Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Mencari Berkah di Tradisi Kembang Rampe Pernikahan Tionghoa Bangka

Mencari Berkah di Tradisi Kembang Rampe Pernikahan Tionghoa Bangka

Satu Islam, Bangka – Telah ada sejak dahulu, tradisi kembang rampe dalam setiap pernikahan warga Tionghoa di Bangka. Adat ini masih dijalankan untuk mendapatkan keberkahan.

Tradisi kembang rampe merupakan salah satu syarat dalam pernikahan masyarakat Tionghoa di Bangka. Kembang rampe terbuat dari daun pandan, bunga kenanga dan mawar, yang selanjutnya diteteskan dengan sebuah parfum.

Cara membuatnya cukup sederhana. Pandan dipotong halus-halus, sedangkan untuk bunga, kelopaknya dilepas satu-satu. Selanjutnya pandan dan bunga yang dicampur itu diberi wewangian. Biasanya kembang rampe diletakkan di dalam kamar pengantin.

Afung, pembuat kembang rampe, mengatakan, tradisi ini mempunyai makna khusus. Berbagai penafsiran banyak di tengah masyarakat. Menurut dia kembang rampe tersebut harus dihabiskan oleh setiap tamu undangan, agar pasangan yang menikah bisa langgeng.

Ada pula yang mengatakan, katanya, tamu yang mengambil kembang rampe dan disimpan di dalam dompet, jika seorang laki-laki atau perempuan yang masih lajang, maka akan segera menikah.

“Seiring perkembangan zaman, terkadang tradisi kembang rampe tidak digunakan lagi. Tetapi masih banyak yang menggunakan untuk melestarikan warisan budaya lokal masyarakat Tionghoa di Pulau Bangka,” jelasnya.

Dia menambahkan, di Bangka, tradisi masyarakat Tionghoa dalam pernikahan banyak. Bukan hanya kembang rampe. Ada juga yang disebut dengan ciu li atau seserahan sampai perayaan dam cau, hari ketiga setelah menikah.

Menurut keyakinan warga Tionghoa setempat, penggunaan tradisi-tradisi itu tak lain, karena keyakinan tentang tiga fase dalam kehidupan. Kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Pernikahan dianggap sebagai fase penutup satu masa dalam kehidupan manusia, seperti bujang dan dayang. Masa ketika hidup tanpa beban keluarga yang sebenarnya. Masyarakat Tionghoa menganggap seseorang baru menjadi dewasa, setelah menikah.

Maka pernikahan menjadi hal yang sakral, dan perlu diperkuat dengan tradisi-tradisi yang menyimbolkan sebuah perjalanan kehidupan.

Sumber: indochinatown.com

About Abu Nisrina

Check Also

Ritual Tabut Bengkulu Mengenang Kesyahidan Cucu Nabi

Satu Islam, Bengkulu – Warga memadati badan jalan yang menjadi rute arak-arakan “tabut tebuang” atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *