Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Punahnya Lamafa?

Punahnya Lamafa?

Anak-anak Lamalera setiap sore belajar menjadi Lamafa. – Foto: Ekspedisi Indonesia Biru (Suparta Arz)

Satu Islam, Lembata – Menemukan poster digital dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan di twitter. Ada tiga poin yang disebut “solusi” terhadap perburuan paus di Lamalera, Pulau Lembata, NTT.

Poin pertama dan ketiga, idenya cukup fair sepanjang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penentuan zonasi atau quota yang secara tradisional juga telah mereka atur. Namun prinsip-prinsip ini belakangan memang mulai longgar seiring dampak turisme atau kenaikan ongkos melaut akibat dicabutnya subsidi BBM.

Penentuan zonasi dan quota yang sepihak, tanpa partisipasi masyarakat dan kalkulasi sosial ekonomi yang baik, sama dengan pemusnahan perlahan-perlahan kehidupan warga.

Tapi setidaknya konsep dalam poster ini tidak mengedepankan pemidanaan atau kriminalisasi seperti yang beberapa hari lalu terjadi.

Tapi solusi kedua: “Memutus penerus Lamafa dengan menyibukkan pemuda desa oleh mata pencaharian lain serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi” agak mengganggu.

Lamafa adalah juru tombak yang berdiri di depan perahu saat perburuan. Tapi sangat memprihatinkan bila memandang Lamafa hanya sebagai pekerjaan atau profesi.

Lamafa adalah sebuah konsep pembagian peran sosial sekaligus tata nilai yang diyakini masyarakat Lamalera.

Seorang Lamafa, misalnya, tak boleh bertengkar atau menyakiti istrinya karena diyakini akan membawa sial atau musibah di tengah laut. Ini menjadi salah satu dasar nilai-nilai penghormatan terhadap perempuan atau mencegah kekerasan dalam rumah tangga.

Pada sosok Lamafa juga tertanam tanggung jawab sosial karena keterampilannya sebagai juru tikam, akan menentukan ekonomi rumah tangga matros (awak kapal) yang lain beserta keluarganya.

Lamafa yang kerap meleset –meski juga dipengaruhi faktor keterampilan juru mudi atau gerakan buruan itu sendiri– akan menyerahkan lembing kepada orang lain. Sebab bila diteruskan, pertaruhannya cukup besar: pulang dengan tangan hampa. Padahal satu perahu bisa berisi 7-10 kepala keluarga.

Bila ada Lamafa yang ngotot mempertahankan posisinya karena ego atau mengejar pembagian yang lebih banyak dan lebih baik (bagian tubuh tertentu yang terbaik dari hasil buruan biasanya menjadi jatah prioritas seorang Lamafa), akan jadi bahan gunjingan di kampung. Tapi mereka tidak akan bertengkar di lautan karena dianggap pantangan dan bisa membawa sial.

Nilai-nilai tanggung jawab sosial dan kepemimpinan inilah yang melekat pada konsep Lamafa di Lamalera. Tapi tampaknya pemerintah menganggap pekerjaan ini hanyalah urusan tikam menikam dan bahkan hendak dihilangkan mata rantai regenerasinya melalui “tingkat pendidikan yang lebih tinggi”.

Tapi sisi lain, ini juga seperti membuka kedok bahwa “pendidikan yang lebih tinggi” selama ini memang terbukti mujarab untuk mengasingkan seseorang dari akar ekonomi, sosial, dan budayanya.

Dalam kalimat sederhana, “pendidikan yang lebih tinggi” justru membuat orang mudah ditaklukkan. Itulah sebabnya mengapa orang Baduy, Samin, atau Boti memilih tak menyekolahkan anaknya, dan kehidupan mereka baik-baik saja.

Sumber: Facebook/Dandhy Laksono

About Abu Nisrina

Check Also

Larung Sesaji Tradisi Petik Laut Muncar Banyuwangi Didoakan Kiai dan Shalawat

Satu Islam, Banyuwangi – Ribuan orang mulai dari anak-anak hingga dewasa, memadati ‎Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *