Home / Humaniora / Melacak Tradisi ‘Filsafat Islam Indonesia’

Melacak Tradisi ‘Filsafat Islam Indonesia’

ilustrasi-_120703180755-957Satu Islam, Medan – Islam Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dengan Islam di negara lainnya, karena Indonesia dalam sejarah panjangnya khususnya sebelum Islam masuk terlebih dahulu ‘terbangun’ peradaban Hindu yang memiliki akar kuat dalam diri dan kepribadian bangsa Indonesia, ditambah lagi suatu kenyataan bahwa saat penetrasi Islam ke Indonesia tidak merekonstruksi total terhadap kondisi budaya yang ada dapat menjadi pijakan utama bahwa tradisi filsafat Islam Indonesia memiliki kecenderungan kuat terhadap gnotisme disebabkan kecenderungan Hinduisme.

Sehingga tentunya dalam aspek tradisi filsafat Islam lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang sebagaimana dalam pemetaan ini memang terlalu dini dan sederhana, karena itu dalam tulisan ini hanya sebagai upaya pembacaan awal untuk melacak tradisi filsafat Islam Indonesia dengan kafasitasnya yang sangat terbatas dan tidak membicarakan secara detail menurut ukuran abad tertentu, makanya tidak ditemukan pembahasan yang komprehenshif tentang tradisi tersebut. Tulisan ini dengan segala keterbatasannya akan menggali aspek apa saja yang membentuk kecenderungan dan tokoh-tokoh yang memainkan peran dalam mengembangkan tradisi filsafat Islam khususnya dalam konteks lokal yang telah menyatu dalam ‘aliran darah’ pemikiran Islam di Indonesia secara umum dan dibentuk dengan kuat oleh realitas yang ada dalam diri para pioner tradisi tersebut.

Pemetaan Tradisi ‘filsafat Islam Indonesia’
Menurut penulis perkembangan filsafat Islam Indonesia sangat berkaitan dengan sejarah awal Islam masuk ke Indonesia yang dalam teori umum selalu diperpegangi kuatnya daya tarik dari luar Indonesia sendiri khususnya kawasan India dan Timur Tengah, bahkan menurut studi yang dilakukan Azyurmardi Azra setidaknya ada dua teori, yaitu ‘teori perniagaan’ dan ‘teori sufi’, akan tetapi nampaknya Azra lebih memegangi bahwa ‘teori sufi’lah yang paling dominan dibanding ‘teori perniagaan’ dalam pengembangan Islam di wilayah Nusantara tersebut.

Sedangkan dalam melacak tradisi sufi model apa yang berkembang terjadi perbedaan dikalangan sarjana yang secara global ada yang mengatakan sufi model falsafi warisan Ibn ‘Arabî dan selebihnya mengatakan sufi moderat yang ‘kaya kekuatan’ fikih khususnya pemikiran Al-Ghazali, seperti yang terdapat dalam pemikiran Nuruddin Al-Raniri (w. 1658), Abdurrauf Al-Singkili (w. 1694), Abd al-Shamad Al-Palimbangi (w. 1700), dan lainnya. Dua form tradisi sufi ini selalu saja terjadi perbedaan yang cukup signifikan sebagaimana yang pernah terjadi di kawasan Aceh menurut Al-Raniri sendiri seperti yang dicatat Ahmad Daudi bahwa telah terjadi ‘pertikain seru’ antara golongan yang menganut tradisi ‘sufistik plus filsafat’ Ibn ‘Arabî yang diwakili Al-Fansuri dengan ‘sufistik fikih oriented’ Al-Ghazalî dengan Al-Ranirî telah melibat pemerintah yang berkuasa saat itu.

Dengan demikian melihat gejolak perkembangan pemikiran tersebut dapat diduga ada kemungkinan kalau tradisi tasawuf falsafi inilah generasi pertama ‘filosof Islam Indonesia’ yang lebih didominasi dibanding model tasawuf modern, karena dapat disebutkan diantaranya yang cukup populer adalah Al-Fansuri dan sederetan nama sufi lainnya seperti Al-Sumatrani, Siti Jenar dan Ronggowarsito yang memiliki kecenderungan yang sama dalam pengembangan ajaran tasauf falsafi khususnya ajaran wahdat al-Wujud. Ajaran wahdat al-Wujud sendiri dikembangkan oleh sufi besar Ibn ‘Arabî merupakan pengembangan dari ajaran al-Hululnya Al-Hallaj yang konteks Indonesia ‘sangat kental’ dalam pemikiran Siti Jenar khususnya tentang doktrin “ana al-Haq”, bahkan dari aspek pengaruh doktrin tersebut antara Al-Hallaj dan Siti Jenar mengalami nasib tragis yang sama, yaitu dihukum mati hati oleh kalangan yang tidak sependapat dengan doktrin tersebut khususnya para fukaha’ yang merasa sebagai ‘pengawal umat’.

Fase selanjutnya berbeda dengan generasi pertama nampaknya generasi ini telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran pembaharuan yang diserukan oleh beberapa sarjana khususnya yang perihatin atas keterbelakangan umat Islam kalaulah dapat disebut diwakili oleh angkatan H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Sukarti dan lainnya lebih cenderung aktivitas filsafatnya dipengaruhi oleh kondisi politik penjajah yang terjadi, sehingga konsentrasi para ‘filsuf Islam’ ini lebih banyak mencurahkan konsentrasinya pada aspek perjuangan dengan memunculkan pemikiran yang dapat mempercepat ‘pengusiran’ penjajah dan menggalang kepentingan sosial, seperti pemikiran sosialisme religi yang dikembangkan Agus Salim sangat dekat dengan filsafat sosial Karl Marx. Demikian juga sejumlah sarjana lain masih dalam angkatan generasi kedua sangat terlihat sangat terpengaruhi oleh unsur kepentingan untuk membangkit semangat kehidupan berbangsa yang bebas dari intimadasi penjajahan baik yang menggunakan jargon agama atau menggunakan idiom sosial semuanya memiliki keinginan untuk ‘membidani’ lahirnya filsafat kebebasan.

Kemudian dapat disebut generasi ketiga diwakili M. Rasyidi, karena beliau adalah orang yang pertama mengkonsentrasikan dirinya dalam kajian filsafat Islam menurut jenjang pendidikan, tetapi sayang sejauh yang penulis ketahui tidak ada karyanya dalam bidang filsafat Islam yang ada hanya beberapa saduran dari penulis asing. Selain Rasyidi nampaknya yang cukup memberikan perhatian tinggi terhadap filsafat Islam adalah Ahmad Hanafi, setidaknya karya beliau tentang filsafat Islam yang dapat menjadi kontribusi terhadap kekurangan literatur filsafat Islam yang berbahasa Indonesia. Sedangkan pada tingkat pendidikan formal tingkat doktor masih sejauh pengetahuan penulis yang menjadikan filsafat Islam menjadi kesarjanaannya tercatat ada Amin Abdullah, Komaruddin Hidayat, Mulyadi Kartanegara, dan untuk IAIN-SU sendiri yang menulis disertasinya dalam bidang filsafat Islam ada Hasan Bakti Nasution tentang Mulla Shadra dan Amroeni Darajat menulis tentang Suhrawardi, dan masih banyak sarjana lainnya yang belum terdata penulis semuanya itu mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan kondisi baik generasi pertama atau kedua sebagai bukti bahwa tradisi filsafat Islam telah mendapatkan tempatnya khususnya di lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia.

Penutup

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tradisi filsafat Islam Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan baik dari generasi pertama hingga ketiga yang dapat dipertegas bahwa karakternya, yaitu generasi kecenderungannya gnotistik murni khususnya pemikiran Ibn ‘Arabî, kedua. Kecenderungan filsafatnya lebih ditekankan pada upaya membangkitkan semangat kehidupan berbangsa yang bebas dan merdeka, dan ketiga. Kecenderungan filsafatnya lebih bersifat akademis dengan munculnya sederetan doktor dibidang tersebut.

 

*Ziaulhaq : Sekretaris Pusat Pemikiran dan Pengkajian Islam PPs. IAIN-SU dan Alumni FAI-UISU

 

Sumber : Waspada Online

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Aksi Bersih-bersih Gereja Palajar Islam Purwakarta Jelang Natal

Satu Islam, Purwakarta – Gerakan toleransi yang dilakukan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi tidak hanya terbatas …