Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Tradisi Ider-ider, Ungkapan Syukur Jelang Panen Raya Petani Padi Trenggalek

Tradisi Ider-ider, Ungkapan Syukur Jelang Panen Raya Petani Padi Trenggalek

Tradisi petani di Trenggalek – Foto: Detikcom

Satu Islam, Trenggalek – Tradisi masyarakat di bumi nusantara pelan-pelan terkikis oleh arus modernisme dan propaganda ‘pemurnian’ Islam. Ironisnya, tradisi yang mendapat ancaman pemunahan dengan tudingan syirik ini malah menimpa kawasan yang mayoritas muslim.

Untungnya tidak semua tradisi itu musnah dan masih ada saja masyarakat yang masih teguh memeliharanya, sebagaimana di di Dusun Jatisari, Desa/Kecamatan Pogalan Trenggalek, Jawa Timur. Masyarakat di dusun ini masih melestarikan tradisi Ider-ider yang telah ada sejak ratusan tahun silam.

Sebagaimana diwartakan detikcom, tradisi Ider-ider dilaksanakan untuk menyambut musin tanam dan panen raya padi. Prosesi tradisi ini dilakukan dengan memasang aneka sesaji atau cok bakal di empat penjuru mata angin pada tapal batas kawasan persawahan.

Uniknya, pemasangan sesaji tidak bisa dilakukan sembarangan. Mereka meyakini pemasangan harus melalui prosesi adat dengan disertai aneka doa. Sesepuh dengan berjalan kaki mengitari area tanam sambil membakar batang padi kering.

“Isi dari cok bakal itu ada batang padi kering, takir dari daun kepala yang diisi dengan telur. bunga, rempah-rempah bumbu dapur serta janur,” kata salah seorang sesepuh desa, Wakiran, Jumat 28 Juli 2017.

Wakiran menuturkan, tradisi Ider-ider merupakan reprsentasi dari rasa syukur petani terhadap hasil panen yang melimpah. Selain itu juga sekaligus pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman padi berikutnya bisa subur dan terbebas dari serangan hama. “Ider-ider ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu,” ujarnya.

Hebatnya, proses penanaman padi juga dengan melaksanakan metode penanaman secara tradisi yang telah mereka jalankan secara turun temurun. Mereka enggan menggunakan pestisida sebagaimana umumnya penanaman konvensional. Hasilnya bisa dikatakan sebagai padi organik yang lebih sehat daripada padi umumnya.

“Jadi padi di kelompok ini tidak menggunakan pestisida, sehingga bisa dikatakan sebagai padi organik. Hasilnya lumayan bagus,” katanya.

Salah seorang petani, Sudarto mengaku, hasil tanaman padi di wilayahnya saat ini relatif lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meskipun hasilnya tidak sebanyak padi sistem konvensional, tanamaan padi kelompoknya relatif lebih tahan terhadap serangan hama, termasuk wereng yang saat ini sedang mewabah.

“Ini kalau satu hektare hasilnya sekitar 4,5 Ton, tahun lalu 4 Ton, ya mulai ada peningkatan. Kalau padi ini lebih sehat, karena tidak pakai pestisida,” imbuhnya.

About Abu Nisrina

Check Also

Larung Sesaji Tradisi Petik Laut Muncar Banyuwangi Didoakan Kiai dan Shalawat

Satu Islam, Banyuwangi – Ribuan orang mulai dari anak-anak hingga dewasa, memadati ‎Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *