Home / Humaniora / Aktifitas Pengungsi Syiah di Bulan Puasa

Aktifitas Pengungsi Syiah di Bulan Puasa

10524555_738383032874885_1228594567720396901_n
Dok : Tempo

Satu Islam, Sidoarjo – Bocah-bocah pengungsi Syiah asal Sampang di Rumah Susun Sewa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, menyambut datangnya hari dengan bermain sepak bola. Mereka terlihat gembira menggocek si kulit bundar untuk dimasukkan ke gawang yang terbuat dari batu bata.

Sementara itu, orang tua mereka mulai berkemas untuk berangkat ke tempat kerja. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengupas kelapa milik seorang juragan setempat. Namun tak sedikit pula yang bermalas-malasan di pengungsian. “Kalau bulan puasa seperti ini banyak yang istirahat, hanya sebagian saja yang kerja,” kata salah seorang pengungsi, Bujadin, 41 tahun, Kamis pagi, 10 Juli 2014.

Pengungsi yang bekerja biasanya berangkat pada pukul 08.00 WIB. Pada pukul 12.00 WIB mereka balik ke pengungsian untuk menunaikan salat zuhur. Setelah itu, mereka pergi lagi untuk melanjutkan bekerja hingga pukul 15.00 WIB. “Semula, rata-rata dari kami bekerja sebagai pengupas kulit kelapa,” ujar Bujadin.

Penghasilan dari mengupas kulit kelapa, kata dia, Rp 50-70 ribu per hari. Ada pula yang tugasnya menurukan kelapa dari truk. “Karena bangkrut, banyak bos-bos penjual kelapa yang menutup usahanya. Akhirnya kami bingung cari kerja,” katanya.

Menurut Bujadin, bila tidak bekerja, pengungsi mengisi hari-harinya dengan beribadah. Puasa mereka juga tidak berbeda dengan puasa umat muslim umumnya. Mereka juga mengikuti pengumuman waktu magrib ataupun imsyak dari masjid terdekat. “Kami mengikuti masjid di dekat pengungsian. Tidak ada bedanya dengan masyarakat yang lain,” katanya.

Pada malam hari, para pengungsi menjalankan salat tarawih di aula yang berada di lantai lima rumah susun tersebut. Pengungsi yang tidak kebagian tempat salat biasanya pergi ke masjid terdekat. “Kami salat tarawih 20 rakaat dan witir tiga rakaat,” ujar Bujadin.

Seusai tarawih, para pengungsi melakukan tadarus Al-Quran. Anak-anak diwajibkan ikut dalam tadarus tersebut. “Kegiatan kami hampir sama seperti saat di kampung halaman, Sampang, Madura, dulu,” katanya.

Pengungsi lain, Anwar, mengatakan ingin pulang ke Sampang pada saat Lebaran nanti. Namun ia belum tahu apakah keinginannya tersebut bisa kesampaian. Satu tahun di pengungsian membuatnya rindu kampung halaman. “Sebenarnya ingin pulang, tapi mau bagaimana lagi kalau kondisinya masih belum kondusif. Kami tidak tahu sampai kapan akan di pengungsian terus,” katanya dengan suara pelan.

Menurut Anwar, pengungsi Syiah punya harapan besar pada pemilu presiden kali ini. Anwar berharap siapa pun presiden yang terpilih bisa memulangkan mereka ke Sampang dengan kondisi aman. Harapan itu pula yang mendorong 133 pengungsi berpartisipasi dalam pemilihan 9 Juli lalu. “Semoga pemimpin yang baru nanti bisa memulangkan kami dan melindungi kami,” ucap Anwar.(Tempo)

About Abu Nisrina

Check Also

Aksi Bersih-bersih Gereja Palajar Islam Purwakarta Jelang Natal

Satu Islam, Purwakarta – Gerakan toleransi yang dilakukan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi tidak hanya terbatas …