Home / Humaniora / Humor / Impian al-Khattath di Hotel Kempinski

Impian al-Khattath di Hotel Kempinski

Satu Islam – Para khattath itu berbunga-bunga saat dipanggil dari ruang kelas satu per satu. Bagian pengajaran santri membawa kabar gembira. Ujian akhir tahun telah usai dan kini saatnya masa penulisan rapor kenaikan kelas. Mereka-mereka yang kaligrafinya bagus alias para khattath akan dikarantina dan disumpah. Mereka mendapat amanah untuk menuliskan nilai rapor kawan-kawan santri mereka se-pondok pesantren.

Aku termasuk salah satu yang terpilih. Terbayang sudah di benakku berbagai fasilitas yang akan kami dapatkan dari tugas mulia ini. Kami akan dibebaskan dari proses belajar di kelas selama beberapa hari. Itu saja sudah hore. Kami pun akan menginap di tempat khusus dengan dibolehkan mengunakan kamar mandi guru yang sedikit lebih kinclong. Makan-minum dicukupi. Dan tak kalah serunya, kami akan diberi fasilitas sepeda ontel sebagai moda trasportasi keperluan kami.

Betapa indahnya menjadi khattath!

Indahnya dulu tak sebanding dengan kisahku ini. Ustad bagian pengajaran yang bernama Kalimi mengabarkan, kami para khattath yang diberi tugas mulia menuliskan rapor santri secara indah dan amanah itu kini rupanya punya misi lain lagi. Subhanallah, kami diundang dan akan diinapkan di Hotel Kempinski! Kali ini bukan untuk menulis rapor santri, tapi justru melukis kaligrafi di lantai entah berapa yang akan dikonsep sebagai seksi syariah.

Hamid, santri khattath yang berasal dari Kuningan hampir tak percaya. “Kempinski? Ini wow banget. Hadza waw!” teriaknya pakai bahasa Arab. Dia tak dapat membayangkan kalau seni menulis indah akan membawa peruntungannya ke hotel berbintang lima. “Kalau begitu, kita harus berlama-lama dan ekstra hati-hati mengerjakan proyek ini,” usul Hamid. Semua setuju.

Tapi Ustad Kalimi segera menyahut: “Eh, tidak bisa begitu. Satu minggu harus kelar!” Khalas, tidak masalah juga. Kami tetap saja bersyukur. Nikmat Kempinksi mana yang dapat kami dustakan?

Namun Fanizu, seorang khattath yang berasalah dari Buton malah masih termangu: “Kempinski itu apanya Blezinski?” tanyanya lugu. “Hahahaha. Itu hotel mewah ya akhi. Levelnya jauh dah dibanding pondok kita,” jelas Azhar, santri Mampang. “Semua ada dengan fasilitas plus-plus. Pokoknya ini kehormatan bagi kalian-kalian yang rajin berlatih kaligrafi,” jelas Ustad Kalimi.

“Ayo, semua berbenah. Besok kita berangkat dan mulai menginap tanpa DP satu peser pun!”

Dalam perjalanan, kami para khattath mulai membayangkan segala yang indah-indah. Kasur empuk tidak berkepinding, kamar mandi dengan shower lancar tanpa antri, menu yang pasti lebih lezat dan jauh bergizi dibanding menu pesantren, dan fasilitas mewah dan pemandangan indah yang mungkin hanya dapat kami bayangkan.

Dan konon pula, kami akan dibayar jauh di atas standar membuat kaligrafi di masjid-masjid dan mushalla-mushalla yang pernah kami hiasi.

Sampai akhirnya azan subuh berkumandang. “Qum, qum! Bangun, bagun! Subuh, subuh!” Bagian keamanan pondok memukul badanku dengan sajadah. Aku terjaga dan tak percaya melihat sekitar. Tak ada Ustad Kalimi, tak ada Hamid, tiada Azhar dan Fanizu. Aku kembali menutup mata siapa tahu sudah berada di Kempiski dengan uang kontan di tangan dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya.

Qum, qum! Ente syirrir na’am!? Ente mencoba nakal ya?” Dibangunkan subuh malah membandel “Byur!” satu gayung air menimpa mukaku. Ternyata jasadku masih di pondok. Tak ada surga Kempinski. Tak ada pula proyek mewah sebagai seorang khattath. La hawla wala quwwata illa billah!

Ditulis oleh Novriantoni Kahar

Sumber: terasbintang.com

 

About Abu Nisrina

Check Also

Membela Tuhan

Aku: Aku akan mulai mencariMu, Tuhan. Tuhan: Heh? Aku: Aku mau meninggalkan semuanya untuk mencariMu. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *