Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Tanggal 1 Suro, Langkah Politik Sultan Agung Satukan Jawa dan Islam

Tanggal 1 Suro, Langkah Politik Sultan Agung Satukan Jawa dan Islam

Masyarakat Ponorogo menyambut 1 Suro dengan Kirab Pusoko – Foto: ist

Satu Islam, Jakarta – Masyarakat Jawa dan umat Islam tengah meyambut datangnya permulaan tahun baru. Umat Islam menyebutnya sebagai 1 Muharam, dalam penanggalan Jawa disebut 1 Suro.

Di segenap penjuru Tanah Jawa umumnya menyambut 1 Suro sebagai saat sakral, dianggap saat yang penting untuk mawas diri, membersihkan diri, membersihkan pusaka, koreksi dan pengendalian diri. Oleh karena pada 1 Suro masyarakat Jawa menganjurkan untuk menghindari kegiatan bersuka ria, seperti mantu atau hal-hal yang sifatnya perayaan. Bahkan, di tiga pusat budaya Jawa, yakni Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan Keraton Kasultanan Yogyakarta, pada malam 1

1 Suro merupakan tonggak penting sejarah Islam di Tanah Jawa.

Tonggak itu ditancapkan berkat kebijakan politik Raja Mataram Islam, yakni Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang telah menyatukan penanggalan kalender Jawa dan Islam. Sultan Agung yang juga kuat sebagai pemeluk Islam mempersatukan tarikh Hijriyah yang berdasar peredaran bulan (qomariah), tarikh Saka yang berdasar peredaran matahari (syamsiyah) dan naluri Majapahitan, menjadi tahun Jawa. Ini dimulai dimulai pada 1 Suro 1555 Jawa, bertepatan 1 Muharam 1043 Hijriyah, atau 8 Juli 1633 Masehi.

Kebijakan politik ini ditempuh Sultan Agung untuk memperkuat negaranya yang masih terus membangun kekuatan. Saat itu dengan penyatuan dua tarikh tersebut, dia berkeinginan Mataram kuat dengan dukungan tradisi Jawa dan pengaruh Islam. Kebijakan ini untuk membangun sikap masyarakat Mataram untuk Suro (berani) dan bersatu untuk melawan kekuatan asing (saat itu mulai mengancam Mataram).

Sultan Agung menginginkan masyarakat mawas diri, berani membersihkan diri agar terbebas dari niat dan sikap yang tidak menunjang terwujudnya cita-cita kebesaran Mataram. Untuk mengindahkan keputusan penting penyatuan tarikh tersebut diundangkan sepenuhnya untuk diterima masyarakat Jawa.

Dalam pemahaman terhadap kebijakan Sultan Agung tersebut, kemudian masyarakat memaknai sebagai berikut. A) 1 Suro Jawa diterima sebagai awal tahun Jawa, yang tidak tidak dimulai dari tahun 1, tetapi tahun 1555. B) 1 Suro merupakan awal tahun baru di Jawa diperingati secara adat Jawa, yang pelaksanaannya dapat berbeda-beda. C) 1 Sura dianggap sebagai tanggal yang keramat karena pada tanggal 1 Sura 1555 Jawa ditetapkan keputusan penting Praja Mataram. D) Peringatan tahun batu Jawa 1 Suro yang berkembanh menjadi suran disertai kegiatan-kegiatan yang sifatnya cenderung pada keprihatanan, mawas diri, dan oengendalian diri sesuai kesakralan bulan Suro.

Semangat dari 1 Suro itu juga diselaraskan dengan 1 Muharam tahun Hijriyah. Yakni tarikh Islam yang ditetapkan berdasarkan peringatan hijrah Nabi Muhammad SAW. Hijrah mengandujg makna yang menyatu, yakni hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah 16 Juli 622 M. Selain itu juga bermakna hijrah umat Islam dari perbuatan yang tidak baik menurut perintah Tuhan, juga hijrah umat Islam untuk menjauhi larangan Allah.

Kini, 1 Suro disambut masyarakat Jawa dimana-mana yang berbeda-beda acaranya, namun tetap memegang sebagai saat sakral dan waktu untuk mawas diri, bersih-bersih, koreksi dan pengendalian diri. Masyarakat adat Jawa menghindari kegiatan yang bersuka ria, seperti perayaan mantu atau lainnya.

Penyambutan 1 Suro dilakukanbdi desa, kota, kraton, tempat-tempat penting keagamaan atau sakral, yang diadakan secara sukarela dan tulus. Kegiatan diadakan bisa secara perorangan, keluarga, kelompok, atau bersama masyarakat. Di antaranya berupa wungon (lek-lekan = tidak tidur semalaman), berjakan-jalan tapa bisu (tidak bicara) pergi ke tempat sunyi, sesaji gunung, mengunjungi pesisir tertentu, kungkum (berendam) di arus sungai, mengadakan renungan, tirakatan, larungan, atau salawatan atau doa bersama.

Selain itu ada juga yang menggelar bawarasa (diskusi ala Jawa), larungan, timpengan, slametan, sedekah, membersihkab pusaka, ziarah ke makam tokoh terpandang, mengunjungi cikal bakal desa, puasa, mutih, berpantang, bertapa di goa, kirab pisaka, bahkan menggelar wayang kulit dengan lakon tertentu. Semua untuk tujuan mawas diri dan koreksi diri.

Sumber: poskotanews.com

About Abu Nisrina

Check Also

Ritual Tabut Bengkulu Mengenang Kesyahidan Cucu Nabi

Satu Islam, Bengkulu – Warga memadati badan jalan yang menjadi rute arak-arakan “tabut tebuang” atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *