Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Ritual Saling Cambuk untuk Minta Hujan di Jawa Timur

Ritual Saling Cambuk untuk Minta Hujan di Jawa Timur

Dua pemuda beradu cambuk dalam sebuah pertunjukan kesenian Tiban di Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, Selasa 15 September 2015 – Foto: Antara

Satu Islam, Surabaya – Dua lelaki masing-masing memegang cemeti dari dahan aren. Diiiringi gamelan tradisional, mereka berdiri di atas panggung bambu setinggi 3 meter dengan luas 12 meter persegi.

Dengan dada terbuka mereka bergantian menyabetkan cemetinya ke arah lawan. Lukapun menganga di punggung dan tangan mereka. Darah segar menetes di antara keringat yang membasahi tubuh mereka.

Namun tak ada dendam atau marah diantara keduanya. Jika masing-masing pemain telah menyabetkan cemeti sebanyak tiga kali, maka permainan usai. Tampak ceceran darah di atas papan kayu sebagai alas panggung. Tak ada dendam di antara mereka.

Kedua pemain lalu bersalaman sambil saling memeluk hangat. Berganti dengan pemain lain yang telah menunggu gilirannya. Semakin banyak darah yang keluar dari pemain, diyakini hujan akan segera datang.

Masing-masing pemain hanya berkesempatan mencambuk lawan sebanyak tiga kali secara bergantian. Tradisi tiban ini diiringi pula oleh alunan gamelan Jawa. Namun jangan khawatir, layaknya sebuah pertandingan, tradisi Tiban ini dipimpin oleh seorang wasit dan diawasi polisi setempat.

Untuk menghindari hal yang membahayakan, para pemain tidak boleh mencambuk kepala dan kemaluan. Tradisi minta hujan dengan adu cambuk ini dilakukan di Panggung yang disediakan berukuran 6 x 6 meter dan dengan ketinggian dua meter.

Itulah ritual minta hujan di Jawa Timur yang sudah menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun. Tradisi ini diyakini sebagian warga di Jawa Timur (Jatim) bisa menurunkan hujan. Ritual ini di Blitar dan Banyuwangi dinamakan Tiban, di Jember dinamakan Ojung. Ritual yang masih dilaksanakan sampai saat ini, diyakini warga akan mendatangkan berkah bagi warga masyarakat yang telah lama menantikan datangnya curah hujan.

Sebagaimana dituturkan, Ketua Panitia Paguyuban Pelestari Seni Tiban Dusun Centong, Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, Faturachman (42), menurut beberapa sesepuh desa itu, ritual ini peninggalan nenek moyang yang telah diajarkan sejak jaman Wali Songo untuk mempererat tali silaturahmi.

“Dengan darah yang keluar dari kulit pemain, diyakini akan membuka sumber air yang mendatangkan hujan bagi bumi,” jelas Faturachman.

Tahun ini, Permainan Tiban di Dusun Centong ini digelar mulai tanggal 2 hingga 23 September 2017. Selain diikuti pendekar Tiban dari Desa Sawentar, kegiatan ini juga diikuti oleh pendekar lain dari berbagai wilayah Blitar diantaranya Maliran, Srengat, Gambar, Binangun dan Lodoyo.

Di Banyuwangi, ritual Tiban digelar hingga hujan benar-benar turun. Jangan heran jika ritual Tiban berlangsung hingga satu bulan lebih. Tiap pelaksanaan tradisi Tiban selalu di banjiri peserta. Tak hanya warga dari Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo saja, tapi hampir dari seluruh penjuru Banyuwangi hadir sebagai peserta.

“Ini adalah tradisi nenek moyang kami saat meminta hujan. Kita laksanakan selama sebulan penuh hingga turun hujan,” ujar Atmojo, salah satu sesepuh Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi.

Meski terkesan tradisi yang ekstrim, ternyata ajang ini cukup digandrungi warga di Banyuwangi. Tak hanya para kawula muda saja, namun juga dari kalangan manula dan anak-anak. Bahkan, tak jarang warga dari luar daerah sengaja datang hanya untuk bisa ikut ambil bagian.

Di Jember, sebagaimana di Blitar dan Banyuwangi,  tradisi Ojung  dua pria saling mencambuk menggunakan rotan. Bedanya, dua pria yang saling berhadapan dan masing-masing membawa sebilah rotan itu diberi kesempatan saling sabet sebanyak lima kali.

Di Jember, tradisi ini digelar di Dusun Krajan 2, Desa/Kecamatan Jombang. Menurut penuturan, seorang panitia, Haji Rofik, ritual Ojung merupakan tradisi nenek moyang yang diteruskan turun temurun.

“Ojung merupakan salah satu tradisi di mana para tetua dahulu ketika kemarau panjang dan tanaman mengering meminta kepada ‘yang punya hidup’ agar diturunkan hujan,” jelas Rofik.

Dalam gelaran Ojung kali ini, peserta yang datang cukup banyak. Bukan hanya dari Jember, tapi juga dari Jawa Timur.

Berbeda dengan di Blitar dan Banyuwangi tradisi saling cambuk ini murni permainan, bukan lomba ketangkasan dan tak ada pemenang dalam permainan ini. Aturannyapun juga berbeda. Tiban di Blitar dan Banyuwangi hanya memperbolehkan tiap pemain menyabet cemeti ke lawan sebanyak tiga kali. Di jember, pemian Ojung dbolehkan mencambuk sebanyak 5 kali

Di Blitar dan Banyuwangi, Tiban ini murni permainan, bukan lomba ketangkasan dan tak ada pemenang dalam permainan ini. Di Jember, pemain melibatkan pendekar dan termasuk adu ketangkasan. Tak jarang pendekar yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Salah satu pendekar Ojung, Saman, mengaku ada hal yang bersifat mistis dari gelaran Ojung ini. Jika waktu kemarau panjang digelar acara ini, hujan bisa dipastikan turun.

About Abu Nisrina

Check Also

Tanggal 1 Suro, Langkah Politik Sultan Agung Satukan Jawa dan Islam

Satu Islam, Jakarta – Masyarakat Jawa dan umat Islam tengah meyambut datangnya permulaan tahun baru. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *