Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / ‘Penyair’ Satu-satunya Profesi yang Dijadikan Nama Surat Alquran

‘Penyair’ Satu-satunya Profesi yang Dijadikan Nama Surat Alquran

Foto: NU Online

Satu Islam, Jakarta – Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama menggelar Silaturahim Kebudayaan di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat 28 Juli 2017.

Sebagaimana diwartakan NU Online, ketua panitia Aizzudin Abdurrahman mengatakan, kegiatan Silaturahim Kebudayaan yang bertema Meneguhkan Kebudayaan Bangsa, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan tanggung jawab yang menjadi fokus bagi Lesbumi.

Aizzudin mengaku bangga kegiatan ini bisa terselenggara karena menurutnya kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari bangsa Indonesia.

“Ini merupakan kebanggaan, ini merupakan bukti nyata kebudayaan tidak terpisahkan dari bangsa ini,” katanya.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, seni adalah sesuatu yang bersifat universal. Mengutip apa yang disampaikan oleh Dzun Nun Al-Misri, ia menerangkan bahwa seni adalah suara kebenaran yang bisa mengantarkan seseorang kepada Tuhan.

Bahkan, menurut Kiai Said, satu-satunya profesi yang dijadikan menjadi sebuah nama surat di dalam Al-Quran adalah penyair atau As-Syu’ara, surat Alquran ke-26.

“Surat yang menggunakan nama profesi itu hanya As-Syu‘ara, para penyair. Yang lain itu tidak ada. Surat anggota DPR, tidak ada itu,” kata Kiai Said.

Menurutnya, di dalam Surat As-Syu’ara itu disebutkan bahwa para penyair itu adalah orang yang memiliki pandangan yang luas, cerdas, kuat, universal, dan seorang yang senang dengan pengembaraan.

“Pengembara para Syu‘ara, para penyair, para seniman itu,” jelasnya.

Lebih jauh, Pengasuh Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah itu menjelaskan bahwa Islam itu bukan hanya soal teologi dan ritual, tetapi juga adalah agama ilmu, kebudayaan, dan peradaban.

“Tetapi Islam juga dinul ilmi was tsaqafah wal adabi wal hadlarah,” tuturnya.

Terkait Kedindonesiaan, kebudayaan sejak dahulu telah menjadi bagian integral dan tidak dapat dipisahkan dari denyut nadi masyarakat Nusantara. Wali Songo, misalnya, menjadikan kebudayaan sebagai medium fundamental diseminasi ajaran Islam yang telah mencirikan ajaran agama dalam bentuknya yang khas.

“Islam yang khas itu yakni Islam Nusantara yang santun, fleksibel dan adaptif dengan perkembangan zaman. Melalui kreasi adilihung wayang, tembang-tembangan, dan alat musik tradisional, Wali Songo berhasil membangun dialog mutualistik antara budaya dan agama,” ungkap Kiai Said.

Kiai Said juga menyinggung propaganda negara Islam. Merujuk pada konsep negara Rasulullah Muhammad SAW, tidak ada negara Islam yang diperintahkan di dalamnya.

“Yang ada adalah negara madinah, yakni negara berkeadaban, berkebudayaan dan melibatkan semua unsur bangsa dari berbagai agama dan suku,” kata Kiai Said.

Dalam forum silaturahim budaya itu, ada kesepakatan bahwa negara seharusnya hadir untuk mengembalikan kebudayaan sebagai identitas nasional melalui beragam affirmative action policy pemerintah. Acara semacam ini menjadi penting untuk mengingatkan kembali bangsa Indonesia dalam merevitalisasi nilai budaya sebagai rancang bangun pondasi negara kesatuan Republik Indonesia

Berbagai acara ditampilkan pada acara ini. Tampak pameran lebih dari 100 keris, Musik Keroncong, pembacaan puisi dan suluk “Sapta Wikrama” dari Lesbumi,  Mocopat dari Sujiwo Tejo, Pencak Silat dari Pagar Nusa, Gholla Barghawaz Kesenian Celempung Sunda Wiwitan.

Acara diakhiri dengan seminar yang diisi Ketua Lesbumi KH Agoes  Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawiran Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, Budayawan KGPH Puger, dan Pemerhati Budaya Harry Tjan Silalahi.

About Abu Nisrina

Check Also

Tradisi Ider-ider, Ungkapan Syukur Jelang Panen Raya Petani Padi Trenggalek

Satu Islam, Trenggalek – Tradisi masyarakat di bumi nusantara pelan-pelan terkikis oleh arus modernisme dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *