Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Darwis Kuat Putar Badan Berjam-jam

Darwis Kuat Putar Badan Berjam-jam

tarian-sufi-ilustrasi-_120117205256-250
ilustrasi

Satu Islam, Ponorogo – Whirling dance atau tarian sufi sedang menjadi pembicaraan hangat. Tarian yang penarinya mengenakan jubah warna-warni yang lebar di bagian bawah menyerupai rok itu juga identik dengan Mafia Sholawat dengan guru besar KH Muhammad Ali Shodiqin dan beken dengan sapaan Gus Ali Gondrong.

Seperti apa tarian sufi? Tiga darwis (penari tarian sufi) berlatih di sekretariat Mafia Sholawat Cabang Ponorogo. Tatkla dua darwis perempuan dan seorang darwis laki-laki yang terdiri pemudi dan pemuda mulai menari, alunan sholawat langsung terdengar. Para darwis lebih dulu memanjatkan doa yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, Jalaludin Rumi, Gus Ali, dan kedua orang tua mereka.

Di awal-awal tarian, jempol kaki kanan darwis menginjak jempol kiri. Penari lantas membungkukan badan tanda hormat sambil menyilangkan tangan mencengkeram bahu. Tubuh mereka lantas berputar melawan jarum jam dengan penuh penghayatan. ‘’Menginjak ibu jari kaki itu simbol menekan hawa nafsu dan keduniawian untuk menuju kebenaran,’’ terang Gus Ali.

Menurut dia, gerakan tarian sufi mengisyaratkan merangkul kemanusiaan dengan cinta. Perputaran tubuh tak ubahnya tawaf yang mengibaratkan elektron mengelilingi inti menuju Yang Maha Kuasa. ‘’Gerakan tubuh membawa energi positif, dari kebaikan menutup keburukan,’’ jelasnya.

Ulama asal Semarang ini menyebut seluruh gerakan dalam tarian sufi kaya makna. Ketika memutar dengan tangan kanan menghadap ke atas bermakna mendapatkan hidayah dan tangan kiri ke bawah memiliki makna rasa kepedulian atau menyebar hidayah. ‘’Tarian sufi bukan sekedar gerakan, melainkan bagian dari terapi. Baik terapi mental, hati, akal fikiran serta penyakit fisik. Seorang penari sufi harus memiliki konsentrasi yang tinggi,’’ terangnya.

Gus Ali mulai menularkan tarian sufi sejak setahun terakhir di Ponorogo. Ratusan generasi muda dengan suka rela belajar. Kini sudah tercatat 40 muda-mudi yang sudah menjadi darwis. Mereka mampu selama dua jam melakukan gerakan memutar tanpa henti. Para darwis muda itu juga selalu tampil di setiap pengajian Gus Ali. ‘’Peminatnya banyak, ada sekitar 300 lebih. Tapi yang sudah mulai mahir sekitar 40 penari. Kami sengaja mengajak generasi muda belajar tarian sufi agar mereka tidak mudah terjerumus ke hal-hal negatif,’’ paparnya.

Mubalig yang memiliki tampilan khas rambut gondrong itu menyebut perkembangan tarian sufi di Ponorogo jauh lebih pesat dibanding daerah lain.

Ratusan pemuda langsung tertarik dengan tarian yang dikenalkan Maulana Jalaludin Rumi, seorang sufi asal Turki itu. Dua minggu sekali mereka mereka berlatih di seketariat Mafia Sholawat di Jalan Letjend Suprapto. Namun, Gus Ali mengaki masih kesulitan menyediakan atribut sufi lantaran jubah para darwis langka diperoleh di pasaran. Pun, seorang penjahit harus dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kecil saat menjahit jubah. ‘’Luar biasa, banyak anak muda yang tertarik. Kami berharap ini terus berkembang,’’ katanya.

Seorang penari senior sufi di Ponorogo, Lailatul Mudzallifah menuturkan mulai berlatih sejak Januari 2013. Dia butuh waktu dua bulan untuk menguasai gerakan kendati mengalami kesulitan di awal-awal. Gadis 18 tahun itu sempat mual dan pusing ketika harus berputar lama. Namun, lama-lama Cilla –sapaan Lailatul Mudzallifah– mulai terbiasa. Bahkan, dia mampu menari dengan atau tanpa iringan sholawat selama dua jam lebih. ‘’Gerakan ini bisa dilakukan sambil tidur, dan tubuh pun terasa rileks,’’ akunya.

Dia mengaku tertarik belajar tarian sufi ini karena ingin lebih dekat dengan Allah. Cilla merasa mendapatkan banyak manfaat dari tarian sufi. Selain kecintaannya yang semakin besar kepada Tuhan, dia juga dapat sekalian melakukan terapi. ‘’Kalau mennari sufi saat sakit, badan terasa sehat kembali. Bahkan saat ujian nasional atau Unas lalu, saya juga tetap menari sufi sehingga lebih konsentrasi mengerjakan soal-soal,’’ ujarnya.

Kecintaan terhadap Sufi juga diutarakan Dita Anggreni dan Muarif Khusnul, para darwis junior Cilla. Dita mengaku mencintai tarian ini karena semakin meningkatkan kadar keimanan. Meski baru berusia 15 tahun, Dita kuat menari berjam-jam tanpa istirahat. ‘’Kalau ada pengajian Gus Ali, saya selalu ikut. Pernah seminggu penuh ikut pengajian tanpa merasa lela,’’ kata Dita disambut anggukan Muarif.

About Abu Nisrina

Check Also

Raih Lailatul Qadr di Tradisi Malam Selikuran Keraton Surakarta

Satu Islam, Solo – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab seribu tumpeng pada Kamis 15 …

One comment

  1. ” tarian yang dikenalkan Maulana Jalaludin Rumi, seorang sufi asal Turki itu”

    Maaf, bukannya Rumi itu dari Persia ya? Tapi memang lalu tinggal dan meninggal di Turki

Leave a Reply to Elsa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *