Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Jelang Ramadhan, Warga Magelang Gelar Sadranan

Jelang Ramadhan, Warga Magelang Gelar Sadranan

grebeg-brongkos-magelang780x390
Warga berebut gunungan ketupat brongkos dan hasil bumi di Kampung Malangan, Tidar Utara, Kota Magelang, Rabu 27 Mei 2015 – Foto: Kompas

Satu islam, Magelang – Sadranan “Grebeg Ketupat Brongkos“ menjadi sebuah tradisi yang dinantikan segenap warga Kampung Malangan, Kelurahan Tidar Utara, Kecamatan Magelang Selatan, Kabupaten Magelang. Tradisi tahunan ini diselenggarakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Ratusan warga tampak memadati jalan-jalan setapak di kampung yang berada di kaki gunung Tidar itu. Mereka antusias mengikuti serangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia, mulai dari arak-arakan gunungan ketupat dan hasil bumi yang diiringi musik rebana, topeng ayu, dan jathilan serta kesenian tradisional lainnya.

Di akhir kegiatan, sejumlah gunungan ketupat dan hasil bumi diperebutkan warga. Mereka menilai ketika bisa mendapat ketupat serta hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan juga akan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah itu, mereka duduk bersama untuk menyantap makanan brongkos di sepanjang jalan kampung.

Pangandika (53), Ketua Panitia Grebeg Ketupat Brongkos, menjelaskan sadranan sudah menjadi agenda rutin warga Kampung Malangan yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 8 Ruwah atau atau sekitar satu bulan sebelum Ramadhan.

Menurut dia, tradisi ini sangat kental dengan kebersamaan, gotong-royong, kerukunan, dan saling mengasihi antar sesama makhluk Tuhan.

“Grebeg Ketupat Brongkos memiliki makna yang dalam. Ketupat dalam bahasa jawa bermakna ngaku lepat (minta maaf atas kesalahan) dan Brongkos sendiri dikenal sebagai makanan yang erat dengan masyarakat Malangan. Kegiatan ini untuk mengangkat kebudayaan yang mencerminkan persatuan dan gotong royong,“ ujar Pengandika seusai kegiatan, Rabu 27 Mei 2015.

Dia mengatakan, Sadranan yang mengangkat tema Sadranan Brayat Agung ini sudah digelar untuk ketiga kalinya. Sadranan ini sekaligus bentuk penghormatan dan doa pada Kyai Selo Branti, leluhur/pepunden yang dimakamkan di kampung setempat. Kyai Selo Branti diakui sangat menyukai makanan ketupat brongkos, sehingga dihormati dengan bentuk sadranan dan grebeg ini.

“Sebagian warga Malangan yang merantau atau tinggal di Kampung lain pasti menyempatkan diri untuk pulang. Di sini kita bertemu seluruh keluarga untuk silaturahmi dan saling maaf-maafan, sehingga diharapan kita senantiasa dalam keadaaan suci menjalankan ibadah puasa Ramadhan nanti,” ungkap Pangandika.

Pihaknya juga berharap, tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan lokal maupun luar daerah Magelang untuk berkunjung ke Kota Sejuta Bunga ini sehingga dapat menjadi dukungan Pemerintah Daerah setempat dalam rangka menyukseskan program Ayo Ke Magelang.(Kompas)

About Abu Nisrina

Check Also

Peraturan adat Suku Maya Masih Diproses Biro Hukum

Satu Islam, Sorong – Peraturan adat tentang kawasan perairan Raja Ampat yang dibahas dalam sidang …