Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Tahlilan di Desa Ini Dihadiri Muhammadiyah, LDII, Nasrani, Hindu, Budha dan Penghayat Keyakinan

Tahlilan di Desa Ini Dihadiri Muhammadiyah, LDII, Nasrani, Hindu, Budha dan Penghayat Keyakinan

Perayaan 1 Suro warga Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur

Satu Islam, Kediri – Mau mencicip kenikmatan ragam agama yang pengiman-pengimannya rukun damai, kertaraharja dan meritual bersama?

Sajian kearifan lokal ala Ketuhanan Yang Maha Esa dibingkai Bhineka Tunggal Ika ternyata bukan sekedar wacana belaka.  Potret sumringah itu ada di Desa Batu Aji, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Desa Batuaji sama dengan desa-desa umumnya di Kabupaten Kediri, umum warganya petani. Tapi penduduknya yang mengimani ragam agama dan pengahayat keyakinan di sini bisa duduk satu tikar dan menggelar ritual bersama, itulah bedanya.

Tiada banner berpesan retorika kerukunan umat beragama, apalagi “derby spanduk” majlis taklim di sudut-sudut jalan utama desa itu.

Sepanjang Ramadhan ini suara tadarus Alquran terdengar dari pengeras suara Masjid dekat perempatan desa itu, sepintas seperti desa santri. Tapi tidak demikian, tiada dominasi masyarakat mayoritas yang menghimpit keragaman dan kerukunan umat beragama di sini.

Desa Batu Aji berjarak 25 KM yang dari Kota Kediri. Lima penganut agama; Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Penghayat Keyakinan tak sekedar hidup berdampingan di desa ini, tapi mereka menjalin kerja-kerja budaya bersama-sama. Warga desa ini tak mengenal seteru apalagi konflik berdarah-darah. Tiada pernah sedikitpun terjadi gesekan antar umat beragama, jangan harap persekusi atas nama ormas dan agama terjadi di sini.

Gotong royong antar warga yang berbeda keyakinan adalah kebiasaan dan menjadi adat istiadat desa ini. Sebagaimana dituturkan Kasdi, Kepala Dusun Batuasih, Desa Batuaji ini kepada Satu Islam, ketika dia membangun sanggar atau tempat ibadah warga Penghayat Keyakinan dari Sapta Dharma, ratusan warga dari beberapa penganut agama lainnya yang turut bekerja.

“Ada ratusan orang muslim, Katolik, Protestan, GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), Hindu, Budha dan Penghayat Sapta Dharma serta Penghayat Keyakinan lain yang bekerja bersama-sama membangun sanggar itu hingga selesai,” ungkap Kasdi Minggu, 4 Juni 2017.

Sanggar yang dimaksud Kasdi berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya, dibangun pada tahun 2000. Bangunan tempat peribadatan Sapta Dharma ini sepintas seperti umumnya mushala di desa-desa di lingkungan Kabupaten Kediri. Bedanya jika Mushala menghadap ke Barat, sanggar ini menghadap ke Timur.

Kasdi penganut Penghayat Keyakinan sekaligus pimpinan Sapta Dharma di desanya. Dahulu ia seorang muslim Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), sementara latar belakang keluarganya dari NU.

“Ayah saya asli NU dan dulunya santri di pondok pesantren. Saya bergabung di LDII semenjak saya SMP,” ungkapnya.

 

Tempat ibadah [enghayat keyakinan Sapta Dharma di Dusun Batuasih, Desa Batuaji, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
Ikhwal perjalanan spiritualnya, Kasdi mengisahkan dirinya semula muslim yang kemudian menganut Sapta Dharma. Hal itu berawal ketika anggota keluarganya sakit dan tidak sembuh-sembuh. Segala macam upaya penyembuhan sejak medis dan non medis telah dilakukan, tapi harapan sembuh tak kunjung datang. Ketika ia meminta pertolongan kepada sesepuh (ulama) Sapta Dharma untuk menyembuhkannya, upaya itu berhasil.

Kasdi tak lantas menjadi pengikut Sapta Dharma. Kesembuhan anggota keluarganya dari sakit akut  empiris saat ia masih usia SMP itu belum membuatnya memutuskan pilihan keyakinannya dan ia masih aktif dalam kajian LDII. Lalu, lama setelah itu, saat anak pertamanya mengalami sakit seperti anggota keluarganya itu dan juga sembuh karena lantaran yang sama, Kasdi memutuskan menjadi pengikut Sapta Dharma.

Tidak seperti kisah artis atau bintang film yang heboh saat pindah keyakinan atau agama hingga ditentang kuat oleh anggota keluarga, Kasdi merdeka tanpa penindasan atau tanpa menerima ancaman sedikitpun dari pihak keluarganya dan teman sejawat LDII di desanya. Beberapa kawan sejawat dan anggota keluarganya menyikapi kepindahan keyakinan Kasdi tanpa sedikitpun penentangan dan ancaman.

Para Penghayat Keyakinan di desa ini semarak oleh Muslim, Nasrani, Hindu dan Budha. Dialog antar agama dan penghayat keyakinan adalah kebiasaan yang lazim dilakukan warga desa.

Saat ditanya bagaimana kerukunan umat beragama di desanya bisa berjalin berkelindan dengan harmonis, Kasdi tidak mengetahui secara persis asal muasalnya. Ia hanya tahu semenjak dirinya lahir, di desanya telah tercipta kerukunan antar warga meski berbeda-beda keyakinan.

Momentum tahun baru Jawa 1 Suro adalah harmoni nyata yang bisa dilihat langsung di desa ini. Semua penganut agama-agama dan Penghayat Keyakinan tersebut menggelar perayaan ‘Suroan’ bersama-bersama. Mereka meritualkan doa bersama pada sore harinya dan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit pada malam harinya.

Bukan hanya pada momentum ‘Suroan’, Desa Batu Aji nyata menyemarakkan perayaan hari-hari besar agama dan ritual keagamaan.  Kasdi menjelaskan, ketika Hari Natal misalnya, warga muslim dan lainnya mengucap selamat dan mengunjungi ke rumah-rumah warga penganut Nasrani.

“Bahkan ketika warga NU menggelar tahlilan (acara pengajian rutin), unsur warga Nasrani, Hindu, Budha dan penghayat keyakinan juga hadir,” tuturnya.

Di Desa Batuaji, menurut Kasdi, penganut muslimin terbagi menjadi tiga aliran, warga Nahdhiyin (NU), Muhammadiyah dan LDII. Warga NU adlaah penduduk mayoritas desa ini. Penganut Katolik, Protestan, dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) seluruhnya berjumlah 120 jiwa.

Penganut Hindu di desa seluruhnya Hindu Dharma yang berjumlah 100 jiwa. Warga Budha terdapat penganut Budha Mahayana dan Budha Theravada yang keseluruhannya berjumlah sekitar 20 jiwa. Sementara penganut Penghayat Kepercayaan secara keseluruhan berjumlah 58 jiwa terbagi ke penganut Sapta Dharma, Ilmu Sejati, Murtitomo, Waskito Tunggal dan Djawadwipa.

Tempat ibadah di desa ini tentu ada Masjid dan puluhan Mushala. Selain itu terdapat Gereja Katolik, GKJW dan Sanggar penghayat keyakinan. Hanya Hindu dan Budha yang belum memiliki tempat peribadatan di sini.

“Andai warga Hindu dan Budha membangun tempat ibadah, gak akan terjadi penolakan dari penganut agama lainnya dan dari penghayat keyakinan. Bahkan antar penganut yang berbeda keyakinan itu akan membantu pendirian tempat ibadah mereka,” ucap Kasdi.

Kasdi mengungkap harapan agar desanya menjadi contoh kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Selain itu, ia juga berharap suatu saat nanti desanya menjadi destinasi wisata dalam hal keragaman agama dan kerukunan antar umat beragama. (AA)

 

About Abu Nisrina

Check Also

‘Penyair’ Satu-satunya Profesi yang Dijadikan Nama Surat Alquran

Satu Islam, Jakarta – Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama menggelar Silaturahim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *