oleh

Halaqah NU : Budaya Diskusi Benteng Masuknya Ideologi Radikal

1387714296
Foto : NU Online

Satu Islam, Jakarta – Untuk menangkal maraknya gerakan radikal dan meluasnya ideologi transnasional yang menolak Pancasila sebagai asas Negara perlu kiranya generasi muda Ahlussunnah Waljamaah sejak dini diperkenalkan pandangan dan ideologi mereka untuk menjadi bahan kajian dan diskusi.

Mengutip berita dari NU Online, Pernyataaan ini disampaikan oleh Dr Ainur Rofik Al-Amin pada Halaqah Pondok Pesantren : Merespon Gerakan Islam Transnasional di Jombang Jawa Timur, Sabtu 21 Desember 2013.

“Para pemikir dan generasi Islam harusnya mendiskusikan pemikiran mereka secara intensif dan mendalam,” katanya.

Tradisi diskusi ini kemudian bisa menjadi bahan untuk menolak pemikiran kaum puritan secara argumentatif, karenanya ia mengajak umat Islam dan semua kalangan untuk secara terbuka mengkaji pemikiran kelompok ekstrim ini. Menurutnya tradisi tersebut berdasarkan pengalaman dari sejumlah pendiri NU.

“Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal sangat terbuka berdebat dengan sejumlah kalangan yang membawa misi puritanisme di tanah air dan dikonfrontir dengan karya ulama Ahlussunnah Waljamaah”. Terangnya.

Dia menegaskan beberapa oraganisasi yang berbasiskan ideologi transnasional sangat jelas menolak NKRI dan Pancasila serta menganggapnya  sebagai kekafiran.

“Padahal organisasi sosial keagamaan seperti NU telah sangat jelas mendeklarasikan bahwa Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam di tanah air untuk mendirikan negara,” tegasnya.

Sementara itu dalam pembicaraan terpisah pada Halaqoh Nasional II Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) di Ponpes Al Qur’an Al Falah 2, Nagreg, Bandung, Minggu 22 Desembewr 2012, Mahfud MD menilai pintu masuknya ideologi ektrimisme akibat tak kunjung teratasinya secara tuntas kemiskinan di Indonesia.

Mengutip dari kantor berita Suara Merdeka, Mahfud MD menilai kemiskinan menjadi salah satu sumber radikalisasi berbasis agama. Oleh karena itu, menurutnya, NU perlu meningkatkan peran dan partisipasinya di masyarakat agar kemiskinan tidak menjadi pemicu gerakan-gerakan radikal atas nama agama.

“Jadi, keberhasilan para pendiri NU dalam melakukan Islamisasi di Indonesia selama ini harus diteruskan agar Islam tampil dengan wajah bersahabat, bukan semakin garang dan menakutkan.” (ET)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed