Home / Humaniora / Humor / Tanggapan Gus Dur Soal Pembubaran HTI (Wawancara Imajiner)

Tanggapan Gus Dur Soal Pembubaran HTI (Wawancara Imajiner)

Zastrouw Ngatawi (kanan) mantan jubir Gus Dur dengan latar belakang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

Satu Islam – Akhir-akhir ini sedang maraknya wacana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sebuah partai yang menolak ikut kontestasi pemilu di NKRI dengan ciri khas mengusung sistem khilafah.

Wacana pembubaran ini menggelitik Zastrouw Ngatawi, yang merupakan mantan jubir Gus Dur untuk membuat wawancara imajiner. Dari dialog imajiner ini terlihat Zastrow mengenal dan memahami sekali sosok sekaligus pemikiran Gus Dur.

Satu Islam mendapati dialog imajiner ini dari sebuah webnews satunusanews.id. Berikut dialog Zaztrow dengan Gus Dur:

“Assalamu Alaikum Gus”

“Waalaikumus salam”

“Sehat Gus?”

“Ya sehat… Kalau gak sehat ya gak bisa nemui kamu”

“Gus Dur sdh dengar soal pembubaran HTI?”

“Ya sudah..”

“Gmn pendapat Gus Dur?”

“Saya ndak setuju”

“Lho.. kok..?!”

“Lha ngapain dibubarin. Ditenggelemin aja”

(Tertawa saya hampir meledak, tapi saya tahan)

“Tapi Gus, sekarang banyak politisi di DPR yg mbela HTI”

“Biarin aja, gitu aja kok repot”

“Maksudnya Gus?”

“Omongannya politisi kan begitu. Makanya saya dulu menyesal bilang DPR itu kayak anak TK”

“Kok menyesal Gus..?!”

“Ya mestinya saya bilang mereka itu kayak anak Paud..”

“Huahahahaa” (kali ini saya benar2 gak bisa nahan tawa saya).

“Kembali soal HTI Gus. Menurut Gus Dur HTI seperti apa sih..”

“Seperti penyamun”

“Haahhh…” (terus terang saya kaget dg statemen itu).

“Kok bisa Gus?!”

“HTI itu Neo Khawarij. Lihat aja tingkahnya. Ke mana2 jualan ayat. Khawarij dulu ya gitu, teriak2 La Hukma illa Lillah. Tapi Sayidina Ali dawuh, itu kalimat yg Haq, tapi dimaksudkan utk sesuatu yg bathil”.

“Bathilnya di mana Gus?”

“Lha orang mecah-belah umat, ngafirkan orang, ngomong thoghat-thoghut Pancasila, itu kan bathil. Indonesia itu dar as-shulkhi, negara damai, kok mau dipecah belah”. Dawuhe Kanjeng Nabi, man faroqol jamaah Summa mata, maitatan jahiliyyah. Bukan mati syahid. Tapi mati sangit”.

“Setelah dibubarkan, mereka sdh mati Gus?”

“Tidak. Mereka tetap hidup. Sayidina Ali ktk mendpt laporan bhw Khawarij sudah bisa dipunahkan, Sayidina Ali ngndiko, “Tidak..! Demi Allah mrk tetap hidup. Mrk ada dlm sulbi-sulbi kaum pria dan rahim- rahim kaum wanita. Namun setiap kali muncul seorang pemimpin di antara mrk, ia akan terpotong, sehingga mrk akhirnya hanya tinggal sebagai penyamun-penyamun”.

“Tadi Gus Dur bilang mrk seperti penyamun, maksud Gus Dur?’

“Lha yang bilang ini bukan saya. Tapi Sayidina Ali. Ah kamu ini wartawan susah nangkep, kayak ustadz2 HTI aja”.

“Maaf, maaf Gus”

“Di mana-mana mereka dilarang. Di negara2 Timur Tengah, di Eropa, di Asia, semua nggak mau ditempati HT. Di Indonesia aja mrk berani teriak2. Kalau di Arab, sudah ditembak kepala mereka. Gitu lho..”

“Njih-njih Gus..”

“Lha mereka Bilang kopar-kapir, thoghat-thoghut, horam-haram sama Pancasila yg merupakan hasil ijtihad para ulama dan tokoh bangsa, tapi mrk menikmati hidup berdemokrasi di negara Pancasila. Enak aja..”

“Ooo.. gitu Gus ya..”

“Lha iya.., negara ini didirikan dg genangan darah dan air mata. Lha mrk pendatang baru. Kok mau ngacau. Ya harus kita lawan. Yang waras gak boleh ngalah”.

“Siap Gus..”

“Ya udah, ini saya sdh capek”. “Zastroooww..Zastrow. Coba dengkulku dipijetin. Kowe iku kerjaane mok ngopa-ngopi tok…”

(Saya lihat al-Zastrow mijeti kaki Gus Dur, dan saya pun pamitan)

 

About Abu Nisrina

Check Also

Membela Tuhan

Aku: Aku akan mulai mencariMu, Tuhan. Tuhan: Heh? Aku: Aku mau meninggalkan semuanya untuk mencariMu. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *