Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Raih Lailatul Qadr di Tradisi Malam Selikuran Keraton Surakarta

Raih Lailatul Qadr di Tradisi Malam Selikuran Keraton Surakarta

Sebanyak seribu tumpeng wujud didoakan di Joglo Taman Sriwedari sebagai puncak kirab malem selikuran Keraton Surakarta. – Foto: Merdeka.com

Satu Islam, Solo – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab seribu tumpeng pada Kamis 15 Juni 2017 malam. Kirab tersebut merupakan tradisi tahunan menyambut malam lailatul qadr atau disebut malam selikuran yakni sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (Baca: Memahami Makna Tradisi Malam Selikuran Dalam Bulan Ramadhan)

Dimulai sekitar pukul 20.10 WIB, puluhan kotak kayu yang berisi seribu tumpeng diarak ratusan orang sentana, abdi dalem, hingga petinggi keraton itu dilepas KPH Adipati Sosronegoro dari Kori Kamandungan kompleks keraton.

Dengan dikawal pasukan Bregodo bersenjatakan tombak serta tetabuhan marching band bernyalakan terang petromak dan ting, kirab yang menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer itu melintasi Masjid Agung, bundaran Gladag, dan finish di Joglo Taman Sriwedari.

Sebelum kirab dimulai, ulama, keluarga dan abdi dalem Keraton memanjatkan doa di pendopo Semarakata. Setelah itu dengan pengawalan ketat para prajurit, tumpeng diarak mulai dari Keraton hingga Bon Raja atau yang kini dikenal sebagai Taman Sriwedari. Namun seiring perkembangan zaman dan riak konflik internal, berakhir di Masjid Agung keraton.

Selama perjalanan melintasi jalan Selamet Riyadi, tabuh gendang serta tembang-tembang dinyanyikan abdi dalem. Sesampainya di taman Sri Wedari, tumpeng yang dibawa dalam peti khusus itu pun ditata rapi di pendopo Sriwedari. Setelah itu ulama Keraton memberikan wejangan dan kirab seribu tumpeng pun ditutup dengan doa bersama. Nasi tumpeng pun dibagikan kepada masyarakat yang hadir mengikuti kirab malam selikuran.

Pejabat Humas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Bambang Ary Pradotonagoro menjelaskan, pada masa kekuasaan Sri Susuhunan Pakubuwana (PB) X kirab untuk memperingati peristiwa turunnya Nabi Muhamad SAW dari Jabal Nur setelah menerima wahyu Laitul Qadar itu.

Dipaparkan, kirab seribu tumpeng memiliki makna filosofis limpahan pahala setara seribu bulan bagi umat Islam yang beribadah pada malam ganjil, tepatnya 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Secara khusus, wujud syukur Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat lewat tumpeng itulah yang dibagikan kepada masyarakat.

“Malam seribu bulan atau selikuran ini dulunya juga dikenal masyarakat sebagai kirab ‘Ting Ting Hik’. Karena dulu waktu masih belum ada listrik, banyak abdi dalem yang membawa lampu Ting sebagai penerangan. Sedangkan ‘Hik’ sendiri itu artinya makanan. Bedanya dengan Lailatul Qadr di tempat lain, keraton mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan membagikan seribu tumpeng,” papar Bambang.

Kirab seribu tumpeng malam selikuran dimulai selepas pelaksanaan shalat Tarawih dan berakhir sekitar pukul 11 malam. Lalu lintas sepanjang jalan Slamet Riaydi pun sempat mengalami kemacetan hingga peserta kirab sampai di taman Sriwedari.

 

About Abu Nisrina

Check Also

Pendeta Ini Terharu Lihat Umat Islam & TNI Bersihkan Gereja

Satu Islam, Palangkaraya – Ratusan umat Islam di Kota Palangka Raya bersama aparat TNI, Minggu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *