-an wilayah Rancaekek terkenal berkat kualitas padinya yang bagus. Namun, perlahan-lahan semuanya berubah sejak Sungai Cikijing tercemar limbah pabrik.

Sejak limbah pabrik mencemari sungai, kualitas padi Rancaekek menurun. Sekarang beras tersebut kurang diminati dan harganya di bawah rata-rata. Olih pun mengaku dulu sering rugi.

“Kalau dulu satu petak sawah bisa menghasilkan 1 ton gabah. Kini paling banyak cuma 6 kuintal,” jelas Olih membandingkan hasil panennya.

Oleh karena itulah, ia bersyukur kini menggunakan pupuk organik yang dicontohkan sejumlah penyuluh pertanian. Dengan pupuk organik tersebut, satu petak sawah percontohan milik Olih dapat menghasilkan 940 kg gabah basah.

“Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat, sebelumnya cuma 400 kg,” ujar seorang anggota Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling), Adi M. Yadi.

Menurut Adi, pupuk organik yang mereka gunakan merupakan hasil produksi sendiri. Mereka bersama-sama memanfaatkan bakteri hasil fermentasi tumbuhan dan serangga selama dua bulan penuh. Nantinya, hasil fermentasi tersebut diolah menjadi pupuk cair organik.

“Pupuk tersebut terbukti mampu mengembalikan kontur tanah sawah yang sudah tercemar menjadi produktif kembali,” tambah Adi.

Biaya pembuatan pupuk organik itu sendiri tidak sulit. Tumbuhan dan serangga yang dibutuhkan sebagai bahan cukup mudah ditemukan di sekitar lokasi pesawahan. Begitu pun dengan benih. Mereka mendapatkannya secara cuma-cuma.

Adi pun mempersilakan jika ada petani lain yang ingin belajar membuat pupuk cair organik seperti di Rancaekek. “Semuanya gratis. Silakan yang mau belajar. Karena tujuan kami meningkatkan keinginan masyarakat menanam padi,” jelasnya.

Keinginan masyarakat menanam padi, khususnya yang organik, telah menjadi perhatian Kementerian Pertanian. Sejauh ini telah terdapat beberapa contoh pertanian organik di Indonesia yang mempunyai prospek cerah.

Selain lahan sawah milik Olih di Rancaekek, terdapat pula pertanian organik di Desa Salassae, Sulawesi Selatan. Mereka semua bersama-sama meningkatkan nilai tambah komoditi organik yang telah diminati pasar dalam dan luar negeri.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun menegaskan Kementan serius mengembangkan beras organik dengan merencanakan kawasan food estate di Merauke.

Semua itu dilakukan guna menyelaraskan target kedaulatan pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.(Tribunnews)

About Abu Nisrina

Check Also

Kegigihan Bocah SD Jualan Jajanan Sampai Tertidur di Trotoar

Satu Islam, Jakarta – Bocah SD itu terlihat lelap tidur sambil duduk di pinggir trotoar. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *