Home / Humaniora / Kisah Teladan Pakar Matematika

Kisah Teladan Pakar Matematika

jasa-matematika_2001
Subagyo sejak bulan November 2014 yang lalu mencoba menawarkan jasa yang terbilang unik yakni jasa garap soal matematika. – Foto: Tribun Jogja

Satu Islam, Yogyakarta – Keterbatasan fisik tidak membuat Subagyo, penyedia jasa penggarapan soal matematika lantas malas berusaha. Hanya beralasa sebuah meja, ia biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk melahap soal matematika yang disenanginya itu.

Saat ditemui Tribun Jogja, Rabu malam 21 Januari 2015 di rumahnya, Subagyo menceritakan kisah panjang hidupnya.

Subagyo (60) sejak kecil memang sudah hidup dalam keterbatasan. Ayahnya meninggal ketika ia masih anak-anak, sedang ibunya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Untuk dapat sekolah, awalnya ia dibiayai oleh nenek dan pamannya.

Ia mengenyam pendidikan menengah dasarnya di SMP Negeri 1 Kutoarjo. Saat itu ia tinggal bersama neneknya. Namun karena suatu hal, ia putus sekolah dan memutuskan untuk ke Yogyakarta. Di Yogya, ia tinggal bersama pamannya dan bekerja sebagai perajin perak.

“Dulu apa aja saya lakuin, Mas. Tujuannya cuma satu, supaya saya dapat melanjutkan sekolah,” ungkapnya.

Saat ia bekerja di toko perak itu, ia sempat berkenalan dengan Kepala SMP Muhammadiyyah 7 Yogyakarta. Pada suatu ketika, Subagyo kepada Kepala SMP Muhammadiyyah 7 mengungkapkan ingin melanjutkan sekolahnya. Namun karena usia Subagyo telah menginjak 21 tahun serta memiliki keterbatasan fisik, kepala sekolah itu sempat menolak.

Tetapi karena Subagyo setiap hari gigih dan menunjukkan semangat belajarnya yang tinggi, alhasil kepala sekolah itu luluh. Subagyo pun diizinkan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah itu.

Kesempatan ini ia gunakan sebaik-baiknya. Walaupun di sekolah ia kerap diejek dan dijauhi, Subagyo tidak mempedulikan. Tujuannya di sana untuk sekolah, Subagyo tetap mengesampingkan ejekan dan tetap belajar.

“Pernah suatu ketika mental saya down. Saya bilang ke kepala sekolah kalau saya sering dihina. Tetapi, kepala sekolah bilang ke saya kalau digodhok (direbus) itu ya panas. Tapi nanti kamu bakal menikmati sendiri hasilnya di akhir,” kenangnya.

Dengan berpegang teguh perkataan kepala sekolahnya itu, Subagyo akhirnya lulus dari sekolah itu dengan status nilai tertinggi kedua di sekolah. Setelahnya, ia melanjutkan pendidikan menengah atasnya tanpa kendala dan mengantongi ijazah SMA Negeri 8 Yogyakarta dengan nilai tertinggi.

“Saat SMA juga sama seperti SMP, Mas. Saya ikhlas nggak jajan, yang penting bisa sekolah,” katanya.

Masuk UGM

Setelah lulus SMA, Subagyo mengaku sempat diterima di Jurusan Teknik Sipil – Universitas Islam Indonesia dengan sumbangan termurah. Tetapi karena sehari setelahnya ada pengumuman dari UGM bahwa ia diterima, akhirnya Subagyo memilih kuliah di UGM.

Saat kuliah, Subagyo menjalani segala macam profesi untuk memenuhi kebutuhannya. Dari mulai menjadi wartawan lepas, berdagang bakso, hingga membuka jasa iklan. Semuanya ia jalani sendirian.

Namun karena segala keterbatasannya tersebut, Subagyo memilih tidak melanjutkan kuliah dan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya.

Sampai sekarang, Subagyo masih mempunyai keinginan untuk dapat kuliah lagi. Ketika menyampaikan keinginannya itu kepada Tribun Jogja, mata Subagyo terlihat berair.

“Saya selalu meminjam buku-buku teman saya, baik yang S-2 maupun S-3. Saya bisa mengerjakan kok. Doakan moga bapak bisa kuliah lagi ya,” ujarnya. (tribunjogja.com)

About Abu Nisrina

Check Also

Kegigihan Bocah SD Jualan Jajanan Sampai Tertidur di Trotoar

Satu Islam, Jakarta – Bocah SD itu terlihat lelap tidur sambil duduk di pinggir trotoar. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *