Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Menyambut Maghfirah Ramadhan Dengan Tradisi Munggahan

Menyambut Maghfirah Ramadhan Dengan Tradisi Munggahan

munggahan-jawa-barat
Tradisi Munggahan di Jawa Barat

Satu Islam – Munggahan merupakan suatu kegiatan atau tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa Barat sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dimana jenis kegiatan tersebut biasanya berupa makan bersama atau istilah dalam bahasa sunda “botram,” yang biasa di lakukan sambil bertamasya baik di pegunungan, sawah ataupun ke tempat wisata lainnya, baik bersama keluarga besar, sahabat (genk), RT, jamaah pengajian maupun rekan sepekerjaan.

Arti kata munggahan sendiri berasal dari kata “unggah” yang berarti berpindah, kata munggah sendiri mungkin kita sering mendengarnya dari kata munggah haji yang berarti pergi berhaji, atau bisa diartikan lebih jelasnya dengan berpindah tempat baik lahiriyah maupun batinyah dengan maksud batinnya pergi ke tanah suci sedangkan batiniahnya berpindah atau berubahnya sifat jelek menjadi baik atau yang lebih spesifiknya “Mabrur.”

Tradisi munggahan juga ternyata banyak memiliki manfaatnya, selain dari sudah menjadi budaya masyarakat sunda, ternyata bermanfaat pula untuk mempererat tali silaturahmi sambil saling mmaafkan antara sesama agar bisa memulai ibadah puasa dengan hati yang bersih. Selain itu, munggahan juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Alloh SWT atas rejeki yang telah diberikan. Juga sebagi media untuk menunjukan rasa hormat, bahagia serta rasa antusias kita dalam menghadapi datangnya bulan Ramadhan.

Selain dari makan bersama (botram), munggahan juga bisa dilakukan dengan cara pergi ke sumber mata air, seperti sungai, danau, pemandian air panas maupun pantai dengan tujuan untuk beberesih (adus) atau mandi besar serta keramas untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan puasa Ramadhan. Sebagian masyarakat ada pula yang melaksanakan tradisi munggahan ini dengan melakukan kegiatan yang lebih religi seperti berziarah ke makam krabat, para syekh ataupun para wali.

Budaya munggahan ini biasanya dilakukan sekitar seminggu sampai satu hari sebelum memasuki Ramadhan, diisi dengan acara kumpul bersama keluarga untuk makan siang bersama. Bisa dalam bentuk piknik ke tempat wisata tertentu, bisa juga di rumah salah satu kerabat atau tempat lainnya. Intinya, budaya munggahan ini biasanya diisi dengan acara makan-makan.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan dan berpuasa selama sebulan penuh, tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu sebentar bersama sahabat dan keluarga untuk menikmati sajian lezat buatan kerabat atau mungkin buatan kita sendiri.
Dengan demikian, kita selaku generasi muda Jawa Barat (Sunda) harus bisa melestarikan tradisi munggahan ini dengan sebaik mungkin, pasalnya banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari tradisi munggahan ini. Akan tetapi kita juga harus bisa mengiringinya dengan menjalankan puasa Ramadhan kita sesempurna mungkin.

About Abu Nisrina

Check Also

Peraturan adat Suku Maya Masih Diproses Biro Hukum

Satu Islam, Sorong – Peraturan adat tentang kawasan perairan Raja Ampat yang dibahas dalam sidang …