Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Melihat Keistimewaan Kitab Riyadh Al-Shalihin Karya Imam Nawawi

Melihat Keistimewaan Kitab Riyadh Al-Shalihin Karya Imam Nawawi

Kitab Riyadh Al-Shalihin karya Imam Nawawi – Sumber: Republika

 

Satu Islam – Abu Zakaria bin Yahya bin Syaraf an-Nawawy ad-Dimasyqy (631-676 H) atau lebih dikenal dengan nama Imam Nawawi memiliki sejumlah karya yang sangat banyak. Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal dan tersebar di semua kalangan adalah kitab Riyadh al-Shalihin.

Kitab ini memiliki keistimewaan karena terdapat berbagai hadis Nabi Muhammad SAW yang disarikan dari kitab-kitab hadis sahih dari Imam Bukhari, Muslim, Daud, Turmudzi, Nasai, dan lainnya.

Ada dua hal yang menjadi alasannya keistimewaan kitab ini. Pertama, isi kandungannya yang memuat bimbingan yang dapat menata dan menumbuhkan jiwa serta melahirkan satu kekuatan yang besar untuk berhias dengan ibadah yang menjadi tujuan diciptakannya jiwa tersebut dan mengantarnya kepada kebahagiaan dan kebaikan.

Kitab yang berjudul Riyadh al-Shalihin min Kalami al-Mursalin ini dapat menjadi rujukan dan nasihat, permata bagi yang menerima nasihat, pelita bagi orang yang mengambil petunjuk, dan taman orang-orang saleh. Hal inilah yang menjadi sebab untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan ulama sehingga mereka memberikan syarah dan komentar serta mengajarkannya di halaqah-halaqah mereka.

Kitab ini pada umumnya meliputi targhib dan tarhib serta kebutuhan seorang Muslim dalam perkara agama, dunia, dan akhiratnya. Kitab ini adalah kitab tarbiyah (pembinaan) yang baik serta menyentuh aneka ragam aspek kehidupan individual (pribadi) dan sosial kemasyarakatan dengan uslub (cara pemaparan) yang mudah lagi jelas yang dapat dipahami oleh orang khusus dan awam.

Dalam kitab ini, Imam Nawawi mengambil materinya dari kitab-kitab sunah terpercaya, seperti Sahih Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmidziy, Ibnu Majah, dan lain-lainnya. Beliau berjanji tidak memasukkan hadis ke dalam bukunya ini, kecuali hadis-hadis yang sahih.

Walau sebagian ulama menemukan hadis-hadis dalam kitab ini tidak semuanya sahih, tidak bisa kita mungkiri bahwa kitab ini merupakan kitab yang memuat banyak kebaikan, seperti yang juga diungkapkan oleh penulis dalam muqodddimah-nya.

”Saya punya keinginan menghimpun sebuah ringkasan dari hadis-hadis sahih yang mencakup segala apa yang bisa menjadi jalan pemiliknya menuju akhirat, memenuhi adab-adabnya yang batin ataupun yang lahir, merangkum kabar gembira dan ancaman, dan juga menjelaskan berbagai macam adab ahli suluk, seperti hadis-hadis zuhud, latihan-latihan jiwa, pembersihan akhlak, kesucian-kesucian hati dan obat-obatnya, pemeliharaan anggota badan, menghilangkan penyimpangannya, dan lainnya.”

Kalaupun menurut sebagian orang dalam kitab ini terdapat hadis yang lemah, menurut pandangan Nawawi justru sahih.

Alasan kedua, kitab ini menjadi istimewa karena tingginya kedudukan ilmiah yang dimiliki pengarang Riyadh al-Shalihin ini di antara para ulama zamannya karena keluasan ilmu dan dalamnya pemahaman beliau terhadap sunah Rasulullah.

Imam Nawawi dikenal sebagai seorang ulama yang sangat cerdas, ahli fikih, tafsir, dan menguasai ilmu hadis, mulai dari periwayatannya, matannya, ataupun sanad hadis bersangkutan. Banyak pula ulama yang menjulukinya sebagai seorang ulama pembela sunah karena kedalaman ilmunya dalam memahami sebuah hadis. Beliau juga dijuluki Muhyidin yang berarti penghidup agama.

Kitab ini termasuk kitab yang paling banyak tersebar dan dimiliki sehingga kemasyhurannya telah melangit dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan orang-orang khusus dan awam. Bahkan, ia menjadi rujukan serta referensi bagi sejumlah umat dalam mencapai kehidupan orang-orang saleh.

Kitab ini terdiri atas 17 kitab, 265 bab, dan 1897 hadis. Beliau membuka mayoritas babnya dengan menyebut ayat-ayat Alquran yang sesuai dengan pembahasan hadis yang ada, lalu membuat tertib dan bab yang saling berhubungan sehingga kitab ini bisa mengalahkan kitab-kitab yang serupa dengannya.

Seperti diketahui, dalam kitab ini, Imam Nawawi menyusun urutan hadis berdasarkan topik pembahasan yang telah ditentukan berdasarkan pembagian bab per bab, topik per topik. Hadis-hadis Rasulullah dikelompokkan ke dalam bab-bab berdasarkan tema utama, misalnya shalat, zakat, jihad, doa, zikir, keutamaan membaca Alquran, dan sebagainya.

Kitab ini tersusun dari Muqaddimah, kitab al-Muqoddimah, kitab al-Adab, kitab al-Adab at-Tho’am, kitab Adab al-Libas, kitab Adab an-Naum wa al-Idhtija’ [berbaring], kitab as-Salam, kitab Iyadah al-Maridh, kitab Adab as-Safar, kitab al-Fadhoil, kitab al-I’tikaf, kitab al-Haaj, kitab al-Jihad, kitab al-Ilm, kitab hamdillah ta’ala wa syukrihi, kitab Shalaat ‘ala Rasulillah SAW, kitab al-Adzkar, kitab al-Da’wat, kitab al-Umur al-Munha ‘anha, kitab al-Mantsurat wa al-Milh, dan kitab al-Isthighfar. Dan, tiap-tiap bagian memiliki bab-bab berdasarkan tema utama, misalnya shalat, zakat, jihad, doa, Alquran, dan sebagainya.

Sumber: Republika

About Abu Nisrina

Check Also

‘Penyair’ Satu-satunya Profesi yang Dijadikan Nama Surat Alquran

Satu Islam, Jakarta – Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama menggelar Silaturahim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *