Home / Humaniora / Kesatuan Agama

Kesatuan Agama

http://www.google.com
http://www.google.com/

Oleh Muhammad Anis*

Di tengah permasalahan hubungan antaragama, Timur dan Barat, serta arus modernisme dan tradisionalisme yang menjurus ke arah pertarungan global, kita sebagai warga dunia jelas membutuhkan solusi alternatif. Setidaknya yang mampu menjembatani pertemuan dua kutub yang saling berlawanan tersebut. Kalangan ateis dan agnostik boleh saja menuding agama sebagai biang keladi rusaknya konstruk pikiran dan tata kelola hidup masa kini. Namun, mereka tidak bisa menutup mata akan kontribusi besar agama terhadap peradaban manusia selama ribuan tahun.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah diskursus kesatuan agama (wahdat al-adyan), yang telah sejak lama dikenal di dunia sufisme. Namun, isu ini sepertinya kurang memperoleh perhatian khalayak. Masyarakat umumnya lebih mengenal konsep kesatuan wujud (wahdat al-wujud), di mana pada dasarnya Tuhan, alam, dan manusia adalah satu yang berpusat pada Tuhan sebagai Wujud Absolut (wajib al-wujud). Sedangkan alam dan manusia adalah lokus tajalli (penampakan) dan teofani Tuhan.

Dalam diskursus kesatuan agama, konsep kesatuan wujud tersebut memperoleh manifestasinya; yang kemudian dikaitkan oleh sebagian orang dengan isu pluralisme agama, sebuah topik yang telah melahirkan kontroversi dalam masyarakat. Namun demikian, sebagaimana kata Komaruddin Hidayat, dalam dunia akademis apa yang kontroversial
sesungguhnya merupakan hal yang biasa-biasa saja. Ilmu pengetahuan justru berkembang ketika dihadapkan pada beragam persoalan kontroversial, demi menemukan teori dan pemahaman baru yang lebih mendekati kebenaran.

Sekaitan dengan diskursus kesatuan agama, menurut Media Zainul Bahri, setidaknya terdapat tiga pandangan utama. Pertama, diwakili oleh Abdurahman al-Wakil, yang menuduh bahwa kaum sufi telah tergelincir dari paham yang benar akibat paham mereka tentang kesatuan agama. Menurutnya, kesatuan agama sama dengan menyamakan semua agama. Dengan demikian, kaum sufi telah mencampuradukkan keimanan dengan kekufuran. Oleh karena itu, melalui paham ini, kaum sufi telah tersesat dari ajaran Islam yang benar.

Kedua, salah satu yang mewakili pandangan ini adalah Syed Muhammad Naquib Alatas. Ia menyatakan bahwa kaum sufi sebenarnya tidak memiliki paham kesatuan agama. Umat Islam telah salah dalam memahaminya atau telah terpengaruh oleh kajian para orientalis yang meyakini paham ini. Menurut mereka, kaum sufi tetap mengakui bahwa Islam adalah agama yangsempurna, sedangkan agama lain mengandung cacat dan tidak sempurna. Kaum sufi bukan pluralis yang melakukan reduksi sebagaimana John Hick.

Ketiga, diwakili di antaranya oleh Sayyed Hossein Nasr dan William Chittick, yang menegaskan bahwa kaum sufi memang menganut paham kesatuan agama. Karena, mereka lebih menekankan dimensi esoterik (batin) dan hakikat. Sehingga, kesatuan ini sebenarnya terjadi di wilayah esoterik dan transenden. Sedangkan di wilayah eksoterik, agama-agama memang berbeda—seperti dalam bentuk, doktrin, institusi, dan simbol-simbolnya. Dengan kata lain, secara substansi agama-agama dapat menyatu, meski berbeda secara formal.

Diskursus ini menekankan betapa agama masih tetap relevan untuk terus dibincangkan, baik secara serius atau bahkan sambil lalu. Jika ingin mencermati inti sebuah agama, niscaya kita akan menemukan bahwa di balik itu ada kedamaian yang tersembunyi, keharmonisan, dan kebahagiaan universal.

Selain itu, kompleksitas kehidupan beragama pada masyarakat global membuat diskursus ini tetap relevan. Pada tataran praktis, hal itu dapat mendorong terjadinya kesepahaman yang baik dan hubungan yang harmonis antarpemeluk agama yang berbeda-beda. Khususnya, dalam konteks Indonesia yang majemuk, diskursus kesatuan agama ini tentu amat bermanfaat dalam mengatasi konflik-konflik horisontal atas nama agama.[]

)* Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Kegigihan Bocah SD Jualan Jajanan Sampai Tertidur di Trotoar

Satu Islam, Jakarta – Bocah SD itu terlihat lelap tidur sambil duduk di pinggir trotoar. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *